Berita Terkini
Daerah

Malik Mahmud: Pentingnya Merajut Kembali Keindahan Aceh Pasca-Tsunami

Pesan Wali Nanggroe di HSN 2024 : Santri Harus Multitalenta

Paduka Yang Mulia Malik Mahmud masih ingat betul saat pertama kali mengunjungi Pantai Cermin Ulee Lheu pada tahun 1974. Saat itu, pantai ini penuh dengan pepohonan rindang, dan para pengunjung menikmati keindahan alam yang memikat. Suasana tenang dan ramai menyatu, menciptakan sebuah tempat yang menjadi kebanggaan bagi warga Kota Bandda Aceh. Namun, bencana tsunami 2004 mengubah wajah Pantai Cermin secara drastis. Ombak raksasa setinggi 42 meter menghantam garis pantainya, menyapu bersih banyak keindahan yang pernah ada. Kini, hanya sebagian kecil dari pesona yang dulu masih tersisa.

Lebih tiga dekade kemudian, dua tahun setelah bencana, pada 2006, Malik Mahmud kembali ke Aceh, menapaki jejak di kawasan Ule Lheu yang juga luluh lantak oleh tsunami. Di sana, ia melihat sebuah wilayah yang pernah ramai kini menjadi sunyi, dengan reruntuhan sebagai saksi dari dahsyatnya tragedi itu. Pembangunan mulai tampak, namun Malik Mahmud merasa ada yang kurang: arah dan visi yang jelas untuk membangun kembali daerah ini sebagai bagian dari masa depan Aceh.

Bagi Malik Mahmud, Ule Lheu memiliki potensi besar yang belum tergali. Pantainya yang indah, pemandangan gugusan Pulau Aceh dan Pulau Weh di depan mata, serta jejak sejarah yang mengakar dalam, membuat kawasan ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Namun, tanpa perencanaan yang baik, potensi itu sulit untuk diwujudkan. Baginya, Ule Lheu hanyalah satu dari sekian banyak tempat di Aceh yang memiliki keindahan alam dan nilai sejarah yang setara dengan destinasi-destinasi wisata di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Di mata Malik Mahmud, keindahan alam Aceh jauh lebih unggul dibandingkan dengan negara-negara yang telah lebih dahulu dikenal sebagai destinasi wisata. Pegunungan, pantai, dan kekayaan alam lainnya menyebar di seluruh wilayah Aceh, menawarkan pemandangan yang tak kalah memukau. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa Aceh masih tertinggal dalam menata objek wisata dan membangun infrastruktur yang memadai.

Sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam, nilai-nilai kebersihan dan keindahan seharusnya menjadi bagian utama dari wajah Aceh. Malik Mahmud melihat bahwa penataan kawasan wisata harus mencerminkan nilai-nilai ini, menciptakan suasana yang bersih dan nyaman bagi para pengunjung. Ule Lheu, misalnya, masih memiliki banyak lahan terbuka yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai fasilitas tanpa merusak keindahan pantai. Baginya, yang dibutuhkan bukanlah pembangunan yang mahal, melainkan penataan yang rapi, teratur, dan sesuai dengan karakter Aceh.

Melihat perkembangan industri pariwisata di Malaysia, Singapura, dan Thailand, Malik Mahmud meyakini bahwa Aceh bisa belajar banyak dari keberhasilan mereka. Negara-negara tersebut telah menunjukkan bagaimana perencanaan yang matang dan eksekusi yang konsisten mampu mengubah wajah pariwisata, menjadikannya salah satu pilar utama ekonomi. Di matanya, Aceh memiliki potensi yang sama, bahkan mungkin lebih besar, jika mampu menerapkan perencanaan yang serupa.

Ia percaya bahwa belum terlambat bagi Aceh untuk merancang kembali masa depannya sebagai destinasi wisata internasional. Dengan bimbingan dan tekad yang kuat, Aceh dapat mengubah keterpurukan pasca-bencana menjadi peluang.

Malik Mahmud selalu memandang Aceh dengan optimisme. Bencana mungkin telah mengubah banyak hal, tetapi ia yakin, semangat untuk bangkit selalu ada di hati rakyat Aceh. Baginya, membangun kembali Aceh adalah soal merajut keindahan lama dengan visi yang baru, menjadikannya tempat yang indah bagi semua orang yang ingin mengenal sejarah dan pesona Tanah Rencong.[]