Acehjurnal.com – Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haythar, menjadi pembicara kunci dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-10 di Vladivostok, Rusia, pada 3–6 September 2025. Forum tahunan yang digelar sejak 2015 ini menjadi ajang strategis Rusia untuk menarik investasi asing ke kawasan Timur Jauh.
Dalam sesi diskusi bertajuk “The Greater Eurasian Partnership: New Paradigms for the Continent’s Development” tanggal 4 September, Malik Mahmud menyampaikan pesan solidaritas bagi korban gempa dan tsunami di Kamchatka. “Rakyat Aceh turut merasakan duka ini, karena kami juga pernah mengalami tsunami besar pada 2004. Kami berdiri dalam solidaritas bersama Anda,” ujarnya di hadapan delegasi lebih dari 70 negara.
Malik Mahmud menekankan posisi strategis Aceh sebagai pintu gerbang barat Indonesia yang telah menjadi simpul perdagangan global selama berabad-abad. “Sebagai bagian dari Indonesia yang damai dan dinamis, Aceh tetap menjadi wilayah dengan potensi besar untuk kerja sama internasional,” katanya.
Menurut Kabag Kerjasama dan Humas Wali Nanggroe, Zulfikar Idris, Malik Mahmud didampingi Staf Khusus Dr. Muhammad Raviq, Khatibul Wali Abdullah Hasbullah, serta pejabat struktural Khatibul Wali, Ema Yanti. Kehadiran delegasi Aceh ini menunjukkan keseriusan dalam menjajaki peluang investasi global.
Lima sektor utama ditawarkan untuk investasi di Aceh. Pertama, sektor pertanian dengan komoditas unggulan Kopi Arabika Gayo yang telah mendapat pengakuan internasional dan dilindungi Indikasi Geografis. Selain kopi, Aceh juga memproduksi kakao, kelapa sawit, padi, kelapa, dan berbagai buah tropis.
Kedua, sektor peternakan dan perikanan. Padang penggembalaan yang luas mendukung pengembangan sapi dan kambing, sementara garis pantai 1.600 kilometer memberikan potensi besar perikanan dan akuakultur. Produk seperti tuna, udang, dan rumput laut telah menembus pasar global.
Ketiga, keanekaragaman hayati dengan hutan hujan tropis Leuser—salah satu yang terakhir di Asia Tenggara—yang menjadi habitat gajah, harimau, orangutan, dan badak Sumatra. Potensi ini dapat dikembangkan melalui konservasi, ekowisata, dan riset ilmiah.
Keempat, energi dan sumber daya alam. Aceh memiliki cadangan minyak dan gas alam, termasuk Lapangan Gas Arun, serta mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga air, panas bumi, dan surya.
Kelima, pariwisata dan budaya dengan pantai perawan, terumbu karang, pegunungan, serta warisan budaya Islam seperti Tari Saman yang diakui UNESCO. Kuliner khas seperti mi Aceh dan kopi Gayo telah dikenal secara internasional.
Malik Mahmud juga menyoroti transformasi Aceh dari daerah konflik menjadi wilayah damai. “Sekarang Aceh merengkuh perdamaian, memperkuat tata kelola demokratis, dan membuka pintu kerja sama internasional,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman Aceh dalam membangun perdamaian dan ketangguhan memiliki kemiripan dengan upaya pembangunan di Timur Jauh Rusia, menciptakan peluang kolaborasi yang saling menguntungkan antara kedua wilayah.
Sumber: Kantor Berita Wali Nanggroe Aceh



