Berita Terkini
Daerah

Sorot Kemiskinan dan Malu Berbahasa Aceh, Apa Karya : Sikrak Meurumpok Tuleung, Tuwoe Keunong Glueng Saboh Masa

Sorot Kemiskinan dan Malu Berbahasa Aceh, Apa Karya : Sikrak Meurumpok Tuleung, Tuwoe Keunong Glueng Saboh Masa

PIDIE | ACEHJURNAL.COM – Wajah tokoh eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Zakaria Saman ini tiba-tiba terdiam. Suasana hening pun terlihat beberapa saat. Dengan suara berat, sapaan akrab Apa Karya ini mengaku sedih dan kecewa melihat kondisi Aceh yang masuk kategori provinsi termiskin di Indonesia. Padahal, dana otonomi khusus (otsus) setiap tahunnya banyak digelontorkan oleh pemerintah pusat untuk Aceh tak membuat semakin maju.

Kondisi makin parah disaat elemen Aceh sudah tidak kompak dan bersatu lagi. Sehingga dipastikan akan semakin dipermudah diobok-obok oleh pihak lain. Apa Karya berharap, Aceh kedepannya butuh sosok pemimpin yang adil dan mampu mempersatukan segala elemen. Ia mencontohkan, jatidiri orang Aceh yang terkenal kompak perlahan-lahan sudah mulai hilang akibat tergiurnya faktor material.

“Siuroe ditoh ujeuen tuwoe khueng saboh masa. Sikrak meurumpok tuleung, tuwoe keunong glueng yoh saboh masa (sehari turunnya hujan, lupa kemarau suatu masa. Sepotong dapat tulang, lupa kena tendang masa dulu),” ucap Apa Karya pada akhir Mei 2024 lalu saat beraudiensi bersama AcehJurnal.com dan Sagoe TV.

BACA JUGA : Gagal Maju Cagub Jalur Independen, Apa Karya : Cok UUPA Sipak Lam Pageu Keudeh

Sementara ketika ditanyai generasi millennial yang sudah malu berbicara bahasa Aceh, Apa Karya juga mengaku miris. Padahal, cita-cita dan perjuangan sang deklator GAM, Allahyarham Tgk Hasan Tiro tentang hilangnya identitas sudah terbukti. Faktanya, dirinya saat ini melihat dan mendengar langsung anak-anak Aceh sudah malu berbicara Bahasa Aceh. Sebaliknya, justru timbul kecenderungan untuk menggunakan Bahasa Indonesia dalam keluarga. Meski hal itu tidak dilarang, namun ini akan berpotensi menghilangkan kesempatan kepada generasi muda untuk mempelajari bahasa ibu mereka secara alamiah semakin berkurang.

“Bak takalon aneuk miet lawetnyoe ka meuklido lidah. Mata ngoen geulinyueng kudeungoe langsong. Watee kujak u Tangse tadeungoe aneuk miet peugah haba “alahai batee mon nyoe glue that”. Nyan pah pham tatampa sigoe (Waktu kita lihat anak-anak saat ini sudah seperti keseleo lidah. Mata dan telinga saya dengar langsung. Waktu saya ke Tangse mendengar anak kecil bilang “aduh batu sumur ini licin sekali”. Maunya kita tampar),” ucap Apa Karya. []