Bener Meriah — Langit di atas Simpang Tiga Redelong, Kabupaten Bener Meriah, meredup perlahan. Awan mendung bergelayut rendah saat jarum jam menunjuk angka 14.35 WIB. Di tengah keheningan siang yang berangin itu, ketukan kayu berirama ritmis memecah kesunyian.
Tuk… tuk… tuk…
Suara benturan palu pada paku yang menembus balok kayu terdengar begitu konstan. Di sana, di bagian depan sebuah rumah warga yang sedang direhab, seorang pria berambut gondrong yang mulai dihiasi uban tampak mandi keringat. Jemarinya yang kasar dan kekar dengan cekatan merapikan posisi balok yang akan menjadi pondasi teras.
Saat disapa, pria itu menghentikan ayunan palunya sejenak. Ia menyapu keringat di dahi, lalu menyibak rambut gondrong berubannya dengan senyum ramah yang sangat bersahaja.
“Maaf Bang, saya masih kerja bantu rehab rumah orang. Kita ngobrol sebentar lagi. Gak lama lagi,” ucapnya santai.
Pria sederhana yang bekerja mengadu nasib dengan serabutan itu bernama Teungku Junaidi. Namun, di dalam lembar sejarah konflik bersenjata di Tanah Gayo, nama itu lenyap digantikan oleh nama legendaris yang pernah disegani di belantara hutan Aceh, yakni Pang Genancing.
Siapa sangka, tangan yang kini memegang palu dan paku kayu itu dahulunya adalah tangan yang memanggul senjata, memimpin pasukan gerilya, dan menjaga nyawa para pimpinan tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Kembali ke masa-masa perang berdarah di Aceh, Pang Genancing bukan sekadar kombatan biasa. Menurut kesaksian Fauzan Azima, mantan Panglima GAM Wilayah Linge, Pang Genancing adalah komandan pasukan elit GAM Wilayah Linge/Gayo Lues. Ia dikenal gagah berani, taktis, dan memiliki ketahanan fisik yang luar biasa.
Salah satu jejak heroismenya yang paling kelam sekaligus mengharukan terjadi pada medio November 2004 menjadi masa-masa sulit menjelang akhir konflik. Saat itu, Pang Genancing memimpin pasukan gabungan menembus batas wilayah hingga ke Tanah Karo, mulai dari kawasan Bukit Lawang, Bahorok, Sumatra Utara. Mereka harus bergerilya di bawah kepungan ketat aparat keamanan dan medan terjal yang tak ramah.
Di lembah Mardinding, kontak tembak sengit pecah. Pang Gegur, sahabat sekaligus anggotanya yang paling setia, gugur tertembak. Di tengah belantara asing, didera duka yang mendalam dan bayang-bayang kejaran musuh, Pang Genancing menggali tanah dengan tangannya sendiri untuk menguburkan sang sahabat yang syahid.

Namun, ketangguhan Pang Genancing di medan tempur bertolak belakang dengan kelembutan jiwanya. Pria gagah berani ini dianugerahi karunia suara yang sangat merdu.
Di tengah lebatnya hutan rimba Samarkilang dan dinginnya kaki Gunung Burni Telong, suara merdu Pang Genancing kerap memecah ketakutan. Saat subuh menyingsing atau malam pekat merayap, suaranya mengumandangkan azan dan memimpin shalat berjamaah bagi para gerilyawan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an serta bait-bait lagu perjuangan Gayo yang ia nyanyikan menjadi ‘penawar jiwa’ mengobati rasa lapar, cemas, dan dahaga para kombatan yang hidup di ambang batas kematian.
Ia juga dikenal sebagai penyelamat. Ketika rombongan pasukan GAM Gayo Lues keracunan asap pembakaran kayu medang gatal hingga berhalusinasi dan sekarat di tengah hutan, Pang Genancing bersama 12 pasukannya menembus bahaya membawa obat-obatan dan vitamin penambah darah untuk menyembuhkan kawan-kawannya.
*** Penjaga Nyawa Mualem yang Memilih Tetap Rendah Hati
Jejak perjuangan Pang Genancing juga tercatat erat dengan sosok H. Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, Gubernur Aceh saat ini, yang dahulu merupakan Panglima GAM. Ketika Mualem dan pasukan bergerilya dan bersembunyi di kaki Gunung Burni Telong hingga Samarkilang, Pang Genancing-lah yang ditunjuk sebagai komandan lapangan yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan sang Panglima.
Kini, dua dekade setelah MoU Helsinki ditandatangani di Finlandia dan sayap militer GAM dibubarkan, jalan hidup mereka berdua melangkah ke arah yang berbeda.
Banyak rekan seperjuangannya terjun ke panggung politik, menduduki kursi kekuasaan, atau memegang jabatan di struktur organisasi KPA/PA. Namun, Pang Genancing secara sadar memilih menepi. Ia tidak tertarik pada jabatan, kekuasaan, ataupun fasilitas politik.
Ia memilih kembali ke tengah masyarakat biasa sebagai rakyat jelata. Untuk menyambung hidup, ia berkebun, menjual kopi, atau menjadi buruh bangunan serabutan.
“Kadang-kadang apa aja. Jadi buruh bangunan dan berkebun. Kerja apa saja asalkan halal dan tenang,” tuturnya lirih namun tegas.
Pang Genancing menolak untuk meminta-minta atau berharap iba kepada pemerintah, meskipun pintu hubungan baiknya dengan Mualem tidak pernah tertutup. Jika sesekali berkunjung ke Banda Aceh, ia menyempatkan diri menemui Mualem. Namun bukan untuk menyodorkan proposal atau meminta proyek, melainkan sekadar bersilaturahmi.
“Saya hanya mendoakan semoga beliau selalu dalam keadaan sehat walafiat dan mampu menjalankan amanah sebagai orang nomor satu di Aceh,” ucapnya tulus.
Pang Genancing adalah cermin dari jiwa prajurit sejati yang gagah berani di medan perang saat membela keyakinannya, namun sangat tahu diri dan rendah hati saat kedamaian telah menggantikan dentuman senjata.
Baginya, perdamaian Aceh tidak dirayakan dengan memburu jabatan atau menagih jasa masa lalu, melainkan dengan merawat ketenangan jiwa, memeras keringat secara halal, dan mengabdi pada masyarakat meski itu hanya lewat sebatang balok kayu dan beberapa biji paku.
Matahari mulai sedikit bergeser di Simpang Tiga Redelong. Pang Genancing kembali meraih palunya. Suara tuk… tuk… tuk… kembali berbunyi, beradu dengan desir angin Bener Meriah.
“Udah mau Ashar. Izin bang saya mau pulang dan mandi dulu untuk bersiap-siap ke Masjid,” ucap Pang Genancing menutup obrolan. (***)





