BENER MERIAH — Pagi masih enggan sepenuhnya beranjak di dataran tinggi Gayo, Selasa (13/10/2026). Jam dinding baru menunjukkan pukul 08.20 WIB, namun hawa dingin masih menusuk hingga ke tulang. Di kejauhan, kemegahan Gunung Berapi Burni Telong masih enggan menampakkan diri, tersembunyi rapat di balik selimut kabut tebal yang memeluk perbukitan.
Di sebuah kilang tepat di bawah kaki Burni Telong, langkah kaki Aldo memecah kesunyian pagi. Tangan jemarinya yang terampil sibuk merapikan lembaran terpal plastik. Tempat inilah yang menjadi panggung utamanya saban hari—melapangkan jalan bagi biji-biji kopi Arabika Gayo terbaik untuk menyerap kehangatan matahari.
“Hari ini Alhamdulillah udah mulai cerah. Semoga saja tidak hujan seperti dua hari kemarin,” gumam Aldo pelan, sembari menatap langit yang mulai merekah.
Bagi pemuda asal Samarkilang, Bener Meriah ini, aroma kopi dan hawa dingin Gayo bukanlah hal baru. Ia telah mendedikasikan hidupnya sebagai pemetik sekaligus penjemur kopi sejak berumur 15 tahun. Keringat dan ketelatenannya sudah menyatu dengan seluk-beluk pengolahan emas hitam khas tanah kelahirannya.

Sambil memegang pengayik—alat pengaduk kayu tradisional—Aldo berjalan perlahan menyusuri hamparan terpal. Dengan ritme yang teratur, ia meratakan dan mengaduk biji-biji kopi arabica khas Tanoh Gayo yang mulai mongering. Ia memastikan setiap bulirnya mendapatkan paparan sinar matahari yang merata. Tak sendiri, dua rekannya setia bahu-membahu merapikan jemuran kopi yang membentang luas.

Meski jemarinya lincah bekerja, ada guratan cemas tipis di balik senyumnya. Aldo menuturkan bahwa hasil panen kopi tahun ini terasa sedikit berkurang jika dibandingkan dengan tahun lalu yang melimpah ruah.
“Bulan November nanti memang puncak panen kopi serentak. Tapi rasanya tidak bakal sebanyak tahun lalu. Insya Allah tahun depan baru panen melimpah lagi,” ungkapnya jujur.
Kendati musim panen kali ini tak sepadat biasanya, asa tak pernah surut dari dada Aldo. Di balik bulir-bulir biji kopi Arabika yang ia aduk setiap pagi, ada doa sederhana seorang anak bangsa yang menggantung tinggi.
Ia berharap, berapa pun hasil panen yang didapat, Rezeki dari bumi Gayo ini tetap membawa berkah—cukup untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga, serta memastikan asap di dapur rumahnya di Samarkilang terus mengepul hangat. (***)





