Berita Terkini
Daerah

Kembali Sidak RSUDZA, DPRA dan Sekda Aceh Temukan Banyak Dokter Tak Masuk

Kembali Sidak RSUDZA, DPRA dan Sekda Aceh Temukan Banyak Dokter Tak Masuk

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Komisi V DPR Aceh kembali melakukan sidak untuk yang kesekian kalinya, pada Kamis, 8 Juni 2023, yg langsung di pimpin oleh M Rizal Falevi Kirani selaku Ketua Komisi V DPRA, yg didampingi oleh Wakil Ketua Komisi V, Irpannusir, SE, S.Ag, M.Ikom  serta anggota komisi V yaitu Tarmizi, SP, Muslim Syamsuddin,  Edi Kamal dan Zaini Bakri.

Ketua Komisi V DPRA, M Riza Fahlevi Kirani mengatakan, sidak yang dilakukan kali ini agak berbeda. Pasalnya, pihaknya juga mengajak Sekretaris Daerah Bustami selaku Pembina kepegawaian tertinggi di Aceh.  Turut  didampingi oleh auditor internal Pemerintah Aceh  yaitu Inspektur Aceh, Jamaludin SE. Ak, Kepala Bappeda Aceh, serta Plt. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aceh.

Hal ini memang harus langsung kita sertakan untuk menguji kebenaran terhadap temuan pada permasalahan berdasarkan hasil sidak Komisi V DPRA,

“Ini dapat dikatakan ini adalah sidak yang luar biasa ” kata Ketua Komisi V DPRA, M Rizal Falevi Kirani usai sidak , Kamis (7/6/2023).

Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) inspeksi mendadak (sidak) ke Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Umum Dr Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Senin (5/6/2023). Dalam sidak itu, turut dihadiri langsung Ketua DPR Aceh Saiful Bahri alias Pon Yaya, Ketua Komisi V DPRA M Riza Fahlevi dan sejumlah anggota Komisi V DPR Aceh. Turut didampingi Dir RSUZA dr Isra Firmansyah.

Dalam sidak itu, anggota DPRA menemukan beberapa permasalahan pelayanan dan fasilitas yang belum mendapat penanganan serius dari Pemerintah Aceh.

“Ini akan menjadi atensi khusus dari kita dan kita akan meminta Pemerintah Aceh untuk memberikan perhatian khusus kepada RS Zainal Abidin karena ini ‘kan menjadi rujukan 23 kabupaten/kota,” ujar Ketua Komisi V DPR Aceh, M Rizal Falevi Kirani di sela-sela sidak tersebut.

Fahlevi menyebutkan, beberapa temuan tersebut nyaris serupa dengan sidak yang dilakukan sebelumnya. Ia merincikan, mulai jumlah antrian pengambilan obat pasien masih membludak, plafon rumah sakit yang rusak dan lembab, hingga pendingin ruangan di beberapa kamar khusus pasien BPJS Kesehatan yang dianggap belum optimal.

“Ada banyak temuan yang sebenarnya 4-5 bulan lalu juga menjadi temuan. Sebenarnya kami sangat kecewa dengan temuan-temuan itu dan jauh sebelumnya sudah kita ingatkan, seperti AC yang jauh-jauh hari sudah kita ingatkan,” tegas M Rizal Falevi Kirani.

Pantauan ACEHJURNAL.COM, rombongan komisi V bersama pemerintah Aceh, tiba sekitar Pukul 10.30 WIB. Mereka langsung melakukan blusukan ke sejumlah area rumah sakit yaitu ke ruang layanan dan poliklinik.

Dalam kunjungan ke rumah sakit provinsi itu, Sekda Aceh  bersama Komisi V DPRA mengecek langsung pelayanan dari para dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Selain itu, Sekda juga memeriksa kualitas sarana dan prasarana yang ada di rumah sakit.

Dalam kesempatan itu, Bustami menegaskan, pelayanan kesehatan yang nyaman dan berkualitas harus dihadirkan untuk masyarakat Aceh yang berobat jalan maupun rawat inap di RSUDZA. Pemerintah Aceh, kata dia, akan mendukung peningkatan kualitas pelayanan agar lebih baik.

Selain itu mereka juga masuk ke ruang farmasi, ruang bedah, ruang rawat inap dan tempat Pendaftaran pasien. Di bagian poli mereka mendapati sejumlah pasien ramai mengantri.  Tidak hanya di poli di ruang farmasi juga terlihat  pasien antri berlama-lama. Terkait dengan kondisi tersebut, rombongan langsung menanyakan kepada petugas yang berada di lokasi. Diketahui, di beberapa poli tidak ada dokter piket.

Hal ini disebabkan karena dokter yang bertugas tidak memiliki jadwal jelas, sehingga menyebabkan pasien  terpaksa lama mengantri. Di bagian farmasi, terjadi antrian disebabkan petugas piket hanya tersisa orang dari enam loket.

Kepada wartawan M. Rizal Falevi mengatakan pelayanan RSUZA tersebut masih buruk. Akibatnya banyak pasien tidak mendapatkan pelayanan medis yang optimal.

Fahlevi Kirani berharap, pihak manajemen RSUDZA harus memiliki skema teratur perihal jadwal piket dokter jaga. Jangan sampai kosong sehingga pasien tidak hanya menunggu dan dapat terlayani dengan baik.

Selain pelayanan, sambungnya dalam perjalanan sidak ke Poliklinik Ortopedi, Metabolik dan Diabetes, ruang rawat inap, Endokrinologi, pihaknya menemukan beberapa fasilitas rumah sakit yang tidak memadai seperti AC yang kurang optimal dan dua lift yang rusak.

Bahkan katanya juga mendapati antrian yang membludak di ruang pendaftaran pasien. Beberapa pasien lansia terlihat tertidur di ranjang rumah sakit di pinggir-pinggir ruang pendaftaran.

“Hari ini terlihat antrian yang panjang karena dokternya tidak ada. Kita harap betul-betul diperbaiki kedepannya. Secara fasilitas, pelayanannya dan manajemennya. Kita bukan marah pada orang. Tapi supaya kedepannya lebih baik,” ujar Fahlevi Kirani lagi.

Menurutnya, rumah sakit Zainoel Abidin adalah rumah sakit rujukan 23 kabupaten/kota di Aceh. Hal ini membuatnya berharap agar masyarakat benar-benar dilayani oleh subspesialis, karena subspesialis adanya di rumah sakit kabupaten/kota jadi lebih spesifik penanganan medisnya di RSUZA.

Ketua Komisi V DPR Aceh, M Rizal Falevi Kirani, mengharapkan adanya perbaikan dari manajemen RSUDZA terhadap pelayanan rumah sakit. Dalam pantauan pihaknya itu, Falevi mengaku mendapati sejumlah masalah, seperti tidak hadirnya dokter piket.

“Jadi kenapa antrean menumpuk, ya karena tidak ada dokter,” kata Falevi kepada awak media di sela−sela inspeksi mendadak tersebut.

Ketua Komisi V DPRA itu berharap dengan hadirnya Sekda Bustami beserta Ketua Inspektorat di dalam sidak tersebut dapat membuktikan bahwa pihaknya serius dalam membenahi manajemen di RSUDZA.

Dia mengaku sidak yang dilakukan bersama Komisi V DPRA tersebut juga dalam rangka mencari solusi agar rumah sakit dapat melayani masyarakat dengan baik.

Terkait hal ini, Direktur RSUZA dr. Isra Firmansyah, turut mengapresiasi sidak yang kembali dilakukan di rumah sakit tersebut. Menurutnya dengan kegiatan yang berkali−kali tersebut merupakan wujud keseriusan DPRA dalam memperbaiki manajemen di rumah sakit.

“Artinya menunjukkan keseriusan pemerintah dan dewan yang terhormat untuk memperbaiki pelayanan di rumah sakit ini, sehingga masukan−masukan ini menjadi bahan pelajaran bagi kami di direksi dan manajemen untuk memperbaiki,” kata dr. Isra Firmansyah.

Meskipun demikian, dia mengaku beberapa masukan yang disampaikan oleh DPRA tidak dapat dilakukan dalam waktu cepat, terutama terkait anggaran atau perbaikan fisik fasilitas rumah sakit. Sementara terkait sumber daya manusia, dr. Isra mengakui ada yang kurang meskipun masih mencukupi dengan adanya penambahan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Selain itu, dr. Isra mengaku bahwa RSUZA memiliki dua institusi yang tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien.

“Juga mendidik, dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan bertugas mendidik,” ujar dr. Isra.

Suasana sidak yang dilakukan Komisi V DPRA dengan Sekda Aceh. Dok Humas DPRA
Suasana sidak yang dilakukan Komisi V DPRA dengan Sekda Aceh. Dok Humas DPRA

Dia menduga saat sidak dilakukan, terdapat beberapa dokter piket yang sedang dalam tugas mengajar atau melakukan operasi. “Mereka tidak hanya mengajar di rumah sakit, tetapi juga mengajar di Fakultas Kedokteran (FK) USK. Jadi inilah yang harus kita buat sinkron,” tambah dr Isra.

Selaku Manajemen RSUZA, dr Isra mengaku akan melakukan pembenahan atas masukan−masukan dari sidak tersebut termasuk akan mencari solusi bagaimana mengatur kembali jadwal piket bagi dokter−dokter spesialis itu. “Kita coba mengatur schedule yang baik, kalaupun tidak ada di BJP utamanya, itu akan digantikan oleh spesialistik yang sama sebagai back−up,” pungkas dr Isra. []