Soal Hukum Kebiri Bagi Predator Anak, Ketua DPRA : Kita Akan Bahas Bersama Komisi V

Banda Aceh | AcehJurnal.com – Ketua DPRA, Dahlan Jamaluddin mengaku akan duduk bersama Komisi V untuk membahas kembali soal hukuman kebiri bagi predator seksual di Aceh. Hal ini disampaikan Dahlan menyikapi langkah presiden Jokowi yang mendandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual Anak.

“Dalam waktu dekat ini, kita akan bahas dulu bersama Komisi V DPRA,” kata Ketua DPRA, Dahlan Jamaluddin kepada AcehJurnal.com pada Senin (4/1/2021).

Soal Hukum Kebiri Kimia bagi Predator Aceh, Lem Faisal : MPU Aceh dan Dokter Tidak Sepakat

Dahlan mengatakan, pihak legistatif sangat mendukung langkah pemerintah dalam menimalisir tingkat kekerasan seksual terhadap perempuan dan Aceh. Konon lagi, tingkat eskalasi kekerasan terhadap perempuan dan anak semakin meningkat di Aceh. Sehingga perlu adanya regulasi yang dapat menekan tingginya angka kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Salah satunya dengan memberikan sanksi berat agar berefek jera terhadap pelaku. Belum lagi beberapa media asing i

Advertisement

kut menyorot soal kasus pedofilia yang  terus meningkat di Aceh.

“Mengenai mekanismenya, kita akan bahas guna mencari solusi alternatif,” ujar legislator Partai Aceh tersebut.

Hal senada juga disampaikan Ketua Komisi V DPRA, M. Rizal Fahlevi Kirani. DPRA akan mencari solusi alternatif lainnya untuk memberikan sanksi tegas terhadap pelaku.

“Jika hukum kebiri sebagaimana diatur dalam PP Nomor 70 tahun 2020 tidak menimbulkan efek jera, maka itu tidak efektif,” kata M. Rizal Fahlevi Kirani.

Fahlevi menjelaskan, penerapan sanksi tegas terhadap pelaku pedofilia di Aceh harus berupa hukuman berat. Apalagi provinsi Aceh memiliki kebijakan yang mengutamakan kekhususan Aceh. Selain dikenakan sanksi cambuk, tambahnya lagi, pelaku juga akan dikenakan pasal berlapis. Jikapun soal kebiri kimia secara medis tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku, maka pemerintah Aceh harus menggantikannya dengan hukuman berat lainnya.

“Yang harus digarisbawahi adalah dapat memberikan efek jera bagi pelaku. Sehingga ke depannya menjadi contoh bagi pelaku pedofilia-pedofilia lainnya yang ingin merencakan perbuatan jahat ini,” pungkasnya. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT