Pertempuran Manzikert 1071, Peristiwa yang Mengubah Sejarah Turki dan Dunia Islam

Jelang Milad GAM, Ableh Kandang : Kita Patuh Instruksi Mualem

LHOKSEUMAWE | ACEHJURNAL.COM - Menjelang peringatan Milad GAM pada 4 Desember besok, Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Kuta Pase akan menggelar serangkaian kegiatan. Ketua...

Jelang Milad GAM, Kapolres Pidie Sambangi Kombatan di Pedalaman Pidie

SIGLI | ACEHJURNAL.COM - Menjelang peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 2020 besok, jajaran Polres Pidie menyisir kawasan pedalaman. Kali ini...

Kuras Harta Majikan Rp 61,4 Juta Lebih, Seorang Pembantu Diringkus Polisi di Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Pencurian berkedok pembantu rumah tangga kembali meresahkan warga kota Banda Aceh. Tak tanggung-tanggung, harta korban majikannya bernama Teuku Andryansyah...

Mencari Sosok Pendamping Nova, Ini Tanggapan Partai Pengusung

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - Nova Iriansyah resmi dilantik sebagai Gubernur Aceh sisa jabatan 2017-2020. Ia sah didapuk oleh Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian...

[FOTO] Kenangan Maradona Sambangi Gelora Bung Karno

JAKARTA : Dunia sepakbola berduka. Sang legenda dunia, Diego Armando Maradona  itu telah wafat. Pria dijuluki “si tangan Tuhan” itu pergi selama-lamanya di usia...

Setiap tahun pada 26 Agustus, seluruh dunia Muslim dan Turki pada khususnya, memperingati kemenangan Dinasti Seljuk Turki yang dipimpin oleh Sultan Alp Arslan, atas kaisar Byzantium, Romanos IV, dalam Pertempuran Manzikert pada 1071. Pertempuran Manzikert terjadi di Muş saat ini di Turki timur.

Sama seperti pertempuran penting dalam sejarah Islam sebagaimana yang terjadi antara Hittin dan Ain Jalut, Pertempuran Manzikert juga tak kalah penting. Dampaknya dirasakan selama beberapa abad di wilayah tersebut. Salah satunya adalah terbukanya gerbang Anatolia untuk migrasi permanen bangsa Turki hingga akhirnya bangsa Turki menetap di Anatolia, wilayah Turki modern sekarang.

Setelah wafatnya Tuğrul Bey pada tahun 1063, terjadi perebutan kekuasaan karena ketiadaan pewaris tahta. Keponakannya Muhammad Alp Arslan (1029-1072) kemudian dipilih dengan bantuan menterinya Nizam al-Mulk, yang dikenal karena kecerdasan dan kekuatan pengaruhnya. Di jaman itu pula Hujjatul Islam Al Imam Ghazali hidup. Beliau diyakini punya hubungan yang baik dengan Nizam al-Mulk.

Sumber-sumber Arab memberi julukan kepada Sultan Alp Arslan sebagai ‘Abu Syuja (pemberani) Muhammad Alp Arslan, putra Dawood Chaghri, putra Mikail, putra Seljuk, benteng negara.’

Alp Arslan, seperti pamannya Tuğrul Bey, adalah pemimpin yang tidak kenal takut dan terampil, dan dia mengambil kebijakan khusus untuk mengkonsolidasikan pemerintahannya di negara yang didominasi Seljuk sebelum berusaha untuk menaklukkan wilayah baru. Butuh waktu hampir tujuh tahun untuk membangun fondasi pemerintahannya dan stabilitas negara dari dalam sebelum melakukan penaklukan ke luar wilayah.

Banyak sejarawan Turki menganggap Pertempuran Manzikert sebagai awal penaklukan Anatolia dan transformasinya menjadi tanah air permanen bagi Turki karena banyak klan Turki menetap di beberapa wilayah di Anatolia timur setelah perang. Jadi, ini adalah awal dari periode pertama berdirinya kekuasaan Turki di Anatolia.

Pada 26 Agustus 1071, dalam khutbah-khutbah di seluruh dunia Muslim, dipanjatkan doa kepada Sultan Alp Arslan dan tentaranya atas perintah Khalifah Abbasiyah.

Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan mengunjungi monumen peringatan pertempuran Manzikert

Penyebab perubahan

Sultan Alp Arslan menyiapkan pasukan besar dengan niat menyerang Mesir untuk menaklukkan dinasti Fatimiyah di Mesir. Dalam perjalanan tersebut, Ia mengepung kota Diyarbakir dan mengambilalih kota, kemudian mengepung Alrha (sekarang Şanlıurfa), tetapi ia tidak dapat merebutnya karena kota itu berada di bawah kekuasaan Bizantium.

Setelah itu, Arslan membawa pasukannya ke Aleppo dan merebut kota tersebut dari kaum Mardasian yang memihak dinasti Fatimiyah. Ia kemudian mengetahui bahwa Kaisar Romawi Romanus Diogenes telah memobilisasi pasukan besar untuk menghancurkan Seljuk dan mengakhiri kehadiran Turki di Anatolia timur, wilayah Persia dan Baghdad.

Alp Arslan segera pergi ke timur sungai Efrat. Namun, dalam perjalanannya, dia kehilangan banyak tentara dan perlengkapan. Dia juga memerintahkan demobilisasi sebagian besar pasukan yang kelelahan dan terus berjalan beberapa bersamanya ke kota Khoi di Azerbaijan. Dia mengirim istri dan menterinya Nizam al-Mulk ke Hamadan dan tidak berpikir untuk kembali ke ibukotanya dan mengumpulkan tentaranya dan menyerukan perjuangan. Dia menganggap menunggu bala bantuan tidak akan menguntungkannya dan memutuskan untuk menghadapi pasukan besar Bizantium dengan tentaranya.

Dalam bukunya yang terkenal ‘The History of the Seljuk,‘ sejarawan Iran terkenal Isfahani mengatakan, ‘Dia tinggal dengan 15.000 penunggang kuda dari pasukan elitnya, masing-masing menunggang kuda dan satu lagi di sisinya sementara pasukan Rum/Byzantium berjumlah lebih dari 300.000 prajurit yang terdiri dari beragam etnis; Rumi, Rusia, Oğuz, Kaukasia, Abkhazian, Khazar, Frank, dan Armenia. ‘

Tentara Romanus Diogenes

Bizantium sangat terganggu dan oleh pergerakan dan penaklukan Seljuk yang dipimpin oleh Alp Arslan di Anatolia timur dan tenggara. Kaisar Romanos IV bertekad untuk menggerakkan pasukan besar yang akan menghancurkan Seljuk dan mengamankan perbatasan kekaisarannya.

Kaisar yang saat itu baru dinobatkan, membutuhkan kemenangan dan kesuksesan besar untuk membuktikan dirinya sebagai seorang kaisar dan menegaskan legitimasinya. Meskipun RomanusIV adalah seorang pemimpin dan pejuang yang hebat dan berasal dari keluarga terkemuka, dia dinobatkan sebagai kaisar setelah menikahi Permaisuri Edukia Makramboltisa, janda Kaisar Constantine X Dukas. Maka secara politik ia perlu menegaskan reputasi kekaisarannya.

Para sejarawan berbeda pendapat dalam menentukan jumlah anggota pasukan Bizantium, beberapa di antaranya mengatakan bahwa pasukan kaisar memiliki 200.000 tentara dari berbagai ras sedangkan beberapa sejarawan lain mengatakan bahwa mereka berjumlah 300.000.

Namun, sebagian besar sumber mengatakan bahwa pasukan Bizantium berjumlah 300.000 melawan 15.000 tentara Sultan Alp Arslan, termasuk 4.000 pasukan khusus yang menyertai Alp Arslan.

Detik-detik Pertempuran

Pergerakan pasukan ke medan pertempuran dilakukan di hari Jumat. Usai salat Jumat, Alp Arslan mengenakan gaun putih, memegang ekor kudanya, dan berpidato di depan tentaranya:

“Siapa pun yang suka mengikutiku, ikutilah aku dan mereka yang ingin pergi, pergilah atas izinku. Kita semua sama dalam melayani Islam. Aku di sini bukan sebagai sultan yang memerintah atau yang memberi perintah kepada tentara. Aku menginginkan kesyahidan. Jika aku mati dalam pertempuran, kuburlah aku di tempat yang sama dan lanjutkan jihad di bawah kepemimpinan putraku, Malik Syah.”

Kedua pasukan itu bertemu dan bertempur sengit hingga matahari terbenam. Sultan Alp Arslan berada di depan barisan yang bertempur dengan sangat berani. Selama pertempuran, Seljuk melakukan taktik perang Turki yang terkenal dan berpura-pura menarik tentaranya sambil memerintahkan kelompok tentara lain untuk bersembunyi di posisi yang dekat dengan medan perang.

Tentara Bizantium mengira bahwa Seljuk mundur dan mengikuti mereka dari jarak jauh, tetapi mereka tidak dapat mengejar pasukan Seljuk karena banyaknya peralatan dan baju besi mereka yang berat, sementara kavaleri Turki lebih ringan dan lebih gesit.

Tak lama kemudian, sekelompok tentara yang bersembunyi mulai mengepung tentara Bizantium dari belakang dengan formasi seperti bulan sabit. Pasukan Seljuk menghujani Bizantium dengan rentetan anak panah dan membunuh ribuan tentara Bizantium.

Seljuk mengepung jantung pasukan Bizantium di bawah Romanus dan memisahkannya dari sisa pasukan. Kemudian kavaleri kembali menghadapi tentara Bizantium. Seljuk kemudian secara perlahan memusnahkan tentara kaisar Romanus.

Sebelum matahari terbenam, Seljuk memenangkan kemenangan besar atas pasukan Bizantium, membunuh sebagian besar dari mereka, dan sisanya melarikan diri. Romanos ditangkap dan dijadikan tawanan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang kaisar Bizantium menjadi tawanan seorang komandan Muslim.

Sultan Alp Arslan berang kepada kaisar karena tidak menerima gencatan senjata dan bersikeras memerangi Muslim.

Dia bertanya kepada kaisar, “Apa yang akan engkau lakukan jika aku dibawa ke hadapanmu sebagai tawanan?’ Kaisar menjawab, ‘Mungkin aku akan membunuhmu atau memamerkanmu di jalanan Konstantinopel.”

Alp Arslan menjawab, “Menurutmu apa yang harus aku lakukan padamu?’ Kaisar berkata, ‘Ada tiga pilihan. Yang pertama membunuhku, yang kedua memamerkan aku di negaramu yang ingin kuambil darimu, dan yang terakhir bukanlah sesuatu yang akan kau lakukan padaku.”

Alp Arslan bertanya kepada kaisar apa pilihan terakhirnya. “Maafkan aku dan menerima tebusan karena mengizinkanku kembali ke kerajaanku,” kata kaisar.

Alp Arslan berkata dia memilih yang terakhir, dan mengucapkan kata-kata bersejarah, “Aku memaafkanmu dan membebaskanmu.”

Romanos terkejut karena dia tidak menyangka kemurahan hati seperti itu dari musuhnya. Alp Arslan memperlakukannya dengan damai dan hormat. Tebusan 1,5 juta dinar emas kemudian disepakati; namun, ketika Romanos kembali ke ibukotanya, dia digulingkan dan secara tragis dibutakan matanya lalu diasingkan ke Prote hingga akhirnya wafat akibat luka yang diderita.

Berita kemenangan Seljuk atas pasukan Bizantium menyebar ke seluruh dunia Muslim dan Khalifah di Baghdas mengirim surat kepada Sultan Alp Arslan mengucapkan selamat atas kemenangan besar dan dia memberinya gelar sebagai ‘Sultan terbesar Arab dan ‘Ajam.’

Sultan Alp Arslan mengalami upaya pembunuhan sekitar 11 bulan setelah pertempuran. Alp Arslan menangkap seorang kepala suku yang bermusuhan bernama Yusuf, saat dibawa untuk dieksekusi, dia tiba-tiba menyerang Alp Arslan dengan belati.

Alp Arslan terluka parah dan meninggal setelah beberapa waktu pada tanggal 25 November 1072, di usia muda 44 tahun. Ia dimakamkan di Merv di samping ayahnya Dawood Chaghri Bey. Ia digantikan oleh putranya yang berusia 17 tahun Malik Syah.

Hasil kemenangan

Kemenangan Manzikert dianggap sebagai pembukaan Anatolia untuk suku dan klan Turki. Sultan Alp Arslan mengizinkan semua komandan dan kepala suku yang bersamanya dalam perang untuk kemudian tinggal dan mendiami wilayah Anatolia bersama dengan anggota anggota sukunya. Maka dimulai era dimana bangsa Turki mendiami wilayah Anatolia.

Ini juga merupakan awal dari berdirinya negara bagian Seljuk Anatolia atau Seljuk Rum. Lalu di masa berikutnya disusul dengan berdirinya Turki Usmani.

Kemenangan Manzikert juga merupakan awal dari Perang Salib di dunia Muslim. Setelah negara Seljuk tumbuh lebih kuat dan Kekaisaran Bizantium dikalahkan, Eropa Barat menyadari bahwa mereka tidak dapat lagi mengandalkan Bizantium dan Roma untuk menjaga pintu timur Eropa dari serangan Muslim.Mereka mulai berpikir tentang penaklukan dunia Islam. Hal ini kemudian mendasari terjadinya Perang Salib Pertama (1096-1099) atas undangan Paus Urbanus II pada 1095.

Sumber: Daily Sabah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

HEADLINES

Jelang Milad GAM, Ableh Kandang : Kita Patuh Instruksi Mualem

LHOKSEUMAWE | ACEHJURNAL.COM - Menjelang peringatan Milad GAM pada 4 Desember besok, Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Kuta Pase akan menggelar serangkaian kegiatan. Ketua...

Jelang Milad GAM, Kapolres Pidie Sambangi Kombatan di Pedalaman Pidie

SIGLI | ACEHJURNAL.COM - Menjelang peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 2020 besok, jajaran Polres Pidie menyisir kawasan pedalaman. Kali ini...

Kuras Harta Majikan Rp 61,4 Juta Lebih, Seorang Pembantu Diringkus Polisi di Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Pencurian berkedok pembantu rumah tangga kembali meresahkan warga kota Banda Aceh. Tak tanggung-tanggung, harta korban majikannya bernama Teuku Andryansyah...

BERITA TERKAIT

Jelang Milad GAM, Ableh Kandang : Kita Patuh Instruksi Mualem

LHOKSEUMAWE | ACEHJURNAL.COM - Menjelang peringatan Milad GAM pada 4 Desember besok, Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Kuta Pase akan menggelar serangkaian kegiatan. Ketua...

Jelang Milad GAM, Kapolres Pidie Sambangi Kombatan di Pedalaman Pidie

SIGLI | ACEHJURNAL.COM - Menjelang peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 2020 besok, jajaran Polres Pidie menyisir kawasan pedalaman. Kali ini...

Kuras Harta Majikan Rp 61,4 Juta Lebih, Seorang Pembantu Diringkus Polisi di Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Pencurian berkedok pembantu rumah tangga kembali meresahkan warga kota Banda Aceh. Tak tanggung-tanggung, harta korban majikannya bernama Teuku Andryansyah...