Kisah Thaib Adamy, Pimpinan PKI di Aceh (bagian 2)

Kembali lagi ke peristiwa horor eksekusi atas Thaib Adamy di Lhoknga. Menurut Ady, ada percakapan terakhir antara sang algojo dan ayahnya beberapa menit sebelum eksekusi. Dari beberapa algojo, ada satu orang yang disebutnya “anggota polisi militer” dan “memiliki hubungan saudara jauh” dengan ayahnya. “Mereka saling kenal baik,” ungkap Ady.

Menjelang ditembak mati, Thaib disebutkan menyerahkan jam tangan buatan Rusia kepada sang calon algojo itu sebagai “kenang-kenangan”. Kisah jam tangan Rusia ini didapatkan Ady dari “salah-seorang kepercayaan” Usman Adamy , saudara ayahnya  ketika dia masih berusia 10 tahun, tidak lama setelah eksekusi tersebut.

Orang kepercayaan itu mendengar langsung ceritanya dari anggota militer yang mengawal dan terlibat dalam eksekusi terhadap ayahnya. Saat itu Adi masih duduk di bangku SD.

“Dia juga menunjukkan jam tangan buatan Rusia pemberian ayahnya,” katanya,” sebagai bukti.”

BACA JUGA : Kisah Thaib Adamy, Pimpinan PKI di Aceh dan Korban Pembuhan Massal 1965

Melalui orang kepercayaan keluarga besar ayahnya itulah, Ady mendapat informasi bahwa sang algojo — yang memiliki hubungan saudara dengan ayahnya — sempat menawarkan Thaib Adamy supaya kabur.

“Abang lari sajalah, lari ke hutan dan menghilang. Saya akan menjamin,” ungkap Ady, menirukan ucapan sang algojo.

Namun ayahnya menolak dan kemudian berujar: “Kalau kamu sayang saya, tembak kepala saya, dan kuburkan saya sendiri.”

Pada malam jahanam itu Thaib memang tidak sendiri. Ada serombongan orang yang dituduh komunis dinaikkan truk dan digiring ke lubang pembantaian — leher mereka kemudian digorok satu persatu.

Lalu, “dor!” Dia kemudian dikuburkan secara tersendiri dan terpisah dari lubang yang sudah disiapkan bagi tahanan lainnya. Kisah seperti ini tidak pernah disinggung dalam narasi seputar kekerasan pasca G30S 1965 di Aceh yang beredar selama ini. Bahkan ada sebagian informasinya bertolak belakang.

Kesaksian dan analisa sejarawan dari Universitas Syiah Kuala, Rusdi Sufi, dalam buku Malam Bencana 1965 Bagian Dua (2012) , menyebut Thaib Adamy “terbunuh” dan “dipancung”.

“Thaib Adamy waktu akan dipancung dia minta disampaikan salam kepada Bung Karno dan meneriakkan Hidup Bung Karno,” tulis Rusdi Sufi. Ini berbeda dengan keterangan Ady.

Dan menurut Ady, pada masa-masa penuh kekerasan setelah G30S itu, dia juga dijanjikan untuk diajak berziarah ke lokasi di mana jasad ayahnya dikuburkan.

“Tunggu kamu besar, nanti kita pergi ke kuburan ayahmu,” ujar orang kepercayaan keluarga besar ayahnya. Mereka menyebut lokasinya di Lhoknga, tapi tanpa rincian.

Namun rencana ini tidak pernah terjadi. Ady dipaksa untuk ‘melupakannya’ lantaran dihadapkan tragedi lainnya. Ibunya, Samiah, ditangkap dan ditahan di Kota Medan, karena pilihan politik suaminya. []

Sumber BBC Indonesia  G30S, Thaib Adamy, dan pembunuhan massal 1965 di Aceh: ‘Tembak dan kuburkan saya, supaya anak-anak bisa berziarah

Advertisement
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT