Hari Ini, 11 Tahun Deklarator GAM Meninggal Dunia

Banda Aceh | Almanak hari itu tanggal 3 Juni 2010. Proklamator Kemerdekaan dan sekaligus Wali Negara Aceh, Allahyarham Tgk Hasan Muhammad di Tiro meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Dikutip dari berbagai sumber, sosok bernama lengkap Dr. Teungku Hasan Muhammad di Tiro lahir di Tiro, Pidie, Aceh, 25 September 1925. Hasan di Tiro-sapaan akrabnya adalah seorang tokoh pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM). GAM merupakan gerakan yang berusaha memperjuangkan kemerdekaan Aceh dari Indonesia.
Ia dianggap “wali” sebab memiliki garis keturunan ketiga Teungku Chik Muhammad Saman di Tiro, pahlawan nasional Indonesia yang memimpin perang melawan Belanda pada tahun 1890-an. Hasan Muhamad di Tiro menyatakan organisasinya sebagai Acheh Sumatera National Liberation Front (ASNLF). Organisasi ini dikenal sebagai cikal bakal lahirnya Gerakan Aceh Merdeka pada tanggal 4 Desember 1976.
Dalam tuntutannya, GAM bukan meminta otonomi khusus, melainkan memperjuangkan kemerdekaan Aceh seutuhnya agar lepas dari NKRI. Deklarasi kemerdekaan itu mempertanyakan hak Indonesia untuk berdiri sebagai negara, sebab pada asalnya itu adalah negara multi-budaya berdasarkan kekaisaran kolonial Belanda dan terdiri dari negara-negara sebelumnya yang terdiri atas banyak sekali etnis dengan sedikit kesamaan. Oleh sebab itulah, Allahyarham Hasan di Tiro optimis jika rakyat Aceh harus menyatakan diri sebagai bangsa berperadaban tinggi. Untuk mengembalikan marwah kembali pulih pra-kolonial Aceh sebagai negara merdeka dan harus terpisah dari negara Indonesia.
Berbagai upaya negosiasi dilaksanakan, pasca musibah gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004, Pemerintah Indonesia akhirnya sepakat menandatangani perjanjian damai. Nun jauh di kota Helsinki, Finlandia, kedua delegasi, yakni Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka sepakat berdamai. Delegasi Indonesia pada perundingan tersebut, antara lain Hamid Awaluddin, Sofyan A. Djalil, Farid Husain, Usman Basyah dan I Gusti Wesaka Pudja. Sedangkan tim perunding GAM terdiri dari Malik Mahmud Al-Haytar, Zaini Abdullah, M Nur Djuli, Nurdin Abdul Rahman dan Bachtiar Abdullah.
Advertisement

Perjanjian damai itu termaktub dalam Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki yang ditandangani pada 15 Agustus 2005. Adapun fasilitator perundingan damai adalah Martti Ahtisaari. Mantan Presiden Finlandia yang juga Ketua Dewan Direktur Crisis Managemet Initiative, dibantu oleh Juha Christensen. Adapun naskah asli MoU Helsinki terdiri dari tiga rangkap, ditandatangani oleh Hamid Awaluddin selaku Menteri Hukum dan HAM atas nama Pemerintah Republik Indonesia, Malik Mahmud Al Haytar, kini menjabat sebagai Wali Nanggroe Aceh dan Martti Ahtisaari sebagai tim penengah
Usai perjanjian damai diteken, Aceh memperoleh status otonomi khusus lebih besar. Seiring berjalan waktu, sebuah Undang-Undang baru tentang Penyelenggaraan Pemerintahan di Aceh disahkan oleh parlemen nasional di Jakarta. Tujuannya untuk mendukung pelaksanaan perjanjian damai. Pada Oktober 2008, ia pun kembali ke tanah kelahirannya setelah 30 tahun di pengasingan.
Selain itu, lulusan Columbia University, Amerika Serikat ini pun kembali memperoleh kewarganegaraan Indonesia pada 2 Juni 2010 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan wakilnya Jusuf Kalla (JK). Hari berikutnya, Hasan di Tiro meninggal dunia di rumah sakit di Banda Aceh. Ia dimakamkan di pemakaman keluarganya di Gampong Meureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Desa yang berjarak sekitar 20 kilometer arah timur Banda Aceh, juga terdapat makam kakeknya, Tgk Cik Di Tiro. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT