Singeh Tapeutaloe Awaknyan! [tamat]

***
DUTCH Commander: ”Which one is Tjut Njak Dien?”
(No one volunteers to show. Everyone stands up in silent disbelief of what is unfolding before their eyes – but no one shows any sign of panick. Everyone stands on his her ground.)
Dutch Commander: ”Will someone show me which one is Tjut Njak Dien!”

(More silince)
Dutch Commander: ”Bring Waki Him here!”
All camp members (almost in unison): ”Oh, you, Waki Him! We spit upon you

Waki Him!”
(Waki Him is pushed forward to the front. He is obviously very reluctant to show his traitorous face to his former friends. Waki Him lamely points his fingers at Tjut Njak Dien, and he slowly walks to wards her, and when he stands precisely in front of her, he says):

WAKI HIM: ”Forgive me, Your Highness, but I did this for your sake, so that your suffer no more. Your illnesses can be cured. You will not have to suffer hunger anymore!”

Tjut Njak Dien: ”I do not ask for your pity, Waki Him! Do you think we are domestic animals whose primary requipment is only full belly? No Waki Him, we are Free Achehnese, free human beings whose primary requipment is not full belly, but full honor and dignity. We die for honor and dignity, and not for food in the belly!”

Dialog tersebut adalah salah satu bagian cerita dari The Drama of Achehnese History, sebuah buku drama. Ini adalah satu-satunya buku naskah drama tentang sejarah Aceh yang saya ketahui. Karya Hasan Tiro, bukan oleh seniman atau sejarawan Aceh yang lain yang namanya terkenal itu. Ditulis tahun 1978, saat ia bergerilya di Gunung Petisah, Pidie.

Baca : Singeh Tapeutaloe Awaknyan! [Bagian 01]

Saya belum pernah melihat buku itu. Sebagian dialog dari cerita tersebut saya peroleh dari postingan salah seorang member di sebuah milis komunitas orang Aceh.

Arif Zulkifli, dalam laporannya di Majalah Tempo edisi Mei tahun 2000 yang berjudul “Dua Jam Bersama Hasan Tiro” memberikan beberapa gambaran tentang buku itu.

Bukunya bersampul kuning, seukuran diktat kuliah, 56 halaman. Materi cerita tentang sejarah Aceh, dipadu dengan musik klasik. Adegan dibuka dan ditutup dengan komposisi musik, Purcell, Johann Sebastian Bach, Beethoven, dan beberapa komposer Barat lainnya. Beethoven, atau Ludwig van Beethoven adalah komponis terbesar di dunia asal Jerman yang hidup pada tahun 1770-1827.

Sampai sekarang, karya seniman besar ini masih menjadi rujukan para pelaku dan penikmat seni di seluruh dunia. Halaman pengantar buku itu diisi Husaini Hasan, tokoh yang kemudian menempuh jalur perjuangan sendiri dengan mendirikan Majelis Pemerintahan (MP) GAM. Pengantar buku drama itu berisi suka duka saat Hasan Tiro menulis buku tersebut.

Saya kutip laporan yang ditulis Arif Zulkifli “Tengku (Hasan Tiro) menulis dari pukul 7 pagi hingga 6 petang. Kami tak punya lampu jika malam. Itu semua dilakukannya sewaktu kami semua berhari-hari menunggu suplai makanan dari kampung.”

Baca : Singeh Tapeutaloe Awaknyan! [Bagian 02]

Advertisement

Bagi saya, sejumlah buku-buku yang ditulis Tgk Hasan memberi bukti, ia tak sekedar menyandang gelar kosong, seperti yang dilakukan sebagian intelektual Aceh saat ini. Hasan Tiro benar-benar mengisi gelarnya itu dengan karya-karya intelektual.

Tulisan ini tentu saja bukan sekedar untuk memuja-muji Tgk Hasan di Tiro. Tapi untuk mengingatkan orang Aceh, khususnya pengikut dan pengagumnya. Demi Aceh, Hasan Tiro telah berhasil memainkan perannya hingga ke tingkat internasional. Semua itu dengan kecerdasan, keberanian dan sikap pantang menyerah yang dimiliki.

Beliau telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk Aceh. Mengajarkan tentang banyak hal. Tentang bagaimana memperjuangkan martabat Aceh, bagaimana cara bersungguh-sungguh dalam memperjungkan apa yang diyakini, mengajarkan tentang bagaimana seharusnya menjadi intelektual, bahkan mengajarkan kita bagaimana semestinya menjadi seniman.
Apakah semua pelajaran itu hanya untuk dikenang? Sebaiknya mari kita “mengamalkannya”. [Tamat]

** Tulisan sebelumnya pernah ditayangkan di laman atjehpost.co untuk mengenang 2 tahun mangkatnya Allahyarham Tgk Hasan Muhammad di Tiro.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT