BANDA ACEH – Tim Propam Polda Aceh memeriksa 17 personel Polres Aceh Timur dan dua warga sipil. Pemeriksaan ini dilakukan terkait tewasnya seorang personel Satres Narkoba Polres Aceh Timur berinisial Briptu WD.
Perlu diketahui, Briptu WD ditemukan dalam kamarnya dalam kondisi luka tembak di kepala. Kabid Humas Polda Aceh Kombes Winardy menuturkan, dari 17 anggota Polres Aceh Timur yang diperiksa, dua diantaranya merupakan perwira menengah. Selanjutnya ada dua perwira pratama dan 13 bintara.
Mereka diperiksa tim Propam Polda Aceh berawal dari pertama yang datang ke lokasi dan yang sudah berada di lokasi.
“Ada 4 perwira yaitu 2 pamen dan 2 pama, serta 13 bintara. Di dalam yang diperiksa ada yang datang duluan ke TKP, di sekitar TKP dan masih ada interaksi dengan almarhum beberapa jam sebelum kejadian,” kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Winardy, Rabu (31/9/2022).
Hingga saat ini, sudah 19 orang diperiksa secara keseluruhan oleh tim Propam Polda Aceh. Sehingga pihaknya saat ini masih menunggu hasil labfor untuk menyimpulkan apa motif dan kronologis tewasnya Briptu WD.
“Total jadi 19 orang yang diperiksa Bid Propam Polda Aceh. Sambil menunggu hasil labfor, Bid Propam akan menyimpulkan motif dan kronologis, yang akan kita umumkan setelah hasil labfor keluar,” kata Winardy.
Dari hasil forensik yang dilakukan dokter di RSUD Kota Langsa, kata Winardy tewasnya Briptu Wendi mengarah ke bunuh diri. Namun, Polda Aceh masih menunggu serangkaian pemeriksaan yang masih berjalan. Adapun sampel yang kini tengah diuji di labfor, yakni sampel serbuk/serpihan dari tangan korban kemudian uji balistik senjata api dan proyektil yang ditemukan di lokasi.
“Polda mengedepankan Scientific Investigation untuk pembuktiannya tersebut,” ujar Winardy.
Diberitakan sebelumnya, Briptu WD ditemukan tewas dengan luka tembak di kepala bagian kanan tembus ke kiri di rumahnya di Desa Seuneubok Punteut, Kecamatan Peudawa, Kabupaten Aceh Timur pada Kamis (25/8).
Korban pertama kali ditemukan tewas oleh Kasatres Narkoba Polres Aceh Timur, lalu melaporkan peristiwa itu ke tim inafis.
“Ya. Pada saat itu Kasat Resnarkoba yang menemukan pertama kali, lalu melaporkannya,” kata Winardy, Jumat (26/8). [CNNIndonesia]