Catatan Jurnalis Siasati Blokade TNI/Polri Untuk Tembus Markas GAM (1)

Panas menyengat saat matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Azan Zhuhur berkumandang dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Berbodong-bondong, orang menuju masjid yang menjadi ikon di Tanah Rencong ini untuk menunaikan shalat Zhuhur.

Usai shalat Zhuhur, Rabu, 3 Desember 2002, aku sebagai fotografer bersama reporter Republika Nur Hasan Mutiarji hendak bertolak ke Kota Lhokseumawe yang berjarak 273,9 km dari Banda Aceh. Kami hendak masuk ke markas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk meliput upacara pengibaran bendera saat milad atau hari ulang tahun ke-27 GAM pada Kamis, 4 Desember 2002.

Perjalanan dengan mobil sewaan Toyota Kijang Super yang dikemudikan Bang Jafar ini akan ditempuh selama enam jam tanpa henti. Aku memilih duduk di jok belakang, sedangkan Hasan duduk di samping sopir. Sepanjang perjalanan, tidak begitu banyak hambatan dengan lalu lintas tak begitu ramai. Mobil melaju dengan kecepatan 70 km/jam di aspal yang mulus keluar Kota Banda Aceh melewati beberapa wilayah Lambirah dan Cotbakarieng.

Sebagai orang yang lahir dan pernah tinggal di Aceh, memoriku sedikit hapal jalan beraspal mulus dan lurus sepanjang lintas Banda Aceh-Medan ini. Perjalanan paling mengasyikan saat memasuki kawasan Gunung Seulawah dengan jalan yang berkelok-kelok dan pemandangan yang indah dan berudara sejuk. Suasana yang berbanding terbalik dengan panasnya kota Banda Aceh.

Usai melintas Seulawah, kami tiba di wilayah Seulimum dan memilih berhenti, beristirahat sambil menunggu azan Ashar untuk menunaikan shalat. Sejuknya udara membuat rasa lapar dan dahaga saat menjalankan ibadah puasa menjadi tak terasa.

Usai shalat Ashar di masjid, kami melanjutkan perjalanan.

“Saya masih ngantuk, ada yang bisa gantiin untuk nyupir?” tanya Bang Jafar.

Aku diam tak menjawab. “Saya aja Bang yang bawa,” Hasan dengan sigap menjawab.

“Emang loe, biasa bawa mobil perjalanan jauh,” tanyaku kepada Hasan.

“Bisa bang, saya pernah bawa mobil Jakarta ke Surabaya. Tenang, aman bang,” jawab Hasan.

Kemudian, kemudi mobil diambil alih Hasan yang tampak begitu semangat. “Saya duduk di belakang ya,” pinta Bang Jafar kepadaku.

“Bang Jafar di depan aja,” jawabku menolak.

Aku berpikir, ini hanya akal-akalan Bang Jafar saja. Ia pura-pura mengantuk karena dia tahu perjalanan selanjutnya sangat tidak aman dan nyaman seperti tadi.

Sebelumnya, aku mendapat informasi mengenai kondisi dan situasi yang tidak aman di sepanjang jalan lintas Banda Aceh-Lhokseumawe usai melewati kawasan Gunung Seulawah. Aku tidak tahu, apakah Hasan mengetahuinya. Kemudian, aku menceritakan situasi dan kondisi jalan yang akan dilewati.

Perjalanan akan melewati banyak pos pemeriksaan. TNI/Polri memblokade jalan dengan pagar kayu berkawat berduri yang baru dilewati dengan cara berzigzag. Tidak hanya itu, kadang jalan disabotase kelompok saparatis GAM dengan menaruh batang-batang pohon di tengah jalan. Jam-jam rawan terjadi kontak senjata di sepanjang jalan biasanya dari pukul 15.00 WIB hingga 19.00 WIB. Bahkan, pasukan GAM juga kerap mengadang dan menembaki setiap kendaraan yang melintas, baik secara brutal maupun dengan tembakan para sniper yang ada di dalam hutan.

Mendengar itu, Hasan yang tadinya ceria seketika wajahnya berubah pucat pasi. Mungkin, jantungnya semakin berdegup kencang. Apalagi, sambil sedikit berguyon aku mengatakan, kalau di film-film untuk melumpuhkan kendaraan yang melaju, sasaran utama sniper itu pasti sang sopir.

Aku melanjutkan, salah satu yang mungkin membuat perjalanan sedikit aman karena ada tulisan pers di kaca depan dan belakang mobil. Pasukan GAM punya komitmen tidak menembaki mobil-mobil yang ditumpangi wartawan yang melintas. “Insya Allah, mari kita berdoa agar tidak ada gangguan dan sampai tujuan dengan selamat,” ujarku sedikit menenangkan suasana tegang yang sebenarnya juga menyelimutiku.

Baru 30 menit perjalanan, Hasan mengurangi laju kendaraan untuk berzigzag melewati pagar berduri, sebelum akhirnya mobil kami berhenti. Seluruh isi mobil kami diperiksa lima penggawa TNI bersenjata laras panjang di pos penjagaan Gampong (kampung) Blangurung. Kami juga diminta menunjukkan identitas KTP dan kartu pers serta menanyakan maksud dan tujuan ke Lhokseumawe.

Usai pemeriksaan, kami diperbolehkan melanjutkan perjalanan yang cukup menegangkan. Sepanjang perjalanan dengan pemandangan kanan kiri hutan dan semak serta pematang sawah, sepertinya cuma kendaraan kami saja yang melaju. Sesekali, kami juga melihat banyak batang pohon kelapa yang ditebang teronggok di pinggir jalan.

Hampir setiap kampung yang kami lewati selalu ada pos pemeriksaan TNI/Polri. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB, suasana sepanjang jalan semakin sepi dan mencekam. Tidak tampak aktivitas warga di setiap kampung dan kecamatan yang kami lewati. Kedai-kedai kopi dan rumah makan banyak yang tutup. Hanya ada aktivitas saat melitasi kawasan Pidie di kota Kabupaten Sigli.

Pukulan beduk terdengar, disusul azan Maghrib berkumandang dari masjid saat kami tiba di Kecamatan Jeunib. Kami memutuskan berhenti dan berbuka puasa dan shalat Maghrib di masjid. Kehadiran kami disambut dengan tatapan curiga para jamaah masjid.

Usai berbuka puasa dan shalat Maghrib, kami langsung mencari rumah makan untuk bersantap malam di satu kedai yang buka. Sambil menunggu pesanan nasi goreng. Aku memilih lebih dulu mencicipi kue khas Aceh kesukaanku, Timphan, dan berbicang-bincang dengan Hasan.

“Sudah dapat kontak penghubung kita untuk masuk ke markas GAM?” tanyaku.

“Sudah Bang, namanya Muhrizal, wartawan Aceh yang suka meliput aktivitas GAM,” jawab Hasan.

Kemudian aku bercerita, Kecamatan Jeunib ini merupakan basis GAM di bawah pimpinan Panglima GAM Wilayah Batee Iliek, Teuku Darwis Jeunib. Perjalanan selanjutnya akan memasuki wilayah GAM yang cukup rawan di Aceh.

Usai makan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Hasan memilih istirahat duduk di belakang, kemudi kembali dipegang Bang Jafar. Sedangkan, aku duduk di samping sopir. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Kami akan menempuh jarak 73 km atau sekitar 2,5 jam untuk tiba di Kota Lhokseumawe.

Jalan malam yang sepi dan gelap gulita dengan hanya mengandalkan penerangan lampu mobil, tentu perlu perlu kewaspadaan yang tinggi untuk Bang Jafar saat melajukan kendaraan miliknya. Apalagi, kendaraan harus berjalan zigzag saat melewati pos pemeriksaan TNI/Polri yang cukup banyak. Bisa dibilang hampir setiap kurang lebih lima kilometer ada pos pemeriksaan TNI/Polri.

Setelah melintasi Gampong Peulimbang, Peudada, Jeumpa, kami tiba di Kabupaten Bireuen dan terus melanjutkan perjalanan melewati Gampong Peusangan, Gandapura, Kreung Geukuh, dan memasuki kawasan PT Pupuk Iskandar Muda serta PT Gas Arun Aceh yang sudah mulai sedikit ramai, cukup terang dengan penerangan jalan. Kami tiba di Kota Lhokseumawe pada pukul 23.00 WIB. Kami langsung menuju Hotel Vina Vira yang terletak di markas Komando Operasi (Koops) TNI. [Bersambung]

Advertisement

Sumber : REPUBLIKA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT