University of Oxford Sebut Vaksin ini Efektif Cegah Covid-19 Varian Omicron

BRUSSEL — Munculnya omicron sebagai varian baru SARS-CoV-2 menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas vaksin yang kini beredar. University of Oxford mengatakan, tidak ada bukti bahwa vaksin yang beredar saat ini tidak mampu mencegah keparahan infeksi varian omicron.
Juru bicara Oxford pada Selasa mengatakan bahwa pengalaman terdahulu dengan kemunculan varian-varian lainnya telah membuktikan manfaat vaksin Covid-19. Sejauh ini, belum ada bukti bahwa omicron dapat membuatnya berbeda.
“Tetapi jika diperlukan, kami bersama dengan AstraZeneca siap untuk dengan cepat mengembangkan dan memperbarui vaksin,” kata juru bicara Oxford, dikutip Fox News, Selasa (30/11/2021).

Baca : Brasil Konfirmasi Dua Kasus Corona Varian Omicron

Sementara itu, Direktur Eksekutif Badan Obat Eropa (EMA), Emer Cooke, mengatakan kepada Parlemen Eropa bahwa vaksin yang saat ini tersedia di masyarakat dapat terus memberikan perlindungan terhadap varian omicron. Menurutnya, tes laboratorium untuk mengetahui efektivitas vaksin terhadap imicron akan memakan waktu sekitar dua pekan.
Sejauh ini, EMA belum mendapatkan informasi mengenai rencana produsen untuk memutakhirkan vaksin Covid-19. Andaikan ada pengajuan vaksin baru untuk omicron, maka persetujuan mungkin diberikan dalam tiga atau empat bulan ke depan.
“Vaksinasi kemungkinan masih akan membuat Anda tidak masuk rumah sakit,” kata Direktur Institut Penn untuk Imunologi di Philadelphia, John Wherry, dikutip Reuters, Selasa (30/11/2021).
Advertisement

Sejumlah podusen vaksin seperti Moderna, BioNTech, dan Johnson & Johnson sedang membuat vaksin yang secara khusus untuk menangkal varian omicron. Moderna juga telah menguji dosis yang lebih tinggi dari booster yang kini sudah tersedia.
Kepala Eksekutif BioNTech, Ugur Sahin mengatakan, vaksin BioNTech dan Pfizer akan memberikan perlindungan yang kuat terhadap gejala parah dari varian baru. Sahin mengatakan, tes laboratorium dapat menguji efektivitas vaksin terhadap omicron. Namun, menurut Sahin, besarnya tingkat penurunan perlindungan vaksin terhadap varian omicron sulit diprediksi.
Sementara itu, Ketua Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), Andrea Ammon, mengatakan, kasus Covid-19 yang terkait dengan omicron di 10 negara Uni Eropa menunjukkan gejala ringan atau tanpa gejala. Sebagian besar kasus ditemukan pada kelompok usia muda.
Penutupan perbatasan telah membayangi pemulihan ekonomi yang terpuruk selama dua tahun sejak pandemi. Bahkan, beberapa negara Eropa mengalami gelombang infeksi keempat saat musim dingin tiba. [Republika]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT