Singeh Tapeutaloe Awaknyan! [Bagian 02]

Di masa kecil, Tengku Hasan suka bermain bola, bahkan dipercayakan menyandang posisi kapten. Tgk Azhari selalu menjadi rekan satu timnya.

“Bola dari boh giri (jeruk bali),” kenang Tgk Azhari.

Tengku Hasan pemain bola yang handal, sering menciptakan gol, dan sulit menerima kekalahan. Tgk Azhari kadang kewalahan memenuhi keinginan Tengku Hasan. Jika timnya kalah, selesai pertandingan, Tengku Hasan langsung merencanakan pertandingan untuk keesokan hari.

Baca : Singeh Tapeutaloe Awaknyan! [Bagian 01]

“Singeh tapeutaloe awaknyan!” :Besok kita kalahkan mereka!”

Sikap kepemimpinan juga telah ditunjukkan Tengku Hasan sejak kecil. Selesai bermain bola, ia memobilisasi beberapa pemuda gampoeng, mengumpulkan kerikil dari sungai, lalu menaburinya di jalan-jalan desa yang berlubang. Hasilnya, tak ada lagi lubang jalan yang dapat mencelakai pengguna jalan di desa itu.

Di malam hari, Tengku Hasan mendampingi ibunya “seumebeut” (pengajian) di balai yang ada di rumahnya. Pulang sekolah, almarhum dan Tgk Azhari mengajari anak-anak di desa belajar membaca dan berhitung. Tempat belajar itulah yang menurut Tgk Azhari menjadi cikal bakal Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) Tanjong Bungong saat ini.

Tengku Hasan berpisah dengan Azhari ketika ia melanjutkan pendidikan ke sekolah normal, Bireuen. Tahun 1945, ketika remaja, kemampuan kepemimpinannya dibuktikan dengan menjadi Ketua Muda Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Pidie, PRI adalah organisasi kepemudaan yang gencar memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada masa itu. Kesempatan yang diperoleh almarhun Tgk Hasan di Tiro untuk melanjutkan pendidikan ilmu hukum di Universitas Columbia, Amerika Serikat dan diperbantukan sebagai staf penerangan kedutaan besar Indonesia di PBB. Tentu saja, ini tak terlepas dari kecerdasan yang dimilikinya.

Lalu lihat sederet pengalaman Hasan Tiro lainnya. Mendirikan Institut Aceh di Amerika Serikat, menjabat Dirut Doral International Ltd di New York, punya andil di Eropa, Arab dan Afrika dalam bisnis pelayaran dan penerbangan. Diangkat oleh Raja Faisal dari Arab Saudi sebagai penasehat agung Muktamar Islam se-dunia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Mutabakh, Lembaga nonstruktural Departemen Dalam Negeri Libya (sumber Tempo: Juni 2000).

Sebuah kisah hidup yang langka, bocah dari desa pedalaman yang dahulu bermain bola boh girie, kemudian dipercayakan menjabat posisi penting di negara super power Amerika Serikat, Eropa, Arab dan Afrika. Tentu saja, hal itu juga tidak tertutup kemungkinan bagi bocah-bocah Aceh lainnya.

Sebagai orang yang memiliki gelar doctor, Tgk Hasan tak semata-mata hanya menyandang gelar tersebut. Ia melaksanakan tradisi-tradisi inteleketual sebagaimana lazimnya yang dilakukan oleh kaum intelektual lain di seluruh dunia, menulis; buku dan artikel.  The Unfinished Diary, Demokrasi Untuk Indonesia (1958), The Prince of Freedom, adalah judul-judul buku yang ditulis Tgk Hasan di Tiro semasa hidup. [Bersambung…]

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT