Seladang Cafe, Sensasi Ngopi Langsung di Ladangnya

Redelong | AcehJurnal.com – Sebuah papan nama bertuliskan “Seladang, ngopi di kebun kopi”  terpancang kokoh di tepi jalan. Letaknya persis di jalan nasional Bireuen-Takengon kilometer 86, tepatnya di desa Jamur Ujung, kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah.

Perkebunan kopi bak permadami hijau tumbuh subur, membentang sepanjang lembah-lembah bukit barisan di Daratan Tinggi Gayo.

Sadikin alias Gembel sedang meracik kopi di cafe miliknya. Foto Taufik Ar Rifai
Sadikin alias Gembel sedang meracik kopi di cafe miliknya. Foto Taufik Ar Rifai

Merasa penasaran, saya beserta dua rekan-rekan, Azwir Basyah dan Bunyamin pun segera menepikan kendaraan.

“Kita istirahat sebentar sambil ngopi. Kayaknya cocok tempatnya,” kata Azwir Basyah.

“Alam dan cuacanya sangat mendukung,” timpal Bunyamin.

Dari sudut dalam terlihat sejumlah pondok-pondok dan saung-saung kecil berjejeran di antara rerimbunan tanaman kopi yang sedang berbuah merah.

Kami pun segera masuk ke dalam salah satu saung sederhana beratap nipah tersebut. Café pun terlihat sederhana, konsepnya sengaja didesain menyerupai bangunan rumah panggung, sehingga para pengunjung kian merasa betah sambil bersantai nyaman sambil ngopi.

Disana, kami bisa melepas penat sembari mengusir lelah setelah menempuh perjalanan dari kota Banda Aceh yang lumayan memualkan perut. Semilir angin yang terasa sejuk  seakan menyapa kami dengan penuh kehangatan.

“Mau pesan apa bang? tanya salah satu pramusaji tatkala menyambut kami dengan ramah pada Sabtu (27/3/2021) lalu.

“Saya pesan sanger espresso,” jawabku.

“Saya juga,” tambah Azwir Basyah.

Sembari menunggu pesanan datang, mataku tertuju pada buah-buah kopi yang telah ranum berrwarna merah di pohon. Karena keingintahuan saya terus memuncak, saya lantas mendekati salah satu pohon kopi yang buahnya sudah ranum.

“Mau lihat buah kopi yang udah matang? Ayo ikut saya. Tapi buahnya udah tinggal sedikit,” ajak sosok pria berambut gondrong kepada kami. Ia adalah Sadikin atau akrab disapa Gembel, sang pemilik Seuladang Cafe.

Biji kopi merah yang dipetik langsung di ladang. Foto Taufik Ar Rifai
Biji kopi merah yang dipetik langsung di ladang. Foto Taufik Ar Rifai

Ajakan Sadikin langsung kami sambut dengan positif. Selama berkeliling kebun, Sadikin menceritakan kisah awal berdiri café miliknya tersebut. Café miliknya itu sendiri dibangun pasca perdamaian RI-GAM pada 15 Agustus 2005 silam.

Tiba di sebuah sudut, langkah Sadikin berhenti. Ia segera mendekati pada salah satu tanaman kopi. Biji-biji kopi langsung dipetik dari batang-batang kopi yang ada di sekeliling Seladang Coffee. Gembel tak sendirian, ia turut dibantu dia rekannya memetik buah kopi.

Muniru, tradisi menghangatkan diri pada api unggun di Daratan Tinggi Gayo. Di cafe ini, pengunjung juga dapat menyeruput kopi sambil menghangatkan diri di api unggun. Foto Taufik Ar Rifai

Advertisement

Muniru, tradisi menghangatkan diri pada api unggun di Daratan Tinggi Gayo. Di cafe ini, pengunjung juga dapat menyeruput kopi sambil menghangatkan diri di api unggun. Foto Taufik Ar Rifai

Semuanya terlihat masih sangat alami. Hanya buah kopi berwarna merah saja yang dipetik dengan cara diputar.

“Cara petiknya pun harus hati-hati supaya buah yang masih hijaunya tidak ikutan copot,” ujar Sadikin sembari memetik buah kopi dengan semangat.

Tak lama berselang, buah-buah kopi matang yang dipetiknya itu sudah memenuhi wadah berukuran sedang.

Selain menyeruput kopi sambil bersantai, tambah Sadikin, pengunjung juga dibolehkan jalan-jalan sambil menikmati keindahan ladang kopi miliknya. Ia sengaja mendesain konsep warung seperti ini, sehingga memudahkan wisatawan untuk melihat langsung proses pembuatan kopi. Ini juga bagian dari memvisualkan budaya masyarakat Gayo yang sangat bersabahat dengan kopi.

Disini mereka bisa melihat langsung bagaimana cara merawat, memanen, mengolah hingga menyajikan dalam secangkir kopi hitam bercitarasa tinggi. Ia mengaku, cafe miliknya sengaja dirancang dengan konsep alam yang ramah lingkungan, sehingga kelestarian alam begitu terjaga.

“Jadi pengunjung kemari tak hanya sekedar ngopi aja. Tapi bisa melihat tradisi masyarakat Gayo yang tidak lepas dari kopi. Wisatawan dapat melihat kilas balik dari proses pembuatan kopi dari awal hingga akhir,” ujar Sadikin

Tak terasa, azan Magrib berkumandang lewat pengeras suara di masjid-masjid. Kami pun segera beranjak dari ladang untuk menunaikan salat. Tak lama berselang, perjalanan kami lanjutkan kembali ke kota Takengon. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT