Pulo Aceh, Sekeping Surga di Tanah Rencong

Joel Bungalow : Wisata Adalah Sektor Riil Investasi di Aceh

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM - “Berbicara sektor pariwisata itu riil, karena dengan dengan hidupnya sektor pariwisata di Aceh, otomatis sektor kuliner juga berkembang. Ini...

Wali Nanggroe, Semoga Tidak Ada Lagi Generasi Aceh yang Direhabiltasi

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haytar berharap, di masa-masa mendatang tidak ada generasi muda...

Hayeu ! Band “Keubibit” Asal Aceh Sukses Raih AMI Award 2020

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM - Group Musik etnik asal Aceh Keubibit berhasil meraih Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2020. Pengumuman keberhasilan itu sisampaikan melalui televisi...

Ketua DPRA : APBA 2021 Harus Selesaikan Persoalan Kemiskinan di Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Ketua DPR Aceh, Dahlan Jamaluddin menegaskan bahwa, anggaran pendapatan dan belanja Aceh (APBA) tahun anggran 2021 harus dipergunakan sebaik...

Terjaring OTT, KPK Umumkan Status Hukum Wali Kota Cimahi Besok

JAKARTA | Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna yang terjerat operasi tangkap tangan (OTT) atas dugaan suap terkait perizinan rumah sakit masih diperiksa di...

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM – Kelopak mata Dyah Erti Idawati tak berkedip. Seraya memarkir sepedanya, Wakil Ketua PKK Aceh ini merasa takjub tatkala memandangi keindahan Pulo Aceh. Salah satu pulau terluar di ujung barat Sumatera ini menyimpan keindahan alam bahari. Baginya, pemandangan lebatnya hutan yang bersisian di birunya lautan adalah suatu yang istimewa.

“Tidak pernah kita lihat di mana pun. Pulau ini sangat istimewa,” kata Dyah Erti Idawati pada Sabtu (25/7).

Hutannya juga masih lestari. Anda dengan mudahnya menemukan sepasang rangkong (buceros), sejenis burung langka yang punya paruh tanduk sapi atau elang yang terbang tak terlalu tinggi.

Di penghujung Juli 2020, istri Plt Gubernur Aceh ini datang bersama seratusan rombongan pesepeda, dalam acara Gowes Bersama Forkopimda Aceh. Turut hadir Panglima Kodam Iskandar Muda serta Waka Polda Aceh.

Titik start dari dermaga perikanan BPKS di Gampong Ulee Paya, peserta akan menempuh rute yang berliku. Mulai dari pegunungan, hutan hingga pinggiran pantai. Jalur yang amat terjal membuat banyak pesepeda yang ‘tumbang’ sebelum sempat menyentuh rute akhir di Mercusuar William’s  Torrent.

Dari Ulee Paya ke William’s Torrent harus melewati enam gampong sebelum sampai di Meulingge, desa tempat mercusuar berada. Jaraknya sekitar 20 kilometer. Memang rutenya agak sulit ditempuh jika fisik tidak prima. Namun begitu tiba di mercusuar, letih akan terbayar saat menikmati panorama pantai dan gunung dari ketinggian.

Saat menanjak satu per satu anak tangga yang dipasang melingkar, anda seperti diajak masuk ke lorong waktu. Bau pengap dan bagai terkurung dalam sebuah lorong. Tanjak lah perlahan. Rasakan angin yang masuk lewat jendela-jendela kecil yang dibuat pada beberapa bagian di sekeliling mercusuar. Saat menginjak tangga akhir dan keluar di pucuk menara, anda akan lupa rasa letih. Angin di ketinggian 85 meter di atas permukaan laut berhembus perlahan. Jika ada lantunan musik dan gelak tawa maka akan terdengar nyaring, dibawa angin.

Dari pucuk menara, arahkan pandangan ke Samudera Hindia membentang luas, hingga berbatas pandangan mata. Dari sanalah, puluhan, bahkan ratusan kapal melintas setiap harinya. Laut di Meulingge, berbatas langsung dengan lintasan internasional.

“Ini yang pertama sekali. Luar biasa keindahannya. Yang kita rasakan sesuai dengan apa yang diceritakan,” kata Dyah Erti Idawati.

Sebelumnya, ia hanya mendengar cerita-cerita keindahan pulau di ujung Sumatera ini. Namun kini ia berkesempatan datang menikmatinya langsung.

Mercusuar William’s Torrent dibangun Kolonial Belanda di nusantara pada tahun 1875. Bangunan bergaya eropa ini, didirikan di atas cadas yang curam dan menjorok langsung ke laut. Masyarakat sekitar menyebut mercusuar dengan nama lampu. Tebal bangunannya mencapai satu meter, dengan ketinggian 85 meter.

Konon, mercusuar ini hanya ada tiga di dunia. Pasangannya, di Kepuluan Karibia, yang menjadi tempat penggarapan film Pirates of Caribian. Sementara yang satunya lagi, telah dijadikan museum di Belanda. Nama William’s Torren, diambil dari nama Raja Luxemburg, Willem Alexander Paul Frederich Lodewijk. Pada masa itu, ia dikenal sebagai raja yang ikut membangun perekonomian dan infrastruktur daerah kekuasaan Hindia Belanda. Karena itu, nama dia disematkan di Mercusuar di Meulingge.

Dibangunnya mercusuar, sebagai persiapan pembangunan pelabuhan Sabang, yang menjadi lintas selat malaka. Saat itu, Pelabuhan di Sabang menjadi tempat persinggahan kapal-kapal kolonial.

Pangdam Iskandar Muda, Mayjen Hasanuddin, menyebutkan bahwa Pulo Aceh sangat punya potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari.

“Setelah tiba di sini saya melihat potensi yang sangat bagus. Pantainya begitu bagus. Tentunya pemerintah daerah punya rencana bagus untuk pembangunan Pulo Aceh ini,” kata Mayjen Hasanuddin.

Jenderal bintang dua ini menyebutkan, usai sukses menggelar acara di Pulo Aceh, jajaran Forkopimda Aceh bakal menyasar daerah-daerah lain di Aceh. Gagasan pimpinan mengunjungi daerah dinilai sangat bagus. Di samping melihat kondisi daerah, tentu kunjungan tersebut dapat berdampak pada peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Sementara Dyah memandang, kunjungan petinggi daerah ke wilayah pedalaman yang punya potensi wisata seperti Pulo Aceh sangatlah bagus. Mereka punya koneksi-koneksi di luar Aceh yang tentunya bakal mengampanyekan keindahan alam.

“Kita doakan covid segera berlalu, nanti Pak Pangdam, Pak Kapolda akan ajak koneksi beliau untuk wisata ke mari,” kata Dyah. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

HEADLINES

Joel Bungalow : Wisata Adalah Sektor Riil Investasi di Aceh

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM - “Berbicara sektor pariwisata itu riil, karena dengan dengan hidupnya sektor pariwisata di Aceh, otomatis sektor kuliner juga berkembang. Ini...

Wali Nanggroe, Semoga Tidak Ada Lagi Generasi Aceh yang Direhabiltasi

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haytar berharap, di masa-masa mendatang tidak ada generasi muda...

Hayeu ! Band “Keubibit” Asal Aceh Sukses Raih AMI Award 2020

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM - Group Musik etnik asal Aceh Keubibit berhasil meraih Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2020. Pengumuman keberhasilan itu sisampaikan melalui televisi...

BERITA TERKAIT

Joel Bungalow : Wisata Adalah Sektor Riil Investasi di Aceh

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM - “Berbicara sektor pariwisata itu riil, karena dengan dengan hidupnya sektor pariwisata di Aceh, otomatis sektor kuliner juga berkembang. Ini...

Wali Nanggroe, Semoga Tidak Ada Lagi Generasi Aceh yang Direhabiltasi

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haytar berharap, di masa-masa mendatang tidak ada generasi muda...

Hayeu ! Band “Keubibit” Asal Aceh Sukses Raih AMI Award 2020

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM - Group Musik etnik asal Aceh Keubibit berhasil meraih Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2020. Pengumuman keberhasilan itu sisampaikan melalui televisi...