Politik “Plah Trieng” ala Snouck Hurgronje di Aceh

Jakarta – Sang orientalis duduk sebagai penasihat pemerintah kolonial Belanda. Dengan bernama alias Abdul Ghaffar, Christian Snouck Hurgronje (1857-1936) memata-matai Muslimin dari dekat. Anak seorang pendeta yang fasih bahasa Arab ini menemukan, kaum feodal di negeri jajahan dapat dipecah belah. Salah satunya adalah dengan menjauhkan pemikiran Islam dari politik. Pengaruhnya dalam wacana publik di Indonesia terasa hingga saat ini. Snouck Hurgronje berpengaruh besar dalam sejarah kolonialisme di Indonesia. Di Negeri Kincir Angin, sang orientalis ini diakui secara luas sebagai peletak dasar politik kolonial dalam menghadapi perjuangan Islam di tanah jajahan Hindia – Belanda.
Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda (1986) menuturkan, Christiaan lahir pada 8 Februari 1857. Keluarga lelaki kelahiran Oosterhout, Belanda, itu tergolong pemuka agama Kristen. Suatu sumber menyebut, sebelum menjadi pemeluk Protestan yang taat, keluarga besarnya berdarah Yahudi yang berasimilasi sejak tinggal di Negeri Kincir Angin.

Ayah Christiaan merupakan seorang pendeta Kristen bernama JJ Snouck Hurgronje. Menurut Suminto, JJ Snouck telah beristri saat menjalin hubungan gelap dengan Anna Maria, yakni putri rekan sejawatnya, Pendeta Ds Christiaan de Visser.

Empat orang anak lahir dari jalinan asmara tersebut. Di antaranya adalah Christiaan Snouck Hurgronje sebagai anak keempat. Skandal perselingkuhan itu akhirnya terkuak. JJ Snouck pun dipecat dari Gereja Herformd di Zeeland pada 3 Mei 1849. Sesudah istri pertamanya meninggal dunia pada 31 Januari 1855, JJ Snouck menikah secara resmi dengan Anna Maria.

Nama depan Christiaan Snouck Hurgronje tampaknya terinspirasi dari kakeknya, Christiaan de Visser. Hal ini seakan-akan mengakui reputasi dari garis keturunan ibunya. Buyutnya –ayah kakeknya– adalah Ds J Scharp, seorang pendeta sekaligus orator ulung di Rotterdam.

Pada 1824, Scharp merampungkan Korteschets over Mohammed en de Mohammedanen: Han dleiding voor de kwekelingen van het Nederlandsche Zendelingge nootschap (‘Gambaran sekilas tentang Muhammad dan Pengikut Muhammad: Panduan bagi Misionaris Belanda dalam Memengaruhi Masyarakat’). Dengan karyanya itu, si penulis berupaya mengurai kelemahan-kelemahan Islam. Buku tersebut menjadi salah satu bacaan wajib bagi calon misionaris Kristen dari kota setempat.

Christiaan Snouck Hurgronje kecil tumbuh menjadi anak yang serba ingin tahu. Sebagai murid sekolah menengah (hogereburgerschool) di Breda, ia belajar menguasai bahasa Latin.

Selanjutnya, remaja 17 tahun itu terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Leiden. Empat tahun lamanya ia menempuh studi di Fakultas Teologi. Selama di kampus, ia menaruh minat terhadap pandangan modern dalam memahami ilmu teologi. Kecenderungan demikian tak lepas dari pengaruh pemikiran para tokoh modernis masa itu, semisal Abraham Keunen (1828-1891).

Dari Keunen, Christiaan belajar tentang analisis kritis dan rasional atas Perjanjian Lama dan Bibel. Dalam batas-batas tertentu, metode itu cukup kontroversial karena menolak beberapa elemen ajaran Kristen. Misalnya, penolakan terhadap posisi Yesus sebagai anak Tuhan atau konsep trinitas.

Aliran pemikiran ini sangat dipengaruhi liberalisme sekaligus Darwinisme. Paham itu memandang agama hanyalah kesadaran etis yang timbul dari diri manusia. Eropa (Barat) dan Kristen juga dipandang sebagai puncak evolusi kebudayaan umat manusia.

Alhasil, bangsa-bangsa Asia harus diperadabkan Barat. Para orientalis yang berpaham demikian mengecap Islam sebagai penyimpangan atas ajaran Yesus. Karena itu, mereka menyebut Islam dengan istilah peyoratif: Mohammedanism, ‘ajarannya Muhammad’.

Pada April 1878, Christiaan lulus sehingga berhak menyandang gelar sarjana muda. Ia kemudian memutuskan tak lagi mengejar karier sebagai calon pendeta, melainkan ahli ilmu-ilmu Timur (Oriental). Sejak saat itu, ia mulai mempelajari filologi Semit, terutama dari dua orientalis tersohor Belanda, Reinhard Dozy dan MJ de Goeje. Atas saran de Goeje, ia tinggal di Strasbourg, Prancis, untuk belajar bahasa Arab dan Aramaik dari ahli kebudayaan Semit, Theodor Noldeke (1836-1930).

Pada 1880, Christiaan berhasil mempertahankan disertasinya, Het Mekkansche Feest (‘Perayaan Makkah’). Pemuda 23 tahun itu pun lulus dengan predikat cumlaude dan berhak menyandang gelar doktor ilmu sastra Semit dari Universitas Leiden. Setelah itu, ia menjadi pengajar pada lembaga pendidikan khusus calon pegawai yang akan dikirim ke Hindia Belanda.

“Lima bulan di Jeddah, Christiaan menyatakan diri memeluk Islam dan memilih nama baru.

Menjadi mata-mata

Sejak masih berupa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC/Kompeni), penjajahan Belanda di Nusantara umumnya menghadapi perlawanan dari umat Islam. Para haji merupakan motor penggerak jihad kaum Muslim. Sepanjang abad ke-18, Kompeni memberlakukan pelbagai aturan yang merintangi atau bahkan mencegah pemuka-pemuka Muslim untuk pergi ke Tanah Suci.

Bagaimanapun, tak sedikit yang lolos. Selama di luar negeri, jamaah haji asal nusantara mendapatkan inspirasi dari sejumlah ulama Jawi yang bermukim di Haramain. Misalnya, Syekh Abdus Samad al-Palimbani (1704-1789). Alim tersebut menulis Fadha’il Jihad (‘Keutamaan Jihad’).

Di dalamnya, ia menegaskan, kaum Muslim wajib berjihad melawan kaum kafir yang datang menindas. Kitab ini diterima dengan antusias umat Islam di Tanah Air.

Di Aceh, umpamanya, karya sang syekh mengilhami Hikayat Prang Sabil yang mengobarkan semangat perjuangan rakyat, ulama, sekaligus umara setempat dalam melawan Belanda.

Setelah Kompeni bangkrut, kolonialisme ditangani langsung Kerajaan Belanda. Dan, kaum haji masih menjadi sumber perlawanan yang begitu ditakuti pemerintah kolonial. Belanda membuka kantor konsulat di Jeddah, Semenanjung Arabia, pada 1872. Fungsinya untuk mengawasi gerak-gerik jamaah haji asal Hindia Belanda. Sebelum tiba di Makkah atau Madinah, tiap orang nusantara harus mendapatkan cap paspor dari konsulat tersebut.

JA Kruijt, konsul periode 1878-1885, bersurat kepada Menteri Luar Negeri. Isinya meminta agar Christiaan Snouck Hurgronje ditugaskan ke Jazirah Arab untuk meneliti hubungan antara ibadah haji, gerakan Pan-Islam dan tarekat. Kruijt meyakini, Christiaan –meskipun kala itu baru berusia 27 tahun– mumpuni dalam bidang ini.

Alumnus Leiden itu tiba di Jeddah pada 24 Agustus 1884. Dengan cepat, ia akrab dengan Raden Aboe Bakar Djajadiningrat, anak mantan bupati Pandeglang yang sudah lima tahun bekerja sebagai penerjemah di konsulat. Lima bulan di Jeddah, Christiaan menyatakan diri memeluk Islam dan memilih nama baru: Abdul Ghaffar.

Aqib Suminto menjelaskan, Abdul Ghaffar alias Christian berhasil tinggal di Makkah sejak 21 Februari 1885. Tujuannya jelas, mengamati penyelenggaraan rukun Islam kelima itu dari dekat. Ia juga membuat laporan tentang jamaah haji, khususnya yang berasal dari Hindia Belanda.

Namun, pada Agustus ia diusir dari Tanah Suci sebelum musim haji. Menurut Henri Chambert-Loir dalam Naik Haji di Masa Silam: Kisah-kisah Orang Indonesia Nak Haji 1482-1964, Christiaan dituduh terlibat pembunuhan Charles Huber, seorang arkeolog asal Prancis yang juga penulis risalah penjelajahan di Tanah Arab. Motif kasus yang terjadi pada Juli 1884 itu tak jelas –apalagi alasan mengapa Christiaan dilibatkan dalam perkara tersebut.

Bagaimanapun, waktu selama delapan bulan di Makkah dapat dimanfaatkan Christiaan secara maksimal. Ia sempat bertemu sejumlah orang penting, termasuk Syekh Ahmad Dahlan, seorang mufti mazhab Syafii. Ia juga memperoleh beragam data yang menjadi bahan penulisan bukunya tentang Kota Suci.

Chambert-Loir berpendapat, karya tersebut adalah studi etnografis yang mengagumkan. Sebab, isinya mengungkapkan sumber informasi yang tidak tertandingi tentang komunitas Jawi dan para jamaah haji dari Indonesia pada akhir abad ke-19.

Di balik misi rahasia

Advertisement

Bagaimana Christiaan Snouck Hurgronje bisa memasuki Makkah, kota yang tertutup bagi non-Muslim itu? Pertama-tama, kita mesti ingat. Sarjana tersebut menggunakan nama samaran yang terdengar begitu islami: Abdul Ghaffar.

Selain itu, ia fasih berbahasa Arab. Bahkan, beberapa sumber menyebut Christiaan hafal Alquran dan piawai mengutip kitab-kitab hadis yang otoritatif. Di samping itu, ia pun selalu mengenakan busana jubah Arab setidaknya sejak lima bulan di Jeddah.

Tak mengherankan bila ia memancarkan kesan sebagai seorang Muslim. Namun, ia tentu tak hanya mengandalkan dirinya sendiri. E Gobee dalam pengantar Nasihat-nasihat C Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936 menjabarkan tentang bagaimana sang orientalis bisa menembus Makkah.

Dalam memoarnya, Christiaan mengakui, dia sejak di Negeri Belanda telah berhasrat untuk dapat pergi ke Makkah. Ia ingin menyaksikan dan merasakan langsung denyut aktivitas Mohammedan dari berbagai penjuru bumi di jantung dunia Islam itu. Misi yang diberikan pihak konsulat Belanda itu pun disambutnya dengan baik.

Untuk bisa melewati gerbang Kota Suci, seseorang pastinya harus merupakan Muslim. Demi keamanan dan kelancaran misinya, Christiaan pun berpura-pura memeluk Islam. Ini kelak diakuinya dalam sebuah surat teruntuk orientalis Jerman, Carl Bezold, tanggal 18 Februari 1886.

Sekitar sebulan sebelum keberangkatannya ke Makkah, Christiaan menerima sejumlah tamu penting di konsulat Jeddah. Mereka adalah gubernur Hijaz yang berkedudukan di Makkah dan wakil khalifah Utsmaniyyah di Istanbul. Turut hadir pula, seorang qadi Jeddah. Dua hari kemudian, sang gubernur mengundang Abdul Ghaffar alias Christiaan untuk kemungkinan perjalanan ke Kota Suci. Sebab, sarjana ini dianggapnya sebagai seorang tamu.

Segalanya tampak berjalan sesuai rencana. Ya, pihak konsulat memang telah merencanakan perjumpaan Christiaan dengan para pembesar itu sebelum sang orientalis sampai di Jeddah. Pihak konsulat telah menjalin relasi dengan kelompok penunjuk jalan calon haji –yang disebut syekh– di Makkah. Dengan mengandalkan para syekh itu, diundanglah sejumlah alim ulama dari kota kelahiran Rasulullah SAW.

Alasannya, ada seorang sarjana muda Belanda yang baru saja tiba di Jeddah. Pemuda cerdas ini ingin berdiskusi dengan ulama-ulama Makkah untuk menyelesaikan studinya tentang agama. Maka, terjadilah pertemuan yang telah dirancang itu. Abdul Ghaffar alias Christiaan berbicara panjang lebar. Secara implisit, ia menunjukkan keluasan pengetahuannya mengenai Islam.

Maka, para tamu dari Makkah menerangkan bahwa sikap Snouck Hurgronje (Abdul Ghaffar-Red) terhadap agama Islam sudah jelas bagi mereka. “Kata mereka, ‘Kami merasa bahwa Anda seorang di antara kami.’ Dengan jalan ini, terbukalah baginya jalan ke Makkah,” tulis Gobee.

“Kata mereka, ‘Kami merasa bahwa Anda seorang di antara kami.’ Dengan jalan ini, terbukalah baginya jalan ke Makkah”

Christian tak sekadar melaksanakan perintah. Ia pun ikut menggodok konsep misi rahasia ini. Pertemanannya dengan Raden Aboe Bakar Djajadiningrat, seorang pelajar di Makkah, pun bagian dari skenarionya. Anak keturunan bangsawan Sunda itu difungsikannya sebagai informan.

Dengan tugas ini, Christiaan tampaknya hendak mengikuti jejak orientalis Ignac Goldziher (1850-1921). Sarjana itu merupakan pemeluk Yahudi yang taat hingga akhir hayatnya. Pada 1870-an, ia diterima sebagai murid para syekh di Masjid al-Azhar, Kairo. Hal itu sukar terjadi bila orang-orang setempat tak memercayainya sebagai Muslim tulen.

Namun, tak seperti Goldziher, Christiaan lebih suka menyebut dirinya pengamat, alih-alih partisipan, saat berada di tengah komunitas Muslimin. Maknanya, ia lebih suka berjarak, sekalipun sudah mengaku sebagai orang Islam. Kesan yang timbul, dia sebagai subjek peneliti, sedangkan masyarakat yang diteliti hanyalah objek belaka.

Lebih lanjut, seperti diterangkan Kevin W Fogg dalam Seeking Arabs but Looking at Indonesians: Snouck Hurgronje’s Arab Lens on the Dutch East Indies (2014), orientalis tersebut mengalami bias Arab. Selama di Tanah Suci, Christiaan cenderung timpang dalam menggambarkan orang-orang Jawi –nusantara– yang bermukim atau jamaah haji di sana. Baginya, mereka lebih inferior daripada Arab, baik dalam hal keagamaan maupun profan.

Dalam sebuah catatannya, Christiaan menuturkan, suatu kali ia dan kawannya berjalan di Masjid al-Haram. Ia mendapatkan kesan, sedikit sekali orang Jawi yang menjadi pengajar di sana. Seorang warga Makkah menyebut nama Syekh Zainuddin dari Sumbawa. Secara implisit, orientalis ini menghakimi, hanya satu orang syekh dari nusantara yang mengajar di Kota Suci, padahal begitu banyak umat Islam dan jamaah haji asal kepulauan tropis itu.[]

Sumber : Republika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT