Milad ke-44 GAM dan Kisah Halimon Gunong Aulia

SIGLI | ACEHJURNAL.COM – Pagi itu, cuaca langit di penghujung November 2020 lalu terlihat cerah.  Arah jarum jam menunjukkan pukul 10.30 WIB. Gumpalan kabut tebat masih menyelimuti perbukitan Tangse, Kabupaten Pidie.

Sembari menyeruput segelas kopi liberika khas Tangse, mata saya tertuju ke atas puncak pegunungan Halimon berdiri kokoh. Bagi masyarakat Aceh, khususnya kombatan GAM-sebutan Gunong Aulia ini sangatlah bernilai historis. Pada 4 Desember 1976 lalu, sang deklarator GAM, Allahyarham Teungku Hasan Muhammad di Tiro mengobarkan perlawanan dengan Pemerintah Republik Indonesia. Disana, ia bersama rekan seidenya mendeklarasikan kemerdekaan bagi Aceh-Sumatera. Di hari itu juga, ia membentuk kabinet yang bernaung di bawah bendera Aceh-Sumatera National Liberation Front (ASNLF).

Baca : Sempat Berkibar di Masjid Raya Baiturrahman, Nurzahri : Secara Legalitas Sudah Sah Bendera Aceh

Akhirnya, redaksi AcehJurnal.com berinisiatif untuk melihat puncak Halimon dari dekat. Nasrullah, warga desa Blang Dhod, kecamatan Tangse mangatakan, untuk mencapai ke puncak gunung Halimon sangat tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan sepanjang perbukitan sangat terjal dan cadas. Bila saat musim penghujan, sepanjang lintasan bukit ini sangat licin.

“Siat teuk tajak u Blang Pandak, sinan leubeh toe takalon gunong Halimon (sebentar lagi kita akan ke Blang Pandak, disana lebih dekat kita melihat gunung Halimon),” kata Nasrullah kala itu.

Aktifitas warga Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Pidie. Foto Taufik Ar Rifai
Aktifitas warga Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Pidie. Foto Taufik Ar Rifai

Blang Pandak adalah sebuah desa yang terletak di pedalaman kota Tangse. Saat konflik berkecamuk, desa yang terletak di kaki bukit pegunungan Halimon ini dikenal sebagai zona hitam. Desa yang diapit oleh perbukitan dan lembah ini merupakan markas perlindungan GAM.

Sepanjang perjalanan, hamparan persawahan dan puncak bukit yang berpadu padan dengan lembah. Gemercik suara air nan jernih sungai terlihat jelas di kaki perbukitan jalan. Meski demikian, akses menuju ke desa Blang Pandak tidaklah mudah. Ini dikarenakan jalanan berbatu dan berlubang sehingga motor yang diboncengi Nasrul hanya bisa merangkak pelan. Meski jarak tempuh antara sekitar 15 kilometer dari desa Blang Dhot, butuh 40 menit bagi kami untuk tiba ke desa Blang Pandak.

“Si umu hudep lon gohlom pernah ku ek meusigo pih u ateuh. Peulom watee ujeuen that glue, asai ka supot kayem ditoh ujeuen sinan. Bahpih musem khueng (seumur hidup saya belum pernah sekalipun ke atas sana. Apalagi saat musim hujan sangat licin sekali, kalau sudah sore sering turun hujan. Biarpun itu di musim kemarau),” ujar Nasrullah.

Gunung Halimon kini telah melegenda bagi masyarakat Aceh, khususnya eks kombatan. Gunung ini memiliki nilai historis sendiri karena merupakan napak tilas dari sejarah lahirnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dikutip dari berbagai sumber, gunung Halimon meurpakan tempat dimana Dr. Muhammad Hasan di Tiro bersama rekan seidenya memploklamirkan Aceh Merdeka pada 1976. Konon lagi, di puncak gunung tersebut, Hasan Tiro penah mendirikan sekolah ideologi.

“Di ateuh puncak nyan, almarhum wali na geuglong sion bendera bintang buleuen. Sampe jinohat mantong na dan hana rusak meubacut pih (di atas puncak itu, almarhum wali (Hasan Tiro-red) pernah mengibarkan selembar bendera bintang bulan. Sampai sekarang masih ada dan tidak rusak sedikitpun),” ujar salah satu eks kombatan GAM yang enggan disebutkan namanya.

Pria berperawakan tinggi besar dan berambut cepak ini mengaku, untuk mencapai ke atas puncak gunung Halimon sangat tidaklah mudah. Selain medannya yang terjal dan licin, pandangan agak sedikit terbatas. Hal ini dikarenakan sepanjang perjalanan selalu diselimuti kabut. Begitu halnya dengan pacat, sejenis binatang penghisap darah yang patut diwaspadai. Konon lagi, beragam cerita dan pengalaman mistis yang pernah dirasakan masyarakat setempat. Contohnya, jika ada yang mendaki gunung sambil bersiul dan bercanda ria pasti akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, seperti tersesat dan bahkan akan menjumpai binatang buas seperti harimau ataupun ular besar.

“Peulom meunyoe na ureueng nyang niet broek, watee bak teungoh jalan akan seusat dan hana meurumpok lee. Watee tateupeu sigoe ka meubee jeut keu mayet watee diteumeung lee ureueng (apalagi kalau ada orang yang bermaksud tidak baik, waktu diperjalan akan tersesat dan tidak pernah ditemukan lagi. Waktu kita ketahui nanti sudah membusuk jadi mayat saat ditemukan oleh warga),” ujarnya lagi.

Sungai yang membelah Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Pidie. Foto Taufik Ar Rifai
Sungai yang membelah Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Pidie. Foto Taufik Ar Rifai

Hal senada juga diungkapkan Samsul Bahri A. Wahab, warga desa Blang Dhot. Eks kombatan dan juga anggota DPRK Pidie dari Fraksi Partai Aceh ini mengaku, gunung Halimon memiliki legenda dan nilai historis sendiri baginya maupun sesama rekan seperjuangannya. Pasalnya, gunung yang akrab disapa “gunong Aulia” ini menjadi rumah paling aman dan tak pernah tersentuh oleh pasukan pemerintah semasa Darurat Militer diterapkan. Ia mengaku, TNI/Polri hanya mampu memburu gerilyawan GAM ketika hendak turun ke desa Blang Pandak. Maka tak heran desa setempat menjadi medan perang terbuka antara TNI/Polri dengan pejuang GAM ketika masih berseberangan ideologi kala itu.

“Begitu juga jika ada yang berniat baik, saat tersesat dia akan menjumpai sebuah desa yang penduduknya ramah dan hidupnya rukun. Mereka akan membantu orang yang tersesat dengan memberikan makanan dan tumpangan di rumah mereka. Karena dari segi sejarahnya, gunung ini adalah tempat para aulia dan keramat. Apalagi disana banyak sekali pejuang Aceh yang syahid masa penjajahan Belanda,” ujar Samsul Bahri.

Matahari mulai condong ke ufuk barat. Aku dan Nasrullah berpamitan kepada warga setempat. Di atas motor yang meliuk-liuk pelan melewati medan yang licin dan berlumpur. Terbayang nama desa Blang Pandak dan gunung Halimon sebagai jejak historis yang melegenda. Dulu, kawasan ini merupakan kastil pertahanan, namun kini mulai terlupakan dan hanya menyisakan sejarah.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

HEADLINES

30 Bilik Santri Dayah Serambi Mekkah di Aceh Barat Terbakar

Meulaboh | AcehJurnal.com - Tiga Puluh bilik atau rangkang santri di Pesantren Serambi Mekkah Gampong Blang Beurandang Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat pada Kamis...

Soal Aceh Siap Gelar Pilkada 2022, Begini Kata Safaruddin

Banda Aceh | AcehJurnal.com - Wakil Ketua DPR Aceh, Safaruddin mengatakan Aceh sudah siap menggelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Aceh tahun 2022 mendatang....

PLN Sediakan Token Listrik Gratis 2021, Yuk Cek Disini

Jakarta - Token listrik gratis Januari 2021 bisa diakses dengan aplikasi PLN mobile. Akses lewat aplikasi memudahkan para penerima stimulus listrik dari PLN selama pandemi...

BERITA TERKAIT

30 Bilik Santri Dayah Serambi Mekkah di Aceh Barat Terbakar

Meulaboh | AcehJurnal.com - Tiga Puluh bilik atau rangkang santri di Pesantren Serambi Mekkah Gampong Blang Beurandang Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat pada Kamis...

Soal Aceh Siap Gelar Pilkada 2022, Begini Kata Safaruddin

Banda Aceh | AcehJurnal.com - Wakil Ketua DPR Aceh, Safaruddin mengatakan Aceh sudah siap menggelar pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Aceh tahun 2022 mendatang....

PLN Sediakan Token Listrik Gratis 2021, Yuk Cek Disini

Jakarta - Token listrik gratis Januari 2021 bisa diakses dengan aplikasi PLN mobile. Akses lewat aplikasi memudahkan para penerima stimulus listrik dari PLN selama pandemi...