Meugang, Tradisi Masyarakat Aceh Sambut Ramadhan

Banda Aceh | AcehJurnal.com – Hari masih pagi, Minggu (11/4/2021). Jarum jam masih menunjukkan pukul 06.15 WIB. Ibnu Abbas (54), warga Ie Masen Kayee Adang, Kecamatan Ulee Kareng kota Banda Aceh langsung memanaskan mesin sepeda motor miliknya. Ia bersiap-siap menuju ke pasar Ulee Kareng.

“Uroe nyoe keuneud jak u peukan bloe sie meugang (hari ini mau ke pasar hendak beli daging meugang),” kata Ibnu Abbas kepada AcehJurnal.com.

Sepuluh menit kemudian, Ibnu Abbas tiba di pasar Ulee Kareng. Pagi itu, suasana pasar terlihat ramai. Selain menjual aneka sayuran, juga dijejali lapak pedagang daging sapi di sejumlah titik.

Harga Daging Meugang di kota Banda Aceh Tembus Rp 185 Ribu hingga Rp 200 ribu per Kilogram

Meski di tengah pandemi covid-19, tak menyurutkan langkah warga berburu daging meugang. Fenomena tahunan ini merupakan salah satu anthusias masyarakat Aceh menyambut bulan suci ramadhan yang serentak dilaksanakan pada Rabu (14/4/2021) mendatang.

Di bumi Serambi Mekkah  tadisi tahunan ini dikenal dengan istilah “meugang”. Tradisi unik ini telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Aceh sejak masa Kesultanan Aceh pada tahun 1607 hingga 1636. Selain menyambut bulan suci ramadhan, tradisi ini juga dilaksanakan menyambut Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun istilah kata “meugang” itu berasal dari kata “makmu that gang nyan“ yang artinya “makmur sekali gang/pasar itu”.

Ibnu Abbas menjelaskan, meugang identik dengan simbol kebersamaan dimana warga berkumpul dan menyantai daging sapi dan kerbau bersama sanak keluarganya. Bagi masyarakat Aceh, ini merupakan ritual sakral yang telah dilakukan turun temurun. Apalagi jika ada linto baro (pengantin p

Advertisement

ria) yang baru menikah, ia wajib membawa daging meugang untuk dibagikan kepada mertuanya.

“Hari itu, menjadi pantangan bagi masyarakat Aceh untuk bertamu ke rumah tetangga. Biarpun harga dagingnya mahal, kami tetap membelinya. Momen ini tidak boleh tertinggal,” kata Ibnu Abbas.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A. Hamid. Ketika itu, Sultan Aceh memerintahkan staf ahlinya, Qadi Mu’azzam Khazanah untuk mengumpulkan dirham, kain-kain, kerbau dan sapi untuk dipotong di hari Meugang.

Menurutnya, tradisi meugang itu berawal ketika para bangsawan (uleebalang-red) di Aceh berbagi rezeki kepada rakyat miskin, kaum dhuafa dan anak yatim. Kebiasaan bangsawan ini ditandai dengan penyembelihan hewan ternak seperti sapi, kerbau ataupun kambing yang kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada masyarakat secara merata.

“Daging yang disembelih itu nantinya dibagi-bagikan kepada rakyat miskin, yatim piatu melalui keuchik (kepala desa-red). Kebijakan itu termaktub dalam Qanun Al Asyi Meukuta Alam,” ujar Ketua Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A. Hamid.

Sosok yang akrab disapa Cek Midi ini menjelaskan, tradisi itu merupakan simbol ataupun cara Sultan Aceh menolong rakyatnya agar bisa menyambut ramadhan dan Idul Fitri dengan hati senang. Selain itu, meugang itu juga merupakan kesempatan bagi para dermawan untuk bersedekah bagi para fakir miskin, kaum dhuafa ataupun yatim piatu, sehingga mereka bisa merasakan nasib yang sama.

“Meugang itu sudah menjadi warisan budaya rakyat Aceh dan sudah diwajibkan untuk menjaga kemurniannya demi kebersamaan dan kemasalahan ummat. Tradisi ini secara filosofisnya menggambarkan rasa kebersamaan tanpa membedakan status ataupun pangkat, sebab secara Islam manusia itu sama di hadapan Allah,” pungkasnya. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT