Merawat Ingatan, Bangkit Dari Trauma

Banda Aceh | AcehJurnal.com – John Kapoor Chandra Irani (48) tak sempat berpikir panjang. Pria berparas India itu lari terbirit-birit saat melihat gelombang hitam setinggi 10 meter mendekat. Bencana itu belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan sejak dalam pikiran.

Pagi itu, 26 Desember 2004 atau 16 tahun silam. Gempa bermagnitudo 9,1 mengguncang daratan Tanah Rencong. Rumah yang ditinggalinya bersama keluarga di kawasan Lampaseh Kota, Kecamatan Kutaraja, kota Banda Aceh turut terimbas.

Saat bumi berguncang hebat, penghuni rumah riuh. Seisi rumah sempat panik. Alat-alat studio radio Kontiki milik paman istrinya, Teuku Yuski berhamburan. Tak biasanya Aceh dirundung gempa yang begitu mahadahsyat.

Goncangan itu cukup mengagetkan. Sejumlah bangunan runtuh, bahkan bangunan bertingkat dua ikut rubuh.

Pasca gempa, warga desa mendadak riuh. Jejeran bangunan rumah toko (ruko) yang berjarak sepelemparan batu dari rumahnya juga tumbang mencium tanah.

[Foto] Tafakkur Peziarah Makam Syuhada di Tengah Pandemi

John ketika itu masih melongo memandangi seluruh bangunan roboh, tetiba suara gemuruh datang dari arah laut. Perlahan teriakan orang-orang mulai terdengar.

“Tiba-tiba ada orang berteriak air naik, air naik,” kata John Kapoor Irani kepada AcehJurnal.com saat ditemui di kuburan massal Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Sabtu (26/12)3

John dan istrinya saat berziarah ke kuburan massal Siron. Foto Taufik Ar Rifai
John dan istrinya saat berziarah ke kuburan massal Siron. Foto Taufik Ar Rifai

Kalimat ‘air naik’ tak sempat dicerna dengan baik oleh pria keturunan India itu. Ia malah berpikir itu cuma gelombang pasang biasa. Tapi anggapannya justru salah. Selang beberapa saat, gelombang besar mulai terlihat dari kejauhan.

Sontak gemuruh air kian terdengar disertai ledakan demi ledakan tercipta. Suara bangunan yang dihantam air bah setinggi 10 meter itu terdengar makin jelas.

Gelombang pekat setinggi tiang listrik belum pernah dilihat sebelumnya. Ia tak punya pilihan lain selain lari menyelamatkan diri. Bersama keluarganya, Jhoni berlari hingga puluhan meter menjauh dari tsunami.

John lari tergopoh-gopoh tak tahu arah. Ia hanya berusaha menjauhi air.

Tiba-tiba, gelombang air langsung menghantamnya dari arah belakang. Bersama warga lainnya, ia ikut terseret air bah hingga puluhan meter. Baginya, itu situasi paling menegangkan. Dengan nada panik, ia tak bisa berbuat banyak. Ia hanya pasrah sambil membaca doa karena maut sudah di depan mata.

“Saat itu saya udah pasrah. Mungkin inilah takdir Allah memanggil saya kembali ke haribaan-NYA,” kenang John dengan mata berkaca-kaca.

Dengan suara berat, John kembali melanjutkan kisahnya. Ia bersama lainnya tersangkut di Pasar Aceh. Tanpa disadari, seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya ikut lenyap dibawa arus.

“Yang tinggal di badan hanya celana pendek. Begitu keluarga saya yang lain hilang,” kata John.

Saat gelombang surut, John pun mencoba turun dari tumpukan kayu dan puing-puing sisa reruntuhan banguan. Ia bersama warga lainnya pun segera berjalan kaki menuju Masjid Raya Baiturrahman. Di masjid kebanggaan rakyat Aceh itulah, menjadi titik kumpul seluruh warga.

“Di masjid itu, saya akhirnya jumpa dengan sanak saudara yang selamat. Sementara sepupu lainnya ada yang hilang hingga saat ini,” kata John lagi.

Jhon bersama keluarganya tinggal di Lampaseh Kota Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Letaknya hanya terpaut sekitar 6 kilometer dari bibir pantai. Saat tsunami menyapu Aceh, kawasan Lampaseh Kota itu nyaris tak bersisa.

Meski sudah selamat, John masih menyimpan rasa trauma usai bencana. Bahka beberapa waktu, dia tak berani melihat laut. Trauma itu mengakar seiring dengan kondisi kamp pengungsian yang tak kondusif.

Selama setahun lebih, ia bersama warga lainnya hidup berdampingan dengan mayat-mayat korban tsunami. Saat itu, mayat-mayat masih mudah ditemukan di sejumlah daerah terdampak. Belum lagi acap kali terdengar tangisan warga sesama pengungsi. Mereka belum melupakan peristiwa mengerikan itu. Kondisi ini terus terjadi beberapa waktu meski bencana telah usai.

Satu dekade lebih bencana usai, menjadi refleksi bagi dirinya. Berlahan ia mulai bangkit dan kembali menata kehidupannya. Baginya, ini sebagai renungan bahwa tidak ada yang mengetahui bagaimana cara seseorang menghadapi mati. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

HEADLINES

Nekad Edarkan Sabu, IRT Di Aceh Utara Dibekuk Polisi

Lhokseumawe | AcehJurnal.com - Satresnarkoba Polres Lhokseumawe berhasil menciduk seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang menjadi pengedar narkotika jenis sabu-sabu, ER (40) warga Kecamatan...

Aniaya Polisi Saat Cegah Kerumunan, Pemuda Aceh Utara Dibekuk

Lhokseumawe | AcehJurnal.com - Tim Satreskrim Polres Lhokseumawe berhasil meringkus ZF (29) warga Meurah Mulia, Aceh Utara. Tersangka ZF merupakan pelaku penganiayaan terhadap anggota...

Edarkan Sabu, Dua Residivis Diciduk Polisi di Langsa

Langsa | AcehJurnal.com – Tim Satuan Reserse Narkoba Polres Langsa berhasil mengamankan dua tersangka tindak pidana narkotika jenis sabu. Keduanya tersangka yakni berinisial TZ...

BERITA TERKAIT

Nekad Edarkan Sabu, IRT Di Aceh Utara Dibekuk Polisi

Lhokseumawe | AcehJurnal.com - Satresnarkoba Polres Lhokseumawe berhasil menciduk seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang menjadi pengedar narkotika jenis sabu-sabu, ER (40) warga Kecamatan...

Aniaya Polisi Saat Cegah Kerumunan, Pemuda Aceh Utara Dibekuk

Lhokseumawe | AcehJurnal.com - Tim Satreskrim Polres Lhokseumawe berhasil meringkus ZF (29) warga Meurah Mulia, Aceh Utara. Tersangka ZF merupakan pelaku penganiayaan terhadap anggota...

Edarkan Sabu, Dua Residivis Diciduk Polisi di Langsa

Langsa | AcehJurnal.com – Tim Satuan Reserse Narkoba Polres Langsa berhasil mengamankan dua tersangka tindak pidana narkotika jenis sabu. Keduanya tersangka yakni berinisial TZ...