Mahkamah Syar’iyah Jantho Vonis Kakek Pemerkosa Cucu Kandung di Pantai Lhok Nga 200 Bulan Penjara

Jantho | AcehJurnal.com –  Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah (MS) Jantho menjatuhkan hukuman ‘uqubat penjara selama 200 bulan kepada RS (68). Kakek bejat asal Kecamatan Lhok Nga, Aceh Besar ini terbukti memperkosa seorang anak dibawah umur, sebut saja Melati (bukan nama sebenarnya). Korban tak lain adalah cucu kandungnya sendiri. Perbuatan bejat itu dilakukan tersangka pada awal Agustus 2020 lalu di sebuah lokasi di tepi pantai Lhok Nga, Aceh Besar.

Baca juga : Kasus Kakek 78 Tahun Pemerkosa Empat Bocah di Aceh Besar Berlabuh di Mahkamah Syariah Jantho

Dalam kasus ini, bocah malang itu menjadi korban rudapaksa sang kakek bejat sebanyak tiga kali dalam waktu berbeda. Usai melampiaskan nafsu bejatnya, pelaku kerap mengancam korban agar tidak menceritakan perihal kejadian kepada siapapun.
Putusan tersebut dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum pada Senin (6/9/2021) di Ruang Sidang Utama Mahkamah Syar’iyah Jantho.

Baca : Begini Kronologis Kakek 78 Tahun Tega Perkosa 4 Bocah di Aceh Besar

Ketua Mahkamah Syar’iyah Jantho Siti Salwa, SHI. MH melalui humasnya Fadhlia S.Sy., M.H mengatakan, vonis yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim merupakan hukuman maksimal bagi pelaku pemerkosaan. Hal ini sebagaimana diatur Pasal 46 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.
Advertisement

“Setiap orang yang dengan sengaja melakukan jarimah pemerkosaan terhadap orang yang memiliki hubungan  mahram dengannya, diancam dengan ‘uqubat ta’zir cambuk 150 kali, paling banyak 200 kali atau denda paling sedikit 1.500 gram emas, paling banyak 200 bulan gram murni arau penjara paling singkat 150 bulan paling lama 200 bulan, “ sebut Fadhlia S.Sy., MH.
Fadhlia menjelaskan, Pertimbangan Mejelis Hakim menjatuhkan uqubat maksimal, karena perilaku yang dilakukan oleh pelaku tersebut sangat meresahkan masyarakat Aceh. Pasalnya, tambahnya, tatanan kehidupan masyarakat Aceh yang kental dengan nilai-nilai Islam. Sehingga perilaku tersebut tidak menghormati dan mendukung pelaksanaan syariat Islam di Aceh.
“Seharusnya ia melindungi cucu kandungnya, inj malah mengekploitasi cucunya,” kata Fadhlia.
Ia berharap, vonis yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim ini dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat Aceh, khususnya di Aceh Besar. Ia turut mengajak orangtua agar senantiasa menjaga serta mengontrol lingkungan permaianan anak. Diantaranya selalu memantau perubahan perilaku anak serta menanamkan akhlak yang terpuji.
“Dalam pergaulan dan kepada orang tua yang mempunyai anak yang belum menikah, agar dapat menjaga dan mengawasi pergaulan anak-anaknya, supaya tidak terjadi hal-hal yang dilarang dalam agama ,” tambahnya. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT