Kisah Thaib Adamy, Pimpinan PKI di Aceh  [Bagian 3)

*Kakak sulung saya dibunuh, kakak nomor dua hilang’

Dilahirkan di kota Idi, Thaib Adamy — tahun kelahirannya tidak pernah diketahui — kelak menikahi Samiah, dan memiliki sembilan anak. Dia tinggal di Banda Aceh selama menjabat salah-satu pimpinan PKI dan anggota DPRD setempat sejak akhir 1950an.

Selama gelombang pembasmian atas orang-orang komunis di Aceh setelah 1 Oktober 1965, Thaib ‘kehilangan’ Yusni dan Yasrun — anak pertama dan keduanya. Yusni — berusia 19 tahun dan siswa sekolah menengah atas — dibunuh secara brutal oleh massa anti komunis saat mempertahankan rumah orang tuanya dari aksi penjarahan.

“Waktu penjarahan itulah, abang saya paling tua dibunuh dengan bambu runcing. Lehernya bolong,” ungkap Ady dengan kalimat datar.

BACA JUGA : Kisah Thaib Adamy, Pimpinan PKI di Aceh dan Korban Pembuhan Massal 1965

Saat kejadian, Thaib Adamy dan anak kedua, Yasrun, sudah meninggalkan Banda Aceh, sementara istri dan anak-anaknya yang lebih kecil ‘diungsikan’ ke Kota Idi di pesisir timur Aceh. Jenazah Yusni ditemukan di sebuah rumah sakit, namun tidak diketahui di mana dia dikuburkan. “Tidak ada yang berani menanyakan saat itu.”

Adapun Yasrun — berusia 18 tahun — “hilang” saat menemani ayahnya dalam perjalanan meninggalkan Banda Aceh menuju Kota Takengon di Aceh Tengah, ungkap Setiady. Mereka “terpisah” setelah bus yang mereka distop oleh sekelompok orang di jalan menuju Takengon. Thaib digelandang dan ditahan di Banda Aceh sebelum akhirnya dieksekusi, namun tidak diketahui nasib Yasrun.

“Ada informasi yang menyebut Yasrun pernah dipergoki berada di Kota Medan di masa-masa sulit itu, namun dia disebutkan memilih menjauh, ungkap Ady.

“Beberapa bulan lalu, saya mimpi kakak saya ini datang ke rumah,” katanya. Ady berulang kali menggarisbawahi bahwa Yasrun statusnya “hilang”.

*’Ibu dan anak-anaknya ‘diselamatkan’ polisi dari razia anti-komunis di Idi’

Ketika orang-orang komunis diburu dan sebagian dibantai di Aceh, istri Thaib Adamy, Samiah — saat usia kandungan di perutnya sekitar tujuh bulan — dan enam anaknya yang masih bocah, diungsikan keluar dari Banda Aceh. Setiady masih ingat apa yang terjadi di sekitar rumahnya di Banda Aceh pada hari-hari setelah peristiwa G30S.

“Esok harinya, saya melihat unjuk rasa di jalan di depan rumah. Mereka meneriakkan ‘ganyang PKI, ganyang PKI’. Saya tidak mengerti apa yang terjadi,” ungkapnya.

Malam harinya, ibu dan enam anak itu naik kereta api meninggalkan Banda Aceh — rumah Thaib Adamy yang berada di perumahan jawatan kereta api tak jauh dari stasiun kereta kota itu.

“Esok harinya, saya melihat unjuk rasa di jalan di depan rumah. Mereka meneriakkan ‘ganyang PKI, ganyang PKI’. Saya tidak mengerti apa yang terjadi,” ungkap Setiady, saat berusia 10 tahun.

“Kita menuju Kota Idi, ke rumah kakek. Anak sulung, Yusni, menjaga rumah dan isinya,” kata Ady.

Setiba di Kota Idi, ibu dan anak-anak ‘diselamatkan’ seorang pejabat kepolisian yang kebetulan masih ada hubungan saudara, karena “ada razia terhadap orang-orang yang dituduh komunis”.

“Saya masih ingat, kami dimasukkan sel agar selamat. Sepekan kemudian, setelah aman, ibu dan anak-anaknya dikembalikan ke rumah kakek saya,” kisahnya.

Samiah dan anak- anaknya sempat singgah di Belawan, sebelum akhirnya menetap di Medan, Sumatera Utara, dalam kondisi ekonomi yang disebutnya serba pas-pasan.

“Kadang-kadang untuk makan, tidak ada uang,” ungkap Ady, mencoba menggambarkan kondisi ekonomi mereka. Ady saat itu tinggal bersama keluarga ayahnya di Banda Aceh

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak ketiga yang masih duduk kelas tiga SMP, Maimun, berjualan koran. Di kota ini, mereka beberapa kali pindah rumah kontrakan. []

Sumber BBC Indonesia “G30S, Thaib Adamy, dan pembunuhan massal 1965 di Aceh: ‘Tembak dan kuburkan saya, supaya anak-anak bisa berziarah

Advertisement
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT