Kesaksian Korban Dugaan Pelanggaran HAM di Aceh yang Gugat ExxonMobil di Amerika

JAKARTA – Setelah menunggu 20 tahun, gugatan 11 warga Aceh Utara terhadap perusahaan ExxonMobil di pengadilan Amerika Serikat akan maju ke persidangan dan diperkirakan dapat dimulai pada sekitar September mendatang di Washington DC.
Terry Collingsworth dari The International Labor Rights Fund, organisasi yang mengajukan tuntutan atas nama 11 penduduk desa di Aceh pada 2001 mengatakan para korban diduga mengalami penyiksaan oleh oknum militer yang disewa ExxonMobil untuk menjaga kilang gas itu di salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia itu.
BACA JUGA : Obituari Carmel Budiardjo : Pejuang HAM yang Kerap Membantu Hasan Tiro
Para anggota militer itu kemudian diduga melakukan pelanggaran HAM terhadap warga sekitar. Agnieszka Fryszman, kuasa hukum yang mewakili 11 penduduk desa di Aceh itu, mengatakan tujuan dari tuntutan ini adalah menuntut “kompensasi, keadilan dan kebenaran”.
Fryszman juga mengatakan mereka punya begitu banyak bukti dengan mengajukan “lebih dari 300 halaman temuan, sekitar 400 lampiran dan lima laporan pakar serta melakukan sekitar 40 pemeriksaan saksi dan bukti”.
“Contohnya, salah satu korban adalah seorang penyintas, anak muda yang ditembak di depan fasilitas Exxon … saat dia tengah berjalan … Jelas, kami punya bukti sangat kuat yang menunnjukkan apa yang terjadi,” kata Fryszman yang berkantor di Washington DC kepada BBC News Indonesia.
Lamanya gugatan sampai ke pengadilan, kata Fryszman, karena yang mereka hadapi adalah perusahaan raksasa. Namun ia mengatakan optimistis.
“Jalannya sudah panjang dan sangat lama, namun hasilnya adalah kami punya banyak bukti yang kami ajukan ke pengadilan,” tambahnya.
Sebelas penduduk desa di Aceh ini, tambahnya lagi akan diundang ke Amerika Serikat untuk memberikan kesaksian mereka.
Aktivis hak asasi manusia, berharap persidangan di AS ini akan menjadi pintu masuk penelusuran lebih lanjut keterlibatan oknum militer dan juga menjadi bahan evaluasi untuk memperketat penetapan objek vital nasional karena berpotensi menimbulkan pelanggaran HAM.
Terkait dugaan keterlibatan militer, hingga berita ini diturunkan, BBC News Indonesia telah menghubungi Kepala Pusat Penerangan TNI, Kepala Dinas Penerangan TNI AD, dan Kepala Penerangan Kodam Iskandar Muda, namun belum ada jawaban.
Beberapa warga yang identitasnya dirahasiakan menceritakan kepada BBC News Indonesia tentang penyiksaan yang mereka alami. Ada yang dipukul dan ditembak dan ada pula yang dipukul karena pohon durian.
Pengacara pelapor: Pertanggungjawaban ExxonMobil atas pasukan ‘brutal dan disengaja’
Persidangan kasus dugaan pelanggaran HAM di Aceh Utara yang diduga dilakukan oleh ExxonMobil diperkirakan akan dilaksanakan pada September 2022. Terry Collingsworth mengatakan, gugatan ini untuk meminta pertanggungjawaban ExxonMobil atas penggunaan pasukan “yang disengaja dan brutal” dalam mengawasi wilayahnya, dan mengetahui tindakan penyiksaan, hingga pembunuhan oleh aparat keamanannya.
“Klien kami menginginkan pertanggungjawaban publik dengan membawa pengadilan, dan mereka ingin ganti rugi berupa uang untuk cedera serius mereka,” kata Collingsworth kepada wartawan BBC News Indonesia, Raja Eben Lumbanrau, Selasa, (04/01).
Collingsworth menambahkan, perjalanan 20 tahun kasus itu menjadi contoh buruk bagaimana perusahaan multinasional raksasa mencoba untuk menghindari pertanggungjawaban dengan cara menyewa firma hukum raksasa guna mengulur waktu dan membuat proses menjadi sangat mahal bagi para penggugat.
Ia mengatakan, akan menghadirkan 11 pelapor dalam persidangan, namun tergantung dari pemberian visa dari pemerintah AS. Tahun 2001, organisasi advokasi International Labor Rights Fund mewakili 11 warga korban yang mengalami kekerasan mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Distrik Columbia, AS.
Kesaksian korban: Gigi rontok, kaki ditembak
Seorang perempuan warga Lhokseumawe, Aceh, dan seorang lainnya, di hadapan seorang anggota TNI, saat wilayah itu masih dilanda konflik bersenjata, 25 Mei 2003.  Satu dari 11 korban yang rencananya akan diberangkatkan ke AS untuk memberikan kesaksian dalam persidangan ExxonMobil menceritakan kekerasan yang dialami kepada BBC News Indonesia, bagaimana luka tembak masih membekas hingga saat ini. Saat itu, awal tahun 2000-an, Zakir (bukan nama sebenarnya) dan rekannya melakukan penjagaan malam desa, suatu kewajiban saat konflik melanda wilayahnya. Mereka adalah warga yang tinggal di sekitar kawasan kilang gas ExxonMobil Arun, Aceh Utara.
Kemudian, tiba-tiba mereka diserang oleh tentara yang berjaga di jalan pipa ExxonMobil karena dituding sebagai pembantu GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Zaki mengatakan, giginya dipukul sampai rontok, lutut kaki bagian kanannya ditembak. Sementara rekannya meninggal setelah peluru menembus dadanya.
“Pada masa itu tidak ada pertanyaan, baru setelah pemukulan adanya pertanyaan, dan baru ketahuan salah pukul. Setelah itu dilakukan upaya damai, aparat pemukul datang ke rumah untuk meminta maaf,” kata Zakir wartawan di Aceh yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Hidayatullah, Selasa (04/01).
Zakir menambahkan, tentara yang menjaga ExxonMobil juga sering meminta barang milik warga secara paksa, “kalau tidak dikasih, akan dipukul”.
Zakir mengingat, terdapat puluhan warga yang menjadi korban kekerasan para penjaga ExxonMobil, di antara mereka telah meninggal dunia.
Korban: ‘Dipukul karena menolak jual pohon durian’
Tindakan kekerasan juga dialami oleh Umar, bukan nama sebenarnya. Umar mengatakan dipukul oleh tentara ketika menolak untuk menjual pohon durian miliknya.
“Penyebab dasarnya mereka (tentara) meminta untuk membeli pohon durian dari saya, sementara harga pohon durian ditawar oleh orang lain seharga Rp700.000 per pohon, mereka malah meminta beli dengan harga Rp300.000. Karena saya tidak mau menjualnya, maka saya dipukul,” kata Umar.
Umar yang kini berusia 63 tahun menceritakan, pemukulan itu terjadi saat ia mengendarai sepeda motor, lalu diberhentikan dan dibawa ke pos penjagaan untuk ditendang dan dipukul.
“Setelah kejadian pemukulan, besoknya satu pos itu datang ke tempat saya untuk membuat perdamaian, ada surat sebagai buktinya. Surat saya itu sudah sampai ke Amerika,” kata Umar.
Informasi selanjutnya silahkan baca di BBCIndonesia
Advertisement
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT