SIGLI | ACEHJURNAL.COM – Tradisi menyambut perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW seringkali dihelat dengan beragam kegiatan. Ini semata-mata diperingati sebagai bentuk rasa cinta umat Muslim kepada Rasulullah. Secara etimologi, istilah “maulid” berasal dari bahasa Arab w-I-d yang berarti “kelahiran”.
Tradisi ini banyak dilakukan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia dan Aceh secara khususnya. Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW ini digelar setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah.
Di Indonesia sendiri, umat Islam merayakan Maulid Nabi dengan berbagai cara. Ragam perayaan itu pada umumnya didasarkan pada kebiasaan dan adat istiadat daerah setempat. Pada perayaan Maulid Nabi, masyarakat Aceh kerap menyuguhkan aneka hidangan spesial sebagai salah satu perwujudkan rasa syukur.

Selama perayan maulid, serangkaian acara mulai dari zikir, tausiah agama, memberikan santunan kepada anak yatim-piatu, hingga makan kenduri bersama yang diselenggarakan di meunasah-meunasah. Menu yang disajikan pun cukup beragam. Namun yang menjadi ciri khas di Aceh, khususnya bagi masyarakat Pidie ini adalah sajian lemang. Bagi masyarakat Tangse, memasak lemang yang merupakan tradisi warisan ketika memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal 1440 Hijriah yang jatuh pada Selasa (19/10/2021) besok.

Sejumlah desa di pedalaman Kabupaten Pidie, terlihat sejumlah penduduk di daerah tersebut, sejak pagi hari mulai melakukan aktivitas menanak lemang sebagai penganan khas asli Aceh tersebut.
“Ini sudah menjadi tradisi dari sejak dulu saat memasuki bulan maulid,” kata Edy Azhari, warga Gampong Blang Dhot, Kecamatan Tangse pada Kamis (28/09/2021) malam.
Leumang terbuat dari pulut atau ketan yang dicampur dengan santan dan garam lalu dilapisi daun pisang, serta dibakar menggunakan bambu. Adapun tatacara membakar lemang adalah dengan posisi di bagian tengah bambu yang agak dimiringkan pada tiang penyangga. Agar masaknya rata, maka bambu-bambu tersebut dibakar dengan kayu api.
Sapaan Edy Tangse ini mengaku, aktivitas membakar penganan khas yang berada di dalam batang bambu tersebut memakan waktu paling cepat sekitar delapan jam lamanya.
“Paling cepat sekitar enam jam jika kondisi apinya bagus. Waktu dibakar pub harus kita jaga dengan teliti agar tidak matang sebagian,” ujarnya.




