ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM – Bagi pecinta kuliner saat ini tak hanya memikirkan soal citarasa makanan semata saat datang ke restoran. Namun juga pemandangan eksotis serta pengalaman yang didapatkan. Seperti halnya makan di tengah sawah. Seiring menjamurnya aneka ragam kuliner, banyak owner restoran kini turut menyajikan konsep unik sebagai daya tariknya. Salah satunya konsep yang lagi digandrungi adalah wisata blang tambah Joel Resto Arjunita. Restoran milik Zulfitri atau akrab disapa Joel Bungalow ini menyajikan aneka kuliner khas Aceh Rayeuk dengan sesasi makan di tengah sawah.
Selain sajian aneka makanan nikmat dan menggugah selera, Anda juga bisa menikmati pemandangan sawah. Ditambah lagi dengan suasana udara segar khas pedesaan, tentu saja akan membuat Anda semakin betah dan berlama-lama. Maka tak heran, lokasi ini kerap membuat kegiatan bersantap Anda jauh lebih berkesan.
“Resto ini sengaja kita desain dengan konsep semi outdoor.,” ujar Joel Bungalow kepada AcehJurnal.com pada Selasa (02/5/2023) lalu.
Joel Bungalow menjelaskan, adapun aneka kuliner khas Aceh Rayeuk yang disajikan diantaranya kuah beulangong, kuah pliek chue dan aneka seafood. Nah selain kuliner itu, di restoran ini juga menyajikan “sambai oen sawi laot”, sejenis lalapan khas Lampuuk Kabupaten Aceh Besar.

Selain hamparan hijau persawahan, di tengah restoran ini juga dipenuhi aneka bunga warna-warni yang tentunya sangat menyegarkan mata. Jadi pengunjung selain menikmati alam dan kuliner, juga bisa berswafoto ria dengan spot-spot instagramable di setiap sudut.
“Insya Allah ke depannya akan kita bangun titik lokasi yang cocok untuk selfie dan prewedding. Mohon support dan doa dari semua masyarakat,” pinta Joel Bungalow.
Tak hanya itu, terdapat juga tempat duduk kayu yang artistik dan photogenic tersebar di setiap sudut. Maka tak heran, lokasi ini menjadi magnet pengunjung, khususnya para influencer medsos jenis Instagram dan Facebook yang tak lain melewati momen terbaik ini.
“Rasanya adem dan bikin betah dan malas-malasan aja, apalagi momen sunrise dan sunsetnya juga bikin mata kita takjub,” ucap Desi Anwar, salah satu pengunjung saat ditemui di lokasi.
Wisata Adalah Sektor Riil Investasi di Aceh
Sebagai salah satu pelaku pariwisata Aceh, Zulfitri atau sapaan akrab Joel Bungalow menjelaskan bahwa sektor riil investasi Aceh itu sangat berpengaruh terhadap dunia pariwisata.
“Berbicara sektor pariwisata itu riil, karena dengan dengan hidupnya sektor pariwisata di Aceh, otomatis sektor kuliner juga berkembang. Ini juga berpeluang untuk menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya, mulai dari jasa sopir taksi, guide hingga pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),” ujar Zulfitri.
Sebagai putra asli Lampuuk, Aceh Besar, pemilik Joel Bungalow resort ini sangat menaruh harapan terhadap Pemerintah Aceh dalam mengembangkan sektor pariwisata di Aceh. Menurutnya, sektor pariwisata di Aceh sangat berpeluang untuk menarik para investor, baik tingkat nasional maupun internasional.
“Khususnya di Aceh, sektor pariwisata sangat menjanjikan untuk menarik para investor untuk berinvestasi. Apalagi dengan disahkannya undang-undang cipta kerja (Ciptaker) memudahkan para pelaku usaha dari segala lini, khususnya masalah perizinan bagi pelaku UMKM,” kata Zulfitri.
Bang Joel-sapaan akrabnya menjelaskan, banyak sekali potensi alam di Aceh yang dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk dikembangkan sebagai sektor wisata. Oleh karena itu, katanya lagi, butuh perhatian dan penangan serius, baik dari Pemerintah Aceh maupu elemen masyarakat dalam mempromosikannya. Apalagi selama pandemi dan lockdown diterapkan, roda perekonomian Usaha Kecil dan menengah (UKM) sempat berhenti sehingga berdampak terhadap sendi-sendi perekonomian warga.
Soal potensi wisata di Aceh itu beda dengan daerah lainnya. Ia merincikan, konsep wisata di Aceh beda dengan di daerah pulau Jawa dan Bali. Di Bumi Serambi Mekkah, Aceh menawarkan wisata religi dimana selama ini menjadi incaran turis-turis dari negeri tetangga, seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.
“Bahkan mereka turis-turis Malaysia dan Brunei sengaja datang kemari untuk mengunjungi situs-situs Islam yang sudah bersifat monumental. Contohnya Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Lampuuk, Ulee Lheue, makam-makam ulama dan sultan-sultan Aceh hingga Museum Tsunami,” kata Zulfitri.
Zulfitri merincikan, sektor pariwisata bersifat riil dan berpeluang menarik para investor untuk menanamkan modalnya di Aceh. Salah satunya adalah mampu menampung tenaga kerja serta menjadi penyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Tentunya mekanismenya harus dilakukan dengan manajemen sebaik mungkin serta adanya kesadaran setiap elemen masyarakat dalam mempromosikan wisata di Aceh. Selain mampu memulihkan perkonomian warga, sektor pariwisata juga menyadarkan masyarakat untuk senantiasa menjaga lingkungannya menjadi sehat, bersih dan higienis. Ini sebagaimana tertuang dalam konsep Pemerintah Aceh dalam mempromosikan Aceh sebagai destinasi wisata halal.
“Apalagi selama ini kita tahu bahwa tidak ada di dunia ini sektor wisata yang berpotensi merusak lingkungan. Sebab berbicara soal investasi di sektor industri seperti pertambangan, lama kelamaan akan habis. Namun sektor pariwisata malah sebaliknya, tidak akan pernah habis-habisnya dimana arus wisatawan semakin meningkat,” pungkasnya. []



