Hari Asyura: Kenangan Nabi Musa dalam Memory Rasulullah  

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Bertindak Asusila, Pekerja Terapis Dibekuk Polresta Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - MZ (22) terpaksa meringkuk sel tahanan Mapolsek Kuta Alam, Banda Aceh. Pria asal Bireuen ini dilaporkan atas kasus pelecehan...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Oleh: Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000'an dengan hadirnya...

Oleh: Habib Fahmy Assegaf*

Suatu ketika saat Nabi Muhammad berhijrah dan memasuki Kota Madinah. Tepatnya pada tanggal 10 Muharram atau sering disebut dengan Hari Asyura Nabi mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa, bahkan mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari rayanya mereka. Melihat hal tersebut, Nabi pun bertanya kepada mereka perihal puasa yang mereka kerjakan di hari tersebut. “Apa yang sedang kalian rayakan sehingga kalian berpuasa di hari ini.”

Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang sangat Mulia, Hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya Bani Israil, dan Allah tenggelamkan Fir’aun beserta tentaranya. Sehingga Nabi Musa berpuasa di hari tersebut karena bentuk syukurnya kepada Allah, maka kami pun berpuasa mengikuti Nabi kami Musa.”

Nabi pun teringat akan peristiwa yang begitu agung yang terjadi antara Nabi Musa dan Fir’aun pada masa itu.

Fir’aun merupakan seorang raja zalim yang memimpin Negri Mesir. Ia merupakan raja yang sangat kejam dan tidak jarang menindas rakyatnya demi kepentingannya. Ia juga dikenal sebagai raja yang sombong dan angkuh.

Sampailah tiba masanya Allah mengutus Nabi Musa—yang tidak lain adalah anak asuhnya Fir’aun—sebagai Nabi untuk memerangi kezalimannya dan kesombongan Fir’aun.

Mengetahui Nabi Musa akan menentang dirinya, kemarahan Fir’aun pun tidak dapat dielakkan, sehingga dengan sewenang-wenangnya Fir’aun menekan penduduknya agar tidak ada yang mengikuti ajaran Nabi Musa, dan akan menyiksa orang yang mengikutinya.

Selama bertahun-tahun Nabi Musa dan pengikutnya bersabar atas segala penindasan yang dilakukan oleh Fir’aun kepada mereka. Tak hanya itu, Fir’aun semakin gencar menentang kebenaran yang di sampaikan Nabi Musa. Sampailah pada puncak kesombongannya, Fir’aun mengaku dirinya sebagai tuhan dan akan mendindas siapa saja yang enggan untuk menyembahnya.

Hingga kemudian Allah berfirman kepada Nabi Musa AS. agar Nabi Musa membawa pengikutnya Bani Israil untuk keluar dari negeri Mesir menuju Syam, tepatnya saat malam tiba.

Nabi Musa pun mengumpulkan para pengikutnya, baik bala tentara, wanita, bahkan anak-anak yang berjumlah 600.000 orang. Setelah semua terkumpul, berangkatlah Nabi Musa dan pengikutnya.

Mendengar hal tersebut, kemarahan Fir’aun semakin menjadi-jadi kepada Nabi Musa, sehingga ia menyiapkan bala tentara dengan jumlah berkali lipat dari pengikutnya nabi Musa untuk mengejar mereka.

Sehingga tibalah waktu pagi hari, keadaan yang tidak dapat dielakkan. Kedua kelompok tersebut bertemu. Nabi Musa dan pengikutnya terhimpit antara pasukan Fir’aun dan lautan.

Bani Israil yang mengalami hal itu diserang rasa takut yang begitu luar biasa sehingga mereka mengatakan kepada Nabi Musa “ Wahai Nabi Musa, kita telah dikepung oleh Fir’aun dan tentaranya.”

Nabi Musa mendengar keluhan dari pada pengikutnya, dengan kekuatan iman yang begitu luar biasa dan kemantapan hati, beliau berkata kepada pengikutnya seraya menenangkan mereka, “kita tidak akan terkepung, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Seketika itu turunlah wahyu daripada Allah SWT kepada Nabi Musa; “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS:Asy-Syu’ara Ayat: 63).

Maka Nabi Musa pun memukul tongkatnya ke lautan, sehingga terbelahlah lautan tersebut dan menjulang tinggi bak gunung yang besar. Allah pun mengirimkan angin untuk mengeringkan pasir lautan tersebut agar tidak menghambat perjalanan mereka. Lautan tersebut terbelah menjadi 12 lorong sesuai dengan jumlah kelompok yang ada pada Bani Israil, sehingga setiap satu golongan dari Bani Israil memasuki lorongnya masing masing.

Melihat hal tersebut, Fir’aun memerintahkan seluruh tentaranya untuk menyusul menyusuri lautan tersebut yang dipimpin oleh dirinya sendiri. Akan tetatpi ketika mereka telah masuk ke dalam lautan tersebut, dengan izin Allah, lautan yang terbelah itu menutup kembali sehingga menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya.

Allah ta’ala selamatkan Nabi Musa serta pengikutnya, dan Allah pula yang menenggelamkan Fir’aun, raja yang sombong dan angkuh beserta tentaranya.

Karena anugerah yang begitu besar yang Allah ta’ala berikan kepada mereka atas selamatnya dari kejaran Fir’aun, Nabi Musa pun berpuasa sebagai bentuk syukurnya kepada Allah terhadap kejadian tersebut.

Mengenang peristiwa yang begitu luar biasa terhadap Nabi Musa dan pengikutnya, Nabi Muhammad saw. pun berkata kepada orang yahudi tersebut; “kami lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa dari pada kalian,” mengingat Nabi Muhammad lah yang meneruskan syari’at Nabi terdahulu termasuk Nabi Musa.

Nabi Muhammad pun memerintahkan kaum Muslimin pada saat itu untuk berpuasa di hari Asyura agar bersyukur atas peristiwa yang mulia ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.

Tatkala perintah puasa itu disampaikan kepada para sahabat, para sahabat pun berkata “Wahai Rasulullah, hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’”

Menunjukan bagaimana perhatian sahabat agar menjadikan “concern” dalam ibadahnya untuk tidak meniru ibadah dari pada Yahudi dan Nasrani.

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Jika tahun mendatang tiba, Insya Allah, kita juga akan melakukan shaum pada tanggal sembilan Muharram.”

Di sebalik pahala yang begitu luar biasa ketika seseorang berpuasa di hari Asyura, yakni di ampunkan dosa selama setahun. Mestinya kita juga harus perhatian kepada mengapa Nabi Muhammad berpuasa di hari itu.

Berapa banyak dari pada kita saat ini yang melupakan sejarah penting dalam peradaban Islam yang di dalamnya terdapat hikmah yang begitu luar biasa, termasuk cerita di balik Puasa Ayura yaitu ketika Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari kejaran tentara Fir’aun.

Semoga kita bisa lebih bersyukur atas begitu banyak nikmat yang Allah berikan, khususnya keselamatan dan perdamaian, sebagaimana syukurnya Nabi Musa ketika diselamatkan oleh Allah.

*Penulis adalah pimpinan Majelis Ta’lim Anwarul Habib, Kota Langsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Hot Topics

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Related Articles

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...