Geliat Petani Tangse Turun ke Sawah saat Musim Tanam

PIDIE| ACEHJURNAL.COM – Jarum jam menunjukkan pukul 07.15 WIB, Sabtu (12/2). Gumpalan kabut masih menyelimuti perbukitan. Amir (45) dan istrinya sudah meninggalkan rumah menuju sawah yang berjarak dua kilometer dari Gampong Blang Bungong, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie.
Hawa dingin tak menyurut langkah mereka melintasi sungai yang membelah desa. Mereka rela bergumul dalam kabut yang masih menghalangi jarak pandang.
Selain berdagang, kehidupan masyarakat Tangse tak bisa terpisahkan dari hutan dan berkebun. Ini dikarenakan alam Tangse berlanskap pegunungan dan persawahan yang luas membentang.
BACA JUGA : Melihat Kemeriahan Warga Tangse Rayakan Maulid Nabi
Tak hanya dikenal legitnya durian dan gurihnya ikan keureulieng, Tangse juga memiliki beras super. Salah satunya adalah “breuh cantek” atau beras cantik khas Tangse. Beras ini dahulu pernah berjaya dan tumbuh subur di kawasan daratan tinggi Tangse, Mane dan Geumpang. Namun saat Aceh didera konflik berkepanjangan, penghilan beras cantik kian menyusut. Tapi kini, situasi Aceh yang kembali kondusif, para petani kembali menanam padi tersebut.
Beras cantik ini juga disebut beras pulen (legit) dan rasanya paling enak dari beras jenis lain. Ini disebabkan pengaruh air yang mengalir dari celah-celah batu gunung beriklim dingin.
Aktifitas ini juga dilakoni petani lainnya ketika memasuki musim tanam padi tiba yang bersamaan penghujan. Amir menjelaskan, dirinya bersama warga lainnya sudah mulai menanam padi dan dipastikan akhir Februari selesai tanam.
“Target kita sudah mulai tanam bisa selesai sebelum bulan Ramadhan,” ucap Amir saat ditemui AcehJurnal.com.
Menurutnya, musim tanam serentak ini juga turut dilakukan oleh beberapa kemukiman dan gampong dalam kecamatan Tangse secara bersamaan.
“Kita berharap nanti bisa panen bersamaan,” pungkasnya. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT