Fraksi Partai Gerindra : Kekerasan Perempuan dan Anak di Aceh Meningkat

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – DPR Aceh dari Fraksi Gerindra merasa prihatin dengan banyaknya kasus kekerasan perempuan dan anak terjadi di Aceh. Hampir setiap bulan berbagai media massa di Aceh dihiasi dengan berita kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik kekerasan seksual maupun kekerasan lainnya.

Hal ini disampaikan anggota DPR Aceh, Asib Amin dalam  dalam sidang paripurna DPR Aceh tentang pendapat akhir fraksi di gedung serbaguna, Banda Aceh pada Senin (30/11).

“Kekerasan terhadap perempuan dan anak semakin meningkat yang seharusnya tidak terjadi di Nanggroe Syariat Islam dan Serambi Mekkah.  Apalagi kondisi Aceh saat ini sedang dihadapkan pada tingginya kasus covid-19. Berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Aceh dari tahun 2018 hingga tahun 2020 meningkatkan tajam,” kata anggota DPR Aceh, Asib Amin.

Baca juga : Sorot Kemiskinan di Aceh Terus Meningkat, Ini Kata DPRA dari Fraksi Gerindra

Asib Amin menjelaskan, kekerasan terhadap perempuan  sebanyak 1.335 kasus dan kekerasan terhadap anak sebanyak 1.424 kasus selama rentang waktu Tahun 2018-2020.  Khusus Tahun 2020,  Kasus Kekerasan Perempuan 146 Kasus dan Kekerasan terhadap anak 170 Kasus. Kasus-kasus tersebut diantaranya bentuk kekerasan KDRT, kekerasan fisik, kekerasan psikis, penelantaran, pemerkosaan, pelecehan seksual, Traffiking, ekploitasi seksual, Ekonomi dan lainnya.

“Kondisi Aceh saat ini menunjukan tingginya angka kekerasan perempuan dan anak, suatu situasi yang dapat dikatakan darurat yang perlu segera disikapi,” tambahnya.

Menurutnya, selain tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, Aceh juga sebagai daerah darurat Narkoba. Pasalnya, narkoba salah satu pemicu terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak di Aceh. Ini disebabkan semakin rendahnya rasa kepedulian dan kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar terutama yang dialami kelompok rentan perempuan dan anak.

Masyarakat Aceh yang dulunya memiliki jiwa gotong royong, saling membantu dan peka terhadap sosial di lingkungannya, kini sudah mulai berkurang. Bahkan kehidupan masyarakat Aceh saat ini cenderung individualisme, sehingga mengurangi rasa kepedulian terhadap sesama makhluk sosial.

“Sementara di sisi yang lain kita adalah daerah Serambi Mekkah dengan menerapkan Syariat Islam. Ini beberapa persoalan yang tidak boleh luput dari perhatian kita, sehingga pembangunan Aceh ke depan dapat diarahkan untuk dapat mengurangi persoalan atau mencari solusi terhadap masalah ini sehingga dapat terwujudnya Aceh Meuadab dan Mulia,” pungkasnya. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT