Distopia Penanganan COVID-19 di Permukiman Informal

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Bertindak Asusila, Pekerja Terapis Dibekuk Polresta Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - MZ (22) terpaksa meringkuk sel tahanan Mapolsek Kuta Alam, Banda Aceh. Pria asal Bireuen ini dilaporkan atas kasus pelecehan...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Oleh: Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000'an dengan hadirnya...

Selundupkan Sabu Dalam Sandal, 2 Mahasiswi Aceh Ditangkap

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - Dua mahasiswi asal Kabupaten Bireuen dibekuk Tim Satresnarkoba Polresta Banda Aceh. Kedua mahasiswi tersebut, yakni berinisial NH (23) dan...

Kepala BI Aceh: Tidak Ada Pemindahan Dana Perbankan ke Luar Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM Kepala Bank Indonesia cabang Aceh Zainal Arifin Lubis menyatakan paska disahkannya Qanun LKS hingga kini tidak ada pemindahan dana yang...

Oleh: M. Akmal Farraz*

Ketika COVID-19 muncul di Wuhan dan menyebar ke berbagai kota di dunia, upaya pengendalian dan pencegahan pandemi ini menjadi tantangan bagi kota-kota di negara maju. Namun, saat pandemi ini meluas ke kota-kota di negara berkembang seperti di Brazil, India, meksiko, dan Indonesia, tantangan yang dihadapi menjadi jauh lebih besar.

Pandemi COVID-19 menimbulkan kondisi yang lebih buruk bagi kota-kota di negara berkembang khususnya di kota-kota besar yang memiliki jumlah pemukiman kumuh dan pekerja informal yang cukup besar. Kepadatan ruang, sanitasi yang buruk, hunian yang tidak aman dan memadai, serta kendala ruang, menyebabkan risiko penyebaran infeksi lebih cepat menular. Selain itu, mayoritas dari mereka yang bekerja di sektor informal seperti pedagang kaki lima, buruh harian, abang becak yang kehidupan ditopang oleh penghasilan harian, mengharuskan mereka untuk tetap mencari nafkah di luar rumah agar tetap bisa bertahan hidup, menyebabkan kelompok ini adalah yang paling rentan terpapar COVID-19, baik karena kondisi kesehatan dan juga tekanan ekonomi.

Kenyataan seperti ini menjelaskan jika rekomendasi global yang ditelurkan oleh WHO mengenai protokol pencegahan penyebaran COVID-19 seperti menjaga jarak (social distancing), mencuci tangan, dan karantina mandiri, adalah kondisi yang sangat sulit dan mustahil diterapkan secara meluas, dan menjadi distopia bagi mereka yang merupakan kelompok rentan.

Dari Kepadatan, Kemiskinan hingga Kesenjangan Data

Kepadatan dan kemiskinan dalam studi kesehatan masyarakat kota dianggap sebagai faktor utama transmisi penyakit menular, terutama penyebaran COVID – 19 (Muggah & Florida, 2020). Kawasan Dharavi di Kota Mumbai, India, yang dianggap sebagai kawasan kumuh paling padat di dunia, di kawasan itu 10 orang harus hidup berhimpitan dalam satu atap rumah dengan luas 10 meter persegi. Untuk urusan sanitasi, Dharavi yang merupakan kota hiburan dan lokasi film Peraih Oscar 2009, Slumdog Millionaire, 80% penduduknya masih menggunakan toilet umum sebagai fasilitas untuk kebersihan diri dan kebutuhan rumah tangga, dengan kualitas sanitasi yang amat buruk (Siwas, 2020).

Sementara itu di Kota Rio de Jeneiro, seperempat penduduk yang tinggal di favela (permukiman informal), ketika Covid-19 mewabah di Brazil, wilayah ini menjadi epicentrum utama penyebaran virus ini. Kekurangan air bersih dan kemiskinan dianggap sebagai faktor utama yang menyebabkan masyarakat abai tergadap protokol kesehatan.

Kondisi ini semakin diperparah karena pemimpin di level negara yang tidak mempercayai adanya pandemi, ditambah sikap pongah masyarakat yang menyebabkan 90% penduduk di wilayah itu dinyatakan positif COVID-19.

Indonesia dengan kondisi Jakarta yang juga tak jauh berbeda dengan Mumbai dan Rio. Dari hasil kajian Rujak (2020), wilayah padat penduduk di Pegadungan, Pondok Kelapa, Kelapa Gading Timur, dan Kebon Jeruk, memiliki kasus positif tertinggi di Jakarta. Di kawasan kumuh lainnya dari liputan CNN Indonesia, seperti di kawasan di Tanjung Duren, Jakarta Barat, ada satu rumah dengan ukuran 30 meter persegi yang harus dihuni oleh lebih satu kepala keluarga dengan satu fasilitas sanitasi dan toilet umum yag harus digunakan secara bergiliran oleh puluhan anggota keluarga.

Selain keterbatasan infrastruktur, kepadatan penduduk, dan jebakan kemiskinan yang mengakar, menjadi tantangan utama dalam pencegahan COVID-19 di permukiman kumuh dan informal. Selain itu, hal lainnya yang menjadi persoalan utama adalah permasalahan krusial di bidang data. Pemerintah kota umumnya tidak mempunyai kelengkapan dan keakuratan data yang konkrit mengenai luas pemukiman kumuh dan informal, baik dalam hal jenis pekerjaan mereka, ukuran rumah dan jumlah penghuni, dan fasilitas untuk kesehatan dalam tanggap darurat.

Kesenjangan data dari pemerintah akan menyulitkan mengidentifikasi penyebaran virus dan tidak tepatnya upaya penanganan yang ditempuh dan distribusi bantuan sosial berupa bantuan tunai ataupun pangan. Sehingga penanganan krisis yang dirasakan selama ini hanya berdasarkan kecepatan pengambilan kebijakan, dan bukan ketepatan akan sasaran masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Langkah Kedepan

Di setiap zaman, ketika kota berhadapan dengan wabah penyakit, permukiman kumuh dan pemukiman informal selalu mendapatkan stigma yang buruk karena dianggap sebagai sumber penyakit (outbreak). Padahal, jika kita kita melihat lebi jauh dan jujur, bahwa permukiman informal dan para penghuninya adalah bagian yang tak mungkin dipisahkan dari sistem sebuah kota.

Mereka memiliki kontribusi besar pada gerak kehidupan kota, dimana aktivitas mereka bergerak sebagai sumber tenaga kerja informal yang banyak melayani kebutuhan warga kota yang memiliki tingkat ekonomi yang lebih tinggi. Selain itu, buruknya penanganan krisis di permukiman kumuh dan informal tak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah yang abai terhadap pemenuhan hak dasar warga kota yang mengakibatkan disparitas sosial sehingga meningkatnya kemiskinan di kota.

Belajar apa yang dilakukan oleh pemerintah kota saat ini untuk menghadapi gelombang kedua atau menekan kasus penyebaran Covid-19, maka saat ini pemerintah kota mulai bekerja secara proaktif dan bukan reaktif untuk melihat dan memahami kondisi kesehatan dan kehidupan di setiap permukiman kumuh dan informal. Selain itu, kerjasama dan integrasi program antara pusat kota dengan kawasan sub-urban akan meningkatkan ketahanan kota dalam menghadapi pandemi saat ini dan kedepannya.

Selain itu pembelajaran di dunia saat penanganan masa krisis bencana seperti di Aceh menunjukkan jika gerakan berbasis komunitas dan kesadaran kolektif warga adalah cara terbaik untuk menghadapi dan melewati masa krisis. Komunitas masyarakat di kota-kota Amerika latin melakukan tindakan-tindakan deteksi dini, pengobatan secara gratis, serta penyediaan tenaga dan fasilitas kesehatan yang diterjunkan di setiap kawasan padat penduduk menjadi langkah terbaik untuk menekan penyebaran virus.

Selain itu, tindakan-tindakan kolektif dan saling berjejaring seperti yang dilakukan kaum perempuan di Filipina dengan memberikan edukasi ke masyarakat tentang pencegahan COVID-19, menjadi upaya yang sangat berharga bagi masyarakat di tengah arus informasi yang tidak berimbang dan transparansi informasi yang masih bermasalah. Selain itu, bagaimana Dharavi mampu bangkit dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya COVID-19 menjadi pelajaran penting bagi kita bersama, bahwa penanganan dan pencegahan COVID-9 membutuhkan kekuatan kepemimpinan yang kuat yang didukung oleh kerja sama dari seluruh elemen masyarakat.

Pandemi ini juga menjadi pelajaran penting dan menyadarkan kita semua akan ketimpangan dan ketidakadilan ruang dalam perencanaan kota.

Pemerintah kota harus memprioritaskan kebutuhan dasar seperti air bersih, perumahan layak huni dan aksesbilitas layanan kesehatan seperti puskesmas. Peningkatan basis data melalui konsep smart city misalnya, harus terealisasikan dengan maksimal sehingga saat wabah datang kembali, konsep 4 T yang diterapkan di Korea Selatan yaitu, tracking, tracing, testing, dan treating dapat diterapkan dengan baik di kota-kota di Indonesia.

Kejadian pandemi seperti ini diharapkan menjadi momentum penting bagi pemerintah kota untuk menyusun ketahanan kota berdasarkan kebutuhan dan kemampuan kotanya masing-masing yang melindungi seluruh warga kota, khususnya kelompok masyarakat yang rentan.

Terakhir, saat dunia secara global mulai mengkampanyekan gagasan mengenai protokol proteksi yang bersifat umum seperti jaga jarak, karantina mandiri, dan cuci tangan selama 20 detik, di sisi lain pemerintah kota memiliki cara tersendiri dalam menerapkan proteksi itu.

Setidaknya untuk saat ini, mewajibkan seluruh warga kota untuk memakai masker saat beraktivitas sebagai cara yang amat tepat dan berbiaya murah untuk menekan penyebaran kasus COVID-19.

*Penulis adalah Pegiat di Komunitas Tenunkota.id. Alumnus Magister Kajian Pengembangan Perkotaan Universitas Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Hot Topics

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Bertindak Asusila, Pekerja Terapis Dibekuk Polresta Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - MZ (22) terpaksa meringkuk sel tahanan Mapolsek Kuta Alam, Banda Aceh. Pria asal Bireuen ini dilaporkan atas kasus pelecehan...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Oleh: Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000'an dengan hadirnya...

Related Articles

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Bertindak Asusila, Pekerja Terapis Dibekuk Polresta Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - MZ (22) terpaksa meringkuk sel tahanan Mapolsek Kuta Alam, Banda Aceh. Pria asal Bireuen ini dilaporkan atas kasus pelecehan...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Oleh: Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000'an dengan hadirnya...