Cerita Warga Aceh Jalani Puasa Lebih Lama di Rusia

MOSCOW | ACEHJURNAL.COM – Menjalankan ibadah puasa Ramadhan di negeri orang, sekaligus di tengah pandemic covid-19 dan harus terpisah dari keluarga, tentu bukanlah hal yang mudah. Belum lagi soal perbedaan budaya dimana aktifitas makan minum sehari-hari masyarakat disana.
Pengalaman inilah yang dirasakan Abdillah Imron Nasution. Warga Aceh yang bermukim di kota Arkhangelsk, Rusia. Abdillah kini tercatat sebagai mahasiswa jurusan Bioscience di Northern Federal University ini menuturkan, durasi berpuasa di Rusia juga jauh lebih dalam dari Indonesia.
“Awal Ramadhan, imsak jam 2.38, Iftar jam 19.18. Nanti di akhir-akhir Ramadhan imsaknya jam 1.41 dan iftarnya jam 22.27,” ucap Abdillah via pesan Whatapps, Selasa (5/4) malam.
BACA JUGA : Cerita Warga Aceh Berpuasa Terlama di Denmark
Abdillah menyebutkan, durasi berpuasa tahun ini agak sedikit ringan bila dibandingkan dengan ramadhan sebelumnya. Pada ramadhan sebelumnya, umat muslim di negeri beruang putih ini harus berpuasa hingga 20 jam lebih. Alhasil, jadwal salat tarawih dan witir yang biasanya selesai jam 1 pagi, hanya berselang dua jam dari waktu sahur berikutnya.
“Siap tarawih dan witir udah mulai sahur lagi,” ucap Abdillah lagi.
Kendati durasi berpuasa lebih lama, tak menyurut langkah warga Muslim disana untuk melaksanakan ibadah di Bulan Suci Ramadhan. Abdillah mengaku sangat beruntung memiliki rekan-rekan dan masyarakat setempat yang menghargai umat Muslim berpuasa. Bahkan tak sedikit dirinya kerap berinteraksi dengan umat Muslim disana yang mayoritas bermazhab Hanafi dan Hanbali.
BACA JUGA : Ini Negara-Negara Durasi Berpuasa Terpanjang dan Terpendek di Dunia
Bahkan selama ini, umat Muslim di Rusia tetap menjalankan aktifitas religinya tanpa adanya tekanan dari otoritas setempat. Ini dikarenakan Pemerintah Rusia memberikan kebebasan bagi warganya untuk menjalani ritual keagamaan menurut keyakinannya masing-masing.
Selama ramadhan disana, Abdillah juga harus beradaptasi dengan iklim Rusia yang sangat berbeda dengan Indonesia, waktu salat yang berubah-ubah sesuai musim, serta bahasa. Meski suasana Ramadan di Rusia tahun ini sudah jauh lebih baik dari tahun lalu. Namun Abdillah mengaku sangat merindukan makanan Indonesia dan kebersamaan dengan keluarga.
“Yang paling dirindukan luar biasa masakan khas Aceh. Alhamdulillahnya buka puasa bersama di sini kita bisa bertemu mahasiswa dari berbagai negara muslim. Seluruh mahasiswa yang kuliah di Rusia mereka semua berdatangan masjid untuk buka puasa bersama,” pungkasnya. []
Advertisement
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT