Catatan Snouck Hurgronje Tentang Tradisi Berbuka Puasa Masyarakat Aceh

Selama bulan puasa hampir seluruh masyarakat gampong senang berkumpul di meunasah (masjid) untuk menunggu waktu magrib. Menjelang waktu berbuka, orang-orang kampung yang sudah berkumpul masing-masing mengambil batok kelapa atau mangkuk kecil. Mereka lalu mengambil makanan yang telah disiapkan dari hasil sumbangan masyarakat di bawah pengawasan teungku.

Makanan yang biasanya dihidangkan untuk berbuka puasa adalah bubur (kanji) yang terbuat dari beras dan berbagai sayuran yang diaduk rata. Bubur ini dimasak oleh beberapa orang tua miskin di gampong yang nantinya mendapat bagian fitrah dari teungku atas jerih payahnya.

Setelah berbuka puasa dengan bubur, orang-orang lalu ikut seumayang mugreb atau sembahyang magrib. Yang tidak salat, mereka akan tetap di masjid menyaksikan orang melakukan salat berjamaan. Saat salat magrib selesai, semuanya kembali ke rumah untuk memuaskan rasa lapar mereka.

Begitulah C. Snouck Hurgronje mengabadikan suasana bulan puasa di Aceh dalam laporan yang telah diterjemahkan berjudul Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial. Judul aslinya dalam bahasa Belanda, De Atjehers terbit dari dua jilid laporan yang disusun tak lama setelah Snouck mengunjungi Aceh antara 16 Juli 1891–4 Februari 1892.

Apa yang dimaksud Snouck sebagai hidangan yang dinantikan masyarakat Aceh ketika berbuka puasa di masjid mungkin adalah ie bu peudah atau bubur pedas. Bubur ini telah menjadi makanan tradisi masyarakat Aceh saat bulan suci Ramadan, bahkan hingga kini.

Dikenal Luas Masyarakat Melayu

Tradisi berbuka puasa dengan bubur pedas telah dikenal luas oleh masyarakat Melayu. Sartika dan Siti Wahidah dalam “Analisis dan kebermaknaan Bahan Bubur Pedas Sebagai Warisan Kuliner Melayu Stabat dan Tanjung Balai” yang terbit dalam Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Medan, menyebutkan masyarakat di daerah Stabat dan Tanjung Balai di Sumatra Utara juga selalu membuat bubur pedas kala bulan puasa tiba.

“Daerah Tanjung Balai dan Stabat merupakan daerah yang mayoritas penduduknya adalah Melayu. Bubur pedas merupakan salah satu menu wajib yang harus ada pada saat bulan Ramadan,” catatnya.

Menurut Sartika dan Siti Wahidah yang telah mewawancarai tetua Melayu dan pengusaha bubur pedas di Stabat dan Tanjung Balai, bubur pedas hanya dibuat saat Ramadan dan perayaan keluarga karena cukup repot dalam pembuatannya. Bahannya pun tak sedikit. Di antaranya adalah beberapa jenis kacang-kacangan, ikan, rempah, dan daun-daunan.

Dalam Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera) yang diterbitkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Proyek Pelestarian dan Pengembangan Tradisi dan Kepercayaan pada 2004, dijelaskan bahwa resep ie bu peudah yang tradisional biasanya dilengkapi bahan-bahan dari 44 macam daun kayu dari hutan. Karena sulit, akibatnya muncul beberapa variasi ie bu peudah.

Cara membuatnya, daun-daunan itu ditumbuk hingga menjadi dedak dan dijemur. Setelah itu, daun-daun itu dicampur ke dalam breueh (beras) dan dimasak bersama air hingga menjadi bubur.

“Ie bu peudah yang sudah jadi bila waktu berbuka puasa hampir tiba dibagikan setiap orang yang akan berbuka puasa,” catat ensiklopedi. “Ie bu peudah ini disajikan dalam wadah berupa cawan (mangkok) atau pinggan (piring).”

Sedangkan menurut Fariani, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh dalam “Bubur Pedas Makanan Khas Melayu di Bulan Ramadan” yang terbit dalam Haba No. 79 Th. XXI jika dicicipi ie bu peudah tak sesuai dengan namanya. Bubur ini tak pedas, melainkan gurih, bahkan sedikit manis.

Kisah di Balik Bubur Pedas

Advertisement

Saat bulan puasa tiba, bubur pedas biasanya disajikan di masjid-masjid secara gratis sebagai menu berbuka. Bubur ini dimasak seusai salat zuhur secara bergotong-royong.

“Tradisi makan bubur pedas ini dapat membina kerja sama dan gotong royong antarumat muslim, karena bubur ini dimasak dan dimakan bersama-sama sehingga kebersamaan akan semakin terjaga,” tulis Fariani.

Konon bubur pedas ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Deli yang berdiri pada 1632 di bekas wilayah Kerajaan Haru atau Aru. Wilayah Haru mendapatkan kemerdekaan dari Aceh pada 1669 dengan nama Kesultanan Deli.

Menurut Fariani, pada masa kesultanan, tradisi makan bubur pedas dilakukan sebagai wujud kebersamaan antara kerajaan Melayu dan rakyatnya. Bubur pedas menjadi media bagi keluarga kerajaan untuk mendekatkan diri ke rakyatnya.

“Sultan dapat mendengarkan keluh kesah dan mengetahui permasalahan yang dihadapi rakyatnya, oleh karena itulah Kesultanan Deli menjadikan bubur pedas ini sebagai makanan tradisi saat Ramadan datang,” tulis Fariani.

Namun, Sartika dan Siti Wahidah mencatat asal-usul bubur pedas ini berbeda-beda di beberapa tempat. Masyarakat di daerah Stabat berpendapat bubur pedas dibuat karena pada zaman dahulu banyak rakyat yang hidup susah. Karenanya rakyat membuat makanan yang dicampur dengan banyak macam bahan agar bisa dimakan oleh banyak orang.

“Kemudian makanan tersebut disuguhkan kepada raja-raja dengan tujuan agar mereka dapat merasakan penderitaan rakyat-rakyatnya yang susah,” tulisnya.

Sedangkan masyarakat di Tanjung Balai memiliki pendapat yang berbeda. Pada waktu penobatan Sultan Deli, sang raja membuat sayembara bagi rakyat untuk membuat suatu makanan yang layak disuguhkan kepada tamu-tamu kerajaan. Rakyat pun secara bersama-sama membuat berbagai macam masakan. Salah satunya bubur pedas.

“Maka dari itu sampai saat ini masyarakat Melayu masih melestarikan bubur pedas tersebut,” catatnya.

Namun, sebagaimana dikatakan Fariani, tak sembarang orang bisa membuatnya. Biasanya yang bisa memasak bubur ini adalah orang-orang yang sudah berumur.

“Anak-anak muda Melayu, sudah jarang sekali yang bisa memasak bubur ini,” tulisnya.[]

Sumber : Historia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT