Catatan Jurnalis Siasati Blokade TNI/Polri Untuk Tembus Markas GAM [2]

Kamis, 4 Desember 2002, lantunan shalawat sahur dari toa-toa masjid terdengar syahdu membangunkan kami. Aku bergegas membasuh muka, sementara Hasan sibuk menghubungi Mahrizal untuk membuat kesepakat pertemuan di suatu tempat yang akan ditentukan sesuai petunjuk. “Kita sahur sambil jalan, sebelum matahari terbit kita sudah harus masuk ke markas GAM,” kata Hasan.

Bang Jafar dan aku bergegas menuju mobil dan lansung tancap gas. Hasan terus sibuk berkomunikasi dengan Muhrizal yang menjadi penghubung kami untuk bisa masuk ke markas GAM wilayah Aceh Utara.

Informasi yang kami dapat, TNI/Polri melarang ada aktivitas upacara pengibaran bendera saat milad ke-27 GAM pada 4 Desember 2002. Untuk itu, TNI/Polri memblokade dan meningkatkan patroli di jalan raya lintas Banda Aceh-Medan sepanjang 684 km.

Catatan Jurnalis Siasati Blokade TNI/Polri Untuk Tembus Markas GAM (1)

Beberapa wartawan nasional yang sedang bertugas di Aceh juga memberikan informasi bahwa mereka sudah meliput upacara bendera milad GAM pada Rabu, 3 Desember 2002. Ini dilakukan sehari sebelum milad GAM di seluruh Aceh untuk menyiasati larangan TNI/Polri.

Kami diberi petunjuk untuk menuju ke Kota Bireuen dan mencari sebuah kedai di pingir jalan dengan kode kedap-kedip lampu senter. Kami menyempatkan Shalat Subuh di Masjid Gampong Gandapura. Setelah itu, mobil kembali melaju. Hasan yang duduk di belakang mobil, tiba-tiba meminta untuk berhenti di sebuah masjid untuk buang air kecil.

Setelah itu, saat tiba di Gampong Peusangan, Hasan kembali meminta berhenti di masjid untuk membasuh muka dan kencing. “Kalau setiap ketemu masjid kita berhenti, kapan nyampenya,” ucapku menoleh ke arah Hasan saat mobil melaju memasuki Kota Bireuen.

“Iya bang, tapi kita mampir sekali lagi di masjid, biar nggak ngantuk, mau cuci muka, sekalian kencing,” pinta Hasan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB, suasana mulai sedikit disinari cahaya matahari. Setelah mampir di masjid Kota Bireuen, Hasan mendapat informasi untuk melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Jeunib dan harus sampai ke titik pertemuan pukul 06.00 WIB. Jika tidak, maka akan dibatalkan karena cukup berbahaya. Banyak patroli TNI dan Brimob Polri. Belum lagi, kami harus melewati puluhan blokade jalan pos pemeriksaan TNI/Polri.

Mobil pun dipacu Bang Jafar dengan kencang untuk mengejar waktu. Baru saja keluar Kota Bireuen, kami sudah diadang patroli Brimob Polri dengan moncong senjata laras panjang diarahkan ke depan mobil kami.

“Mau kemana kalian! Mau masuk ke GAM ya. Jangan coba-coba!” hardik seorang anggota Brimob. Setelah diperiksa identitas, kami berdalih hendak ke kota Banda Aceh. Selain patroli Brimob, kami juga diadang patroli TNI.

Seusai melintas Gampong Peudada, menuju Gampong Peulimbang, kami melihat cahaya lampu kedap-kedip dari dalam satu kedai di pingir jalan yang masih tutup. Mobil langsung menepi, aku dan Hasan turun dari mobil menuju kedai tersebut. Terdengar suara seseorang meminta kami untuk segera berjalan ke belakang kedai.

Tiba-tiba muncul empat orang dengan dua motor trail berboncengan. Sedangkan satu orang yang memanggil, muncul dari dalam kedai dan tanpa basa-basi langsung menutupi mataku dan Hasan dengan ikatan kain, lalu dinaikkan ke motor.

“Laju jak awak nyan. Hanjeued meurumpo pateuruli TNI ato Brimob. Lon sama supe ke Gampong Peudada,” terdengar samar percakapan mereka dengan bahasa Aceh yang sedikit aku mengerti. Artinya, “Mereka harus segera dibawa, jangan sampai ketemu patroli TNI atau Brimob. Sopir menunggu di Gampong Peudada.”

Setelah menempuh waktu 15 menit perjalanan dengan motor, kami tiba di markas GAM. Saat ikatan mata dibuka, aku dan Hasan disambut seorang pria bernama Muhrizal. Kemudian, kami diberitahu peraturan yang harus diikuti, terutama jangan mengaku orang Jawa. Hasan sedikit kaget, lalu aku berusaha menenangkan.

“Kalau ditanya ngaku orang Jakarta atau Sunda. Mereka anti-suku Jawa karena dianggap yang menjajah Aceh saat ini,” ucapku pelan ke Hasan yang spontan mengiyakan.

Setelah melalui pemeriksaan yang ketat, kami diperbolehkan meliput upacara pengibaran bendara dengan inspektur upacara Panglima GAM Wilayah Batee Iliek,
Upacara diikuti ratusan pasukan GAM yang mereka namakan sebagai Tentara Nasional Aceh (TNA). Mereka berseragam militer dengan baret merah dan hijau, bersenjata laras panjang yang didominasi senjata jenis AK 47. Sementara, puluhan pasukan GAM bersenjata laras panjang lainnya berjaga-jaga di luar lapangan upacara yang dipenuhi umbul-umbul dan bendera-bendera GAM.

Upacara bendera yang juga disaksikan ratusan penduduk berlangsung khidmat, diawali pembacaan ayat suci Al Quran, malantunkan shalawat, menyanyikan lagu kebangsaan GAM, penaikan bendera GAM berwarna merah bergaris hitam dengan gambar bulan bintang, dan orasi dari Panglima GAM, serta diakhiri dengan tembakan salvo ke udara. Sebagian tembakan diarahkan ke pohon-pohon kelapa. Buah-buah kelapa pun berjatuhan.

Usai upacara, Hasan mewawancarai Panglima GAM Wilayah Batee Iliek, Teungku Darwis Jeunib, sedangkan aku sejak dimulainya upacara sudah sibuk memotret momen sejarah yang tak akan terulang lagi. Aku dan Hasan juga tak menyia-nyiakan untuk berfoto bersama Panglima GAM bertumbuh tinggi besar dan berjengot tebal. Selain itu, kami juga berfoto bersama dengan pasukan elite GAM dan pasukan pengibar bendera GAM.

Saat keluar dari markas GAM, terdengar tembakan yang mengarah ke motor yang kami naiki. Pasukan GAM yang mengawal kami membalas tembakan. Aku dan Hasan langsung turun dari motor mengambil posisi tiarap, berlindung di semak-semak dan pepohonan. Beruntung, tembak-menembak hanya berlangsung satu menit karena ternyata tembakan berasal dari pasukan patroli TNI yang lewat, bukan pasukan penyergap.

Perjalanan keluar dilanjutkan. Hanya butuh waktu lima menit, kami diantarkan ke mobil di Gampong Peudada. Bang Jafar langsung tancap gas kembali menuju Kota Lhokseumawe. Kami pun lega dan sedikit tersenyum puas bisa meliput milad GAM dan sekaligus membuktikan menembus blokade TNI/Polri yang melarang adanya upacara pengibaran bendera pada milad GAM, 4 Desember.

“Kok kita keluar lebih cepat?” tanya Hasan tersenyum.

“Ya, tadi kita dibawa mutar-mutar dulu,” aku menimpali.

Kemudian, aku mengarahkan Bang Jafar untuk tidak ke hotel tapi beristirahat di rumah tanteku di kawasan Panggoi Lhokseumawe. Hasan langsung membuat berita. Aku ikut membantu membuat berita, setelah selesai mengedit foto dan mengirimkan ke Kantor Republika Jakarta. Kami pun bermalam di rumah tanteku. [Bersambung]

Sumber : Republika

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

HEADLINES

Ibu dan Anak Ditembak dan Dipukul Tetangga di Aceh Utara

Lhoksukon | AcehJurnal.com -  Seorang pria di Gampong Alue Lhok Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara dilaporkan mengamuk dan menembak seorang warga dengan senapan angin....

Edarkan 2 Kg Sabu, 2 Warga Aceh Ditangkap Polisi di Medan

Medan | Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatra Utara menangkap dua pengedar narkoba yang sudah menjadi target operasi. Dari tangan mereka disita barang bukti narkoba...

Resmi Jadi Wali Kota Medan, Bobby Nasution Punya Harta Rp 54,8 M

Jakarta - Bobby Nasution resmi dilantik menjadi Wali Kota Medan hari ini, Jumat (26/2). Pelantikan menantu Presiden Joko Widodo ini dilakukan oleh Gubernur Sumatera...

BERITA TERKAIT

Ibu dan Anak Ditembak dan Dipukul Tetangga di Aceh Utara

Lhoksukon | AcehJurnal.com -  Seorang pria di Gampong Alue Lhok Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara dilaporkan mengamuk dan menembak seorang warga dengan senapan angin....

Edarkan 2 Kg Sabu, 2 Warga Aceh Ditangkap Polisi di Medan

Medan | Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatra Utara menangkap dua pengedar narkoba yang sudah menjadi target operasi. Dari tangan mereka disita barang bukti narkoba...

Resmi Jadi Wali Kota Medan, Bobby Nasution Punya Harta Rp 54,8 M

Jakarta - Bobby Nasution resmi dilantik menjadi Wali Kota Medan hari ini, Jumat (26/2). Pelantikan menantu Presiden Joko Widodo ini dilakukan oleh Gubernur Sumatera...