Catatan Jurnalis Siasai Blokade TNI/Polri untuk Menembus Markas GAM (3)

Pada 5 Desember 2002, foto dan tulisan kami terbit di halaman satu koran Republika. Sebelum kembali ke Kota Banda Aceh, kami berinisiatif untuk mampir meliput drama pengepungan pasukan TNI terhadap pasukan GAM di rawa-rawa Gampong Cot Trieng, Aceh Utara. Ikut serta dalam mobil Bang Jafar, tanteku Cut Sofia, dan anaknya Esti Wukirsari yang hendak berlebaran di kota Banda Aceh.

Saat tiba di Gampong Cot Trieng, puluhan pasukan TNI bersiaga penuh dengan moncong senjata ke arah seberang rawa-rawa. Aku langsung memotret momen tersebut. Kami pun sempat berpapasan dengan beberapa mobil wartawan nasional lainnya. Mereka mengacungkan jempol ke arah kami karena mungkin mereka salut atas keberhasilan kami meliput milad GAM pada 4 Desember.

Catatan Jurnalis Siasati Blokade TNI/Polri Untuk Tembus Markas GAM [2]

Perjalanan dilanjutkan. Tanteku meminta untuk mampir berziarah ke makam kakekku di Gampong Teupin Panah di kawasan Peulimbang. Aku melirik Hasan, sepertinya tatapannya setuju. Jalan menuju Gampong Teupin Panah dari Kecamatan Peulimbang yang barada di jalan lintas Aceh-Medan, melewati beberapa kampung yang berada paling ujung, langsung berbatasan dengan hutan dan bukit. Kurang lebih jaraknya 10 km.

Kami harus melewati beberapa jalan yang di blokade. Blokade itu berupa jalan yang dibelah sedalam satu hingga dua meter. Rupanya hal itu juga menjadi tanda kalau kami masuk ke kawasan perkampungan GAM. Jalan yang dibelah untuk menghambat kendaraan truk reo dan tank pasukan TNI/Polri yang hendak menyerang markas GAM.

Penduduk cukup mengenal tanteku yang ternyata seorang keuchik atau kepala kampung sehingga mobil kami tak mengalami kesulitan melewati jalan yang dibelah. Beberapa pemuda dengan sigap langsung mengangkat batang-batang pohong besar yang disimpan untuk jembatan darurat sehingga mobil kami dapat melintas.

Membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai di makam kakekku, Teuku Beun Seuman, yang juga terdapat meunasah (tempat pengajian).

Tak jauh dari makam, kami singgah di rumah tanteku yang sederhana, terbuat dari kayu, namun lantainya dari keramik. Halamannnya luas dan teduh dengan dikelilingi kebun pinang yang buahnya sudah menguning. Di seberang jalan depan rumah terhampar pemandangan sawah. Menurut tanteku, sebatas mata memamdang, sawah-sawah tersebut warisan kakekku.

Tiba-tiba, tanteku mendapat kabar ada seorang pemuda ditemukan tewas dengan luka tembakan di sekujur tubuhnya. Aku dan Hasan mengikuti tanteku ke rumah duka. Puluhan orang yang melayat memandangi aku dan Hasan dengan tatapan tajam. Sebagian pemuda yang kulihat tak asing wajahnya dan langsung menutupi setengah wajahnya dengan kain saat aku memotret korban dan para pelayat.

Aku diselimuti rasa penasaran, kalau lokasi milad GAM yang kami liput kemarin itu berada di sekitar sini. Aku mencoba menelusuri jalan setapak dan benar saja, aku menemukan tempat lokasi lapangan yang dikelilingi puluhan pohon kelapa. Ternyata markas GAM itu ada di Gampong Teuping Panah yang berbatasan dengan hutan.

Usai Shalat Azhar, kami kembali menuju Kota Banda Aceh. Tiba jelang Magrib dan memilih menginap di rumah tanteku di Kuta Alam. Kami berpisah dengan Bang Jafar. Namun, Satuan Gabungan Intel (SGI) TNI menjemput aku dan Hasan untuk diinterogasi terkait aktivitas kami masuk ke markas GAM.

Setelah itu, aku dan Hasan sempat mengikuti malam takbiran yang berjalan cukup khidmat di Kota Banda Aceh, terutama di Masjid Raya Baiturrahman. Situasi normal, aman, dan kondusif, tidak ada tanda-tanda Aceh dalam situasi konflik bersenjata.

Aku dan Hasan juga sempat menyambangi rekan wartawan Media Indonesia/Metro TV, Selamat Ginting, yang baru tiba dari Medan dan menginap di salah satu hotel. Kami pun sepakat untuk menjakankan Shalat Idul Fitri bersama di Lapangan Blang Padang pada Jumat 6 Desember 2002.

Pada Ahad 8 Desember 2002, aku tanpa ditemani Hasan kembali ke kota Lhokseumawe dengan menggunakan bus umum. Ternyata dalam perjalanan penumpang bus diperiksa lebih ketat saat melintas pos pemeriksaan TNI/Polri.

Aku mendapat tugas meliput kegiatan Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto yang akan menghadiri acara sujud syukur atas ditandatanganinya peace agreement atau perjanjian perdamaian antara Indonesia dan kelompok separatis GAM di Jenewa, Swiss, pada Senin 9 Desember 2002.

Aku kembali bertemu Selamat Ginting yang bersama tim Media Indonesia dan Metro TV juga meliput acara tersebut. Seusai acara, pukul 12.00 WIB aku dengan menggunakan bus umum kembali ke Kota Banda Aceh.

Pada Selasa, 10 Desember 2002, usai pamit dengan tante Cut Sofia dan famili, aku bersama Hasan kembali ke Jakarta dengan pesawat melalui Bandara Blang Bintang, transit di Bandara Polonia Medan. Kami sempat bermalam di rumah Selamat Ginting di Medan. Pada 11 Desember 2002, kami terbang ke Jakarta dengan senyum kebanggaan yang menegangkan. [bersambung]

Advertisement

Sumber : Republika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT