Cara Waled Nu Budayakan Syarah Kitab Kuning Dengan Bahasa Asing

Joel Bungalow : Wisata Adalah Sektor Riil Investasi di Aceh

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM - “Berbicara sektor pariwisata itu riil, karena dengan dengan hidupnya sektor pariwisata di Aceh, otomatis sektor kuliner juga berkembang. Ini...

Wali Nanggroe, Semoga Tidak Ada Lagi Generasi Aceh yang Direhabiltasi

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haytar berharap, di masa-masa mendatang tidak ada generasi muda...

Hayeu ! Band “Keubibit” Asal Aceh Sukses Raih AMI Award 2020

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM - Group Musik etnik asal Aceh Keubibit berhasil meraih Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2020. Pengumuman keberhasilan itu sisampaikan melalui televisi...

Ketua DPRA : APBA 2021 Harus Selesaikan Persoalan Kemiskinan di Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Ketua DPR Aceh, Dahlan Jamaluddin menegaskan bahwa, anggaran pendapatan dan belanja Aceh (APBA) tahun anggran 2021 harus dipergunakan sebaik...

Terjaring OTT, KPK Umumkan Status Hukum Wali Kota Cimahi Besok

JAKARTA | Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna yang terjerat operasi tangkap tangan (OTT) atas dugaan suap terkait perizinan rumah sakit masih diperiksa di...

Oleh : Fadhil Mubarak Aisma

BAHASA adalah satu faktor penting dalam komunikasi. Bahasa berfungsi sebagai media penyambung kabar yang ingin diutarakan oleh seseorang kepada orang lain. Umumnya, bahasa yang dijadikan sebagai sarana komunikasi adalah satu bahasa dalam suatu daerah. Berbeda halnya jika komunikasi itu ditujukan kepada orang yang berbahasa asing. Sehingga muncul urgensi dalam mempelajari dan sekaligus memahami bahasa asing sebagai sarana komunikasi.

Menyikapi hal demikian, seorang ulama kharismatik Aceh, Waled Nuruzzahri Yahya segera bersikap. Sapaan akrab Waled Nu ini dikenal sebagai ulama dayah yang inovatif. Pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga ini mendorong santrinya untuk bisa menguasai bahasa asing. Saat ini, Waled Nu sangat antusias mengamati bakat yang dimiliki oleh santrinya. Salah satunya adalah soal penguatan bahasa asing. Ini dibuktikan dengan komitmennya untuk memberikan kesempatan bagi santrinya untuk menjelaskan kitab turast dalam dwi bahasa, yakni Arab dan Inggris. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap hari ba’da Subuh, kecuali pada Jumat.

Pengajian ini diikuti oleh semua kalangan santri, mulai dari usianya masih belia maupun dewasa. Setiap angkatan mendapat kesempatan mengaji kitab kuning bersama Waled Nu. Sistem pengajiannya pun dipisah-pisah per harinya menurut angkatannya masing-masing. Misalnya, Sabtu pagi pengajian dilakukan bagi anak kelas satu, kemudian pada Minggu untuk angkatan kelas dua. Begitu juga seterusnya.

Sebelum pengajian dimulai, ada aturan khusus yang diwajibkan bagi santrinya. Waled Nu meminta satu hingga tiga santri untuk mengulangi syarahan (penjelasan) materi kitab dalam bahasa Arab maupun Inggris. Rutinitas itu selalu diajarkan Waled Nu dalam memberikan motivasi bagi anak didiknya sehingga dapat berkontribusi untuk dunia maupun akhirat.

Setiap pengajian berlangsung, Waled Nu selalu mengabadikannya dalam rekaman video. Tujuannya agar santri yang mengulangi pelajaran kitab dalam bahasa asing semakin termotivasi. Mereka juga dapat memperbaiki kembali setiap kesalahan-kesalahan dalam pengucapan bahasa asing tersebut.

Bagi santri yang bagus syarahnya, maka Waled Nu akan memberikan semacam “reward”. Videonya akan diunggah di laman resmi Youtube YPI Ummul Ayman. Tujuannya agar semakin memotivasi santri lainnya dalam hal pengembangan lifeskill tentang penguasaan bahasa asing.

Aktivitas pengajian malam santri dayah tradisional. Foto Taufik Ar Rifai
Aktivitas pengajian malam santri dayah tradisional. Foto Taufik Ar Rifai

Sebelum menerjemahkan isi kitab turast, santri tersebut sudah dibekali dengan pengetahuan dasar. Mereka terlebih dahulu akan dibimbing oleh gurunya masing-masing untuk mempelajari bahasa Arab maupun Inggris dari tingkat dasar.

Seperti diketahui, dayah-dayah yang tersebar di Aceh umumnya menerapkan sistem pengajian kitab kuning secara tradisional. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, dayah-dayah di Aceh kemudian semakin berbenah. Salah satunya adalah menjadikan bahasa asing sebagai prioritas utama dalam sistem pengajian. Namun sistem pengajian tersebut hingga saat ini baru diterapkan di Dayah Ummul Ayman Samalanga.

Bagi Waled Nu, bahasa asing merupakan hal penting sebagai sarana media dakwah. Pasalnya, bahasa sangat menentukan sejauh mana dakwah itu berhasil disyiarkan. Contohnya, jika ada Teungku Aceh yang berdakwah dengan bahasa Aceh, tentu harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Nah, untuk cakupannya secara global, maka perlu penguasaan bahasa asing, yakni Arab dan Inggris sehingga penyebaran dakwahnya berasal dari segala penjuru dunia.

Dengan keilmuan yang mumpuni, disertai kelihaian dalam berbahasa, maka akan menghasilkan kader-kader muslim yang bisa menyebar dakwah bukan hanya di Indonesia, tapi juga internasional. Ini merupakan suatu langkah awal untuk memajukan santri ke tingkat dunia.[]

**) Penulis adalah santri Dayah Ummul Ayman Samalanga. Alumni pelatihan jurnalistik dan magang santri dayah se-Aceh tahun 2020.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

HEADLINES

Joel Bungalow : Wisata Adalah Sektor Riil Investasi di Aceh

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM - “Berbicara sektor pariwisata itu riil, karena dengan dengan hidupnya sektor pariwisata di Aceh, otomatis sektor kuliner juga berkembang. Ini...

Wali Nanggroe, Semoga Tidak Ada Lagi Generasi Aceh yang Direhabiltasi

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haytar berharap, di masa-masa mendatang tidak ada generasi muda...

Hayeu ! Band “Keubibit” Asal Aceh Sukses Raih AMI Award 2020

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM - Group Musik etnik asal Aceh Keubibit berhasil meraih Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2020. Pengumuman keberhasilan itu sisampaikan melalui televisi...

BERITA TERKAIT

Joel Bungalow : Wisata Adalah Sektor Riil Investasi di Aceh

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM - “Berbicara sektor pariwisata itu riil, karena dengan dengan hidupnya sektor pariwisata di Aceh, otomatis sektor kuliner juga berkembang. Ini...

Wali Nanggroe, Semoga Tidak Ada Lagi Generasi Aceh yang Direhabiltasi

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haytar berharap, di masa-masa mendatang tidak ada generasi muda...

Hayeu ! Band “Keubibit” Asal Aceh Sukses Raih AMI Award 2020

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM - Group Musik etnik asal Aceh Keubibit berhasil meraih Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2020. Pengumuman keberhasilan itu sisampaikan melalui televisi...