Acehjurnal.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Banda Aceh mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada periode 19-21 Oktober 2025. Imbauan ini disampaikan menyusul analisis kondisi atmosfer yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam aktivitas cuaca.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda, Stya Juangga Dirta, menjelaskan bahwa potensi cuaca ekstrem ini dipicu oleh beberapa faktor klimatologis. “Aktifnya monsoon Asia di wilayah Aceh dan nilai Dipole Mode yang terpantau negatif memicu peningkatan aktivitas konvektif di Indonesia bagian barat,” ujar Stya pada Minggu, 19 Oktober 2025.
Faktor pendukung lainnya, menurut Stya, adalah terpantau gelombang atmosfer Kelvin, belokan angin, serta konvergensi di wilayah Aceh. Kondisi ini diperparah dengan suhu muka laut yang hangat di Samudera Hindia Barat Sumatera dan Perairan Timur Aceh, yang meningkatkan penguapan dan massa uap air di atmosfer.
Dampak dari kondisi tersebut, beberapa wilayah di Aceh berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang. “Masyarakat diimbau waspada terhadap kemungkinan terjadinya banjir, tanah longsor, dan genangan air,” tegas Stya.
BMKG memprakirakan hujan berpotensi terjadi pada 19 Oktober 2025 meliputi 17 kabupaten, antara lain Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Simeulue, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara.
Untuk tanggal 20 Oktober 2025, potensi hujan diperkirakan melanda 13 kabupaten, termasuk Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Simeulue, Pidie, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara.
Sementara pada 21 Oktober 2025, delapan wilayah diprediksi mengalami hujan, meliputi Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara.
Berdasarkan Surat Kesiapsiagaan Menghadapi Puncak Musim Hujan 2025–2026 bernomor e.B/KL.00.02/003/KACH/X/2025 yang diterbitkan BMKG Stasiun Klimatologi Aceh, puncak musim hujan di Aceh diperkirakan terjadi pada November hingga Desember 2025.
Pada periode puncak musim hujan tersebut, sebagian besar wilayah Aceh diprediksi mengalami peningkatan curah hujan signifikan, terutama di wilayah pesisir barat–selatan, dataran tengah, dan timur Aceh. Kondisi ini berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Aceh, Muhajir, mengimbau Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, dan instansi terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta memperkuat koordinasi lintas sektor. Ia juga meminta media massa dan lembaga komunikasi publik membantu menyebarluaskan informasi cuaca dari kanal resmi BMKG.
“Pastikan saluran drainase, sungai, dan infrastruktur pengendali banjir dalam kondisi baik. Koordinasi antar lembaga kebencanaan seperti BPBA, TNI/Polri, hingga Dinas Pertanian dan Perkebunan juga perlu ditingkatkan, termasuk penyebaran informasi iklim untuk penyesuaian pola tanam,” pungkas Muhajir.
Sumber: BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Banda Aceh dan BMKG Stasiun Klimatologi Aceh



