Banda Aceh Hasilkan 13 Ribu Ton Plastik Dalam Setahun

Warga Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, dalam setahun menghasilkan 80.657 ton sampah. Dari jumlah itu, 13.389 ton merupakan sampah plastik. Pemerintah setempat berusaha menekan produksi sampah plastik dengan menerapkan kantong plastik berbayar.

Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh Hamdani, Sabtu (12/6/2021), menuturkan, sampah tersebut hasil dari rumah tangga dan usaha. Hanya sebagian kecil sampah yang didaur ulang, yakni 12.000 ton per tahun. Sampah-sampah yang tidak terdaur ulang ditimbun di tempat penampungan akhir (TPA) sampah.

Hamdani mengatakan, sampah plastik memang menjadi masalah serius yang harus ditangani. Sampah plastik sukar terurai sehingga dapat mencemari lingkungan. Sampah plastik yang berakhir di laut mengancam kehidupan biota laut.

”Salah satu cara menekan produksi sampah plastik dengan membatasi penggunaan. Kami menerapkan kantong plastik berbayar dan edukasi warga,” kata Hamdani.

Pemerintah Kota Banda Aceh menerbitkan Peraturan Wali Kota Banda Aceh Nomor 111 Tahun 2020 tentang Kewajiban Pembatasan Penggunaan Kantong Plastik di Supermarket, Swalayan, dan Mall. Kebijakan itu untuk menuju Banda Aceh Bebas Sampah 2025. Pemberlakuan aturan ini dimulai pada 5 Juni 2021, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pemerintah mengajak pengeloa swalayan dan mal untuk ikut mengedukasi pelanggan agar mengurangi penggunaan kantong keresek.

”Setiap penggunaan kantong plastik, nantinya dikenakan biaya Rp 500. Uang hasil penjualan tersebut dikelola sendiri oleh pemilik usaha dan dapat dikeluarkan dalam bentuk program sosial,” ujarnya.

Berdasarkan data dari Indonesia National Plastic Action Partnership, yang dirilis April 2020, setiap tahun Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton sampah plastik. Sebanyak 9 persen, atau sekitar 620.000 ton, masuk ke sungai, danau, dan laut.

Berakhir di laut

Advertisement

”Indonesia merupakan salah satu negara yang menghasilkan sampah plastik terbesar di dunia yang berakhir di laut. Sampah plastik tidak mudah terurai,” kata Hamdani.

Hamdani berharap, hadirnya kebijakan ini dapat menurunkan penggunaan kantong plastik. Store Manager Suzuya Mall Banda Aceh Amalia Yolanda menuturkan, pihaknya mendukung kebijakan pemerintah membatasi penggunaan kantong plastik. Suzuya Mall kini menyediakan tas ramah lingkungan untuk ditawarkan kepada pelanggan sebelum melakukan transaksi.

”Kami ikut menyosialisasi kepada pelanggan agar menyediakan tas belanja sendiri,” katanya.

Dosen Teknik Lingkungan Universitas Serambi Mekkah (USM) Banda Aceh, Muhammad Nizar, menuturkan, pengelolaan sampah di Banda Aceh masih konvensional, yakni mengumpulkan dan membuang ke TPA.

Menurut dia, perlu menahan laju produksi sampah sejak dari hulu atau sumber, baik dengan cara membatasi penggunaan maupun dengan mengelolanya. ”Pembuangan sampah secara konvensional berdampak buruk terhadap lingkungan, seperti mencemari air permukaan dan air tanah,” kata Nizar. [Kompas.id]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT