Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Gempa 5,4 Magnitudo Guncang Simeulue

SINABANG | ACEHJURNAL.COM - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitude 5,4 mengguncang Kabupaten Simeulue, Senin (19/10). Informasi diperoleh dari laman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika...

Kenduri Blang, Cara Petani Aceh Mendoakan Tanaman Padi Bebas Hama  

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM - Pagi itu, matahari sudah berada hampir di atas kepala, , Senin (19/10). Masyarakat Gampong Lamsujen, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar...

Air Asia Berhenti Beroperasi di Indonesia, Kenapa?

JAKARTA | Maskapai AirAsia X berencana menutup operasionalnya di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan agar dapat bertahan di tengah pandemi Covid-19. Perlu diketahui, maskapai yang merupakan...

Kapal Etnis Rohingya Kembali Terpantau di Perairan Aceh

LHOKSEUMAWE | Satu kapal asing diduga mengangkut imigran Rohinga dikabarkan kembali terpantai di perairan laut utara kota Lhokseumawe. Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh, Miftach...

Selain di Cina, Norovirus Juga Ditemukan di Indonesia

JAKARTA | Beberapa waktu lalu, lebih dari 70 mahasiswa di universitas daerah Taiyuan, China dilaporkan mengidap norovirus. Mereka yang mengidap norovirus mengalami diare dan...

Oleh: Jabal Ali Husin Sab*

Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000’an dengan hadirnya low-cost aviation (maskapai penerbangan bertarif murah). Di wilayah Asia, revolusi industri penerbangan ini diperankan oleh Air Asia.

Kehadiran Air Asia telah membuat biaya penerbangan turun drastis. Turunnya harga tiket pesawat berdampak pada meningkatnya mobilitas penumpang pesawat udara. Industri wisata di banyak negara diuntungkan dengan hadirnya Air Asia. Industri wisata di kota-kota di Cina, Thailand, Malaysia dan Indonesia misalnya, mendapatkan keuntungan besar dari kehadiran maskapai Air Asia.

Dalam kasus Aceh, Air Asia menjadi penghubung antara Banda Aceh dengan Kuala Lumpur, Malaysia. Dari data wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh tiap tahunnya, didominasi oleh wisatawan dari Malaysia. Warga asing lain yang ingin ke Aceh bisa dengan mudah terbang ke Kuala Lumpur lalu menyambung penerbangan ke Banda Aceh melalui Bandara KLIA 2, bagian dari Kuala Lumpur Internasional Airport yang dirancang khusus untuk penerbangan pesawat-pesawat Air Asia, baik penerbangan domestik Malaysia maupun penerbangan internasional ke negara-negara di Asia semisal Indonesia, Thailand, Cina, Korea dan Jepang. Juga terdapat rute penerbangan Air Asia di KLIA 2 ke kota-kota di Australia dan negara-negara Eropa.

Kerjasama saling bahu-membahu antara Kerajaan Malaysia dan korporasi maskapai Air Asia (government to business) telah mentransformasikan Malaysia sebagai hub (penghubung) penerbangan internasional di regional Asia, khususnya di segmentasi low-cost aviation. Pada era sebelumnya penghubung penerbangan terkonsentrasi di Bandara Internasional Changi, Singapura.

Kemampuan Air Asia mengembangkan bisnisnya dan kebersediaan pemerintah memberi fasilitas dengan menyediakan bangunan KLIA 2 telah memberikan dampak besar dalam menjadikan Air Asia sebagai maskapai penerbangan raksasa dunia sekaligus mendongkrak industri pariwisata Malaysia, juga industri pariwisata negara-negara lain yang terkoneksi dengannya di kawasan Asia.

Air Asia dan Masa Depan Pariwisata

Maskapai penerbangan Australia, Virgin Australia telah berhenti beroperasi. Upaya perusahaan ini meminta bantuan suntikan dana kepada pemerintah Australia ditolak.

Di belahan dunia lain, maskapai terbesar dan tertua Amerika Latin asal Kolombia, Avianca, secara resmi dinyatakan bangkrut dan berhenti beroperasi. Maskapai Amerika Serikat, Virgin Atlantic Airways juga ikut dinyatakan bangkrut. Pandemi Covid-19 telah memberikan pukulan telak bagi industri penerbangan dunia.

Industri pariwisata ke depan sangat bergantung dengan kondisi di industri penerbangan. Sementara maskapai penerbangan terbebani dengan gaji puluhan ribu staf penerbangan yang terpaksa dirumahkan.

Skenarionya, apabila maskapai penerbangan bertarif murah semisal Air Asia tutup, maka dunia pariwisata di kawasan Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara, akan mengalami mimpi buruk. Dapat dipastikan butuh lebih dari setahun atau dua tahun untuk bisa mendongkrak kembali jumlah wisatawan. Hal ini juga memungkinkan apabila hadir maskapai alternatif yang bisa mengisi posisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Air Asia, yang juga punya kemampuan dan kesiapan sebesar yang dimiliki Air Asia.

Terlebih lagi, jika kenaikan tiket pesawat penerbangan internasional tidak dapat dihindari oleh maskapai penerbangan manapun, maka dunia pariwisata hingga dua tahun mendatang akan mengalami penurunan yang signifikan.

Namun saya percaya bahwa negara seperti Malaysia yang bisa dikatakan berhaluan developmentalisme (pembangunanisme), tidak akan melepas nasib sektor swasta sepenuhnya tanpa perhatian pemerintah.

Intervensi kebijakan dan stimulus terhadap sektor bisnis dan industri akan digulirkan guna memulihkan kembali perusahaan yang terdampak pandemi semisal Air asia. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, hubungan saling kergantungan antara Air Asia dan industri pariwisata Malaysia cukup besar. Sehingga memulihkan Air Asia sama saja seperti memulihkan pariwisata Malaysia.

Pulihnya Air Asia dampaknya akan mempercepat pemulihan industri pariwisata di Asia Tenggara.

Strategi Pariwisata Aceh Paska Pandemi

Bagi Aceh, skenario kolapsnya Air Asia dapat diprediksi akan menjadi bencana bagi sektor pariwisata di Aceh. Namun, dengan bertahannya Air Asia,  akan menjadi tumpuan dan harapan utama bagi pariwisata Aceh untuk kembali normal. Air Asia dan Kuala Lumpur telah menjadi pintu masuk bagi wisatawan luar negeri untuk berkunjung ke Aceh.

Menghadapi skenario terburuk atas bencana di industri penerbangan dunia, pemulihan sektor pariwisata di Aceh bisa disiasati dengan mendorong wisatawan domestik/nasional untuk berkunjung ke Aceh.

Cukup menyedihkan membayangkan puluhan hotel yang ada di banda Aceh misalnya, mengalami penurunan pengunjung hingga 80 persen atau bahkan kosong sama sekali. Maka sebagaimana perhotelan juga merupakan instrumen penting dalam sektor pariwisata selain transportasi, Pemerintah Aceh paska pandemi perlu menggenjot kunjungan wisatawan domestik agar hotel-hotel tersebut tidak ikut kolaps.

Sembari menunggu pemulihan kunjungan wisatawan asing, wisatawan domestik menjadi sandaran atau penyangga untuk mempertahankan denyut nadi sektor usaha pariwisata di Aceh.

*Penulis adalah kolumnis di Acehjurnal.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Hot Topics

Gempa 5,4 Magnitudo Guncang Simeulue

SINABANG | ACEHJURNAL.COM - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitude 5,4 mengguncang Kabupaten Simeulue, Senin (19/10). Informasi diperoleh dari laman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika...

Kenduri Blang, Cara Petani Aceh Mendoakan Tanaman Padi Bebas Hama  

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM - Pagi itu, matahari sudah berada hampir di atas kepala, , Senin (19/10). Masyarakat Gampong Lamsujen, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar...

Air Asia Berhenti Beroperasi di Indonesia, Kenapa?

JAKARTA | Maskapai AirAsia X berencana menutup operasionalnya di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan agar dapat bertahan di tengah pandemi Covid-19. Perlu diketahui, maskapai yang merupakan...

Related Articles

Gempa 5,4 Magnitudo Guncang Simeulue

SINABANG | ACEHJURNAL.COM - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitude 5,4 mengguncang Kabupaten Simeulue, Senin (19/10). Informasi diperoleh dari laman Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika...

Kenduri Blang, Cara Petani Aceh Mendoakan Tanaman Padi Bebas Hama  

ACEH BESAR | ACEHJURNAL.COM - Pagi itu, matahari sudah berada hampir di atas kepala, , Senin (19/10). Masyarakat Gampong Lamsujen, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar...

Air Asia Berhenti Beroperasi di Indonesia, Kenapa?

JAKARTA | Maskapai AirAsia X berencana menutup operasionalnya di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan agar dapat bertahan di tengah pandemi Covid-19. Perlu diketahui, maskapai yang merupakan...