Pidie Jaya – Pemerintah Aceh menegaskan pentingnya pembinaan santri agar memiliki bekal ilmu, akhlak, dan kemampuan sebelum terjun mengabdi di tengah masyarakat.
Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Muhsin, saat menutup Milad dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-58 Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Darussa’adah Wilayah I Pidie-Pidie Jaya di YPI Asjadi Darussa’adah Kayee Raya, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya, Selasa (30/6).
Muhsin mengatakan santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga harus ditempa melalui berbagai kegiatan pembinaan untuk mengasah kemampuan, karakter, dan kesiapan berdakwah di tengah masyarakat.
“Santri harus teruji sebelum berada di medan pengabdian. Ketika kembali ke masyarakat, mereka diharapkan mampu menjadi penerang, memberikan pemahaman keagamaan yang baik, serta menghadirkan manfaat bagi umat,” kata Muhsin.
Ia menilai kegiatan seperti MTQ dan berbagai perlombaan di lingkungan dayah menjadi sarana mengembangkan kompetensi santri, mulai dari bidang Al-Qur’an, ilmu keislaman, bahasa hingga seni Islam. Kegiatan tersebut juga dinilai mampu menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat sekaligus memperkuat tradisi keilmuan dayah.
Menurutnya, pembinaan itu sejalan dengan komitmen Pemerintah Aceh dalam memperkuat pendidikan dayah untuk melahirkan generasi Islami, unggul, dan berkarakter.
Muhsin juga mengapresiasi partisipasi pimpinan dayah, dewan guru, dan para santri selama rangkaian Milad dan MTQ berlangsung. Ia mengajak seluruh santri terus menunjukkan kualitas pendidikan dayah Aceh melalui prestasi dan pengabdian.
Ia menilai hakikat pendidikan dayah adalah beut dan seumeubeut—belajar sekaligus mengajarkan ilmu kepada orang lain. Karena itu, santri perlu ditempa melalui berbagai ruang pembinaan agar memiliki kesiapan saat terjun ke tengah masyarakat.
“Santri Aceh bukan hanya berkhidmat kepada agama, tetapi juga harus mampu berkontribusi bagi negeri,” ujarnya.
Muhsin mengingatkan bahwa nilai sebuah perlombaan bukan semata-mata ditentukan oleh kemenangan, melainkan dari proses belajar, pengalaman, dan pembentukan karakter yang diperoleh setiap peserta.
Menurutnya, esensi pendidikan dayah adalah melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi kepada masyarakat. (***)



