HomeAgamaSaat Etnis Tamil Hindu Gelar Ritual di Negeri Syariat

Saat Etnis Tamil Hindu Gelar Ritual di Negeri Syariat

Banda Aceh | AcehJurnal.com – Suasana di Kuil Palani Andawer, yang terletak di Gampong Keudah Kota Banda Aceh pada Minggu (30/04/2022), begitu sesak. Ratusan orang umat Hindu Etnis Tamil secara silih berganti memasuki kuil untuk melakukan ritual Ritual Sithirai Maha Puja.

Rangkaian kegiatan hari kemenangan sudah dimulai sejak Jumat (06/04) ditandai dengan penaikan bendara dan memandikan arca-arca hingga puncak peringatannya pada hari Minggu (30/04) pagi.

Gelaran ritual umat Hindu ini berlangsung semarak. Menariknya, acara ini berlangsung di Banda Aceh, ibukota provinsi yang menerapkan syariat Islam. Saat prosesi ritual digelar, perempuan dan laki-laki tidak diperbolehkan menggunakan alas kaki. Sepanjang jalan, pemuka agama Hindu ikut memecahkan buah kelapa muda dan menari-nari di tengah jalan mengikuti irama tabuhan gendang yang mengiringi.

Pada ritual ini, mereka ikut membawa arca dan patung-patung diarak berkeliling kota Banda Aceh. Foto Taufik Ar Rifai

Patung-patung dan arca mereka arak keliling kampung mulai dari Jalan Teungku di Anjung Keudah menuju jalan Coet Meutia, menelusuri jalan Teratai Kampung Baru lalu ke jalan Malem Dadang dan kembali ke kuil.

Meski perayaan ini digelar kaum minoritas etnis Tamil Hindu, toleransi dan kebersamaan tetap terjaga. Ini terlihat banyaknya masyarakat Aceh yang ikut menyaksikan prosesi ini dengan meriah.

Pinandita atau pimpinan kuil Palani Andawer, Rada Krisna ketika dikonfirmasi mengatakan, ritual yang dilaksanakan itu berlangsung khidmat dan lancar. Dalam ritual keagamaan itu, tidak hanya melibatkan etnis Tamil asal Aceh dan Sumatera Utara, tetapi juga dihadiri puluhan etnis tamil asal Malaysia.

Suasana Ritual Sithirai Maha Puja Hindu. Foto Taufik Ar Rifai

“Tidak ada hambatan apapun. Kita bebas menggelar acara dengan lancar dan sekhidmat mungkin. Bahkan selama ritual ini berlangsung, kita justru mendapat pengamaman dari otoritas Pemko Banda Aceh,” ujar Rada Krisna saat ditemui di lokasi.

Rada mengatakan, umat Hindu etnis Tamil sudah ada di Aceh sejak sebelum Indonesia merdeka. Ini ditandai dengan bangunan kuil Palani Adewar yang terletak di Gampong Keudah, Banda Aceh sejak tahun 1934.

Rada mengatakan, ritual Sithirai Maha Puja sebagai bentuk ucapan syukur kepada dewa Murugan atas nikmat, kemurahan rezeki. Selain itu, ritual ini juga dilakukan untuk melepas nazar bagi mereka. Cara melepas nazar juga dilaksanakan berbeda-beda sesuai dengan diniatkan. Seperti menusuk bagian tubuh dengan benda tajam, mengangkat susu, mencukur rambut, dan lain sebagainya.

“Kita menggelar ritual ini dengan meriah setelah vakum selama tiga tahun akibat Covid-19,” ujar Rada Krisna.

Toleransi Sudah Sejak Masa Kesultanan Aceh

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal mengatakan, implementasi Syariat Islam di Aceh yang mayoritas berpenduduk muslim itu sangat menghargai toleransi antar umat beragama. Menurutnya, penerapan Syariat Islam di Aceh sangat toleran, sehingga Aceh dikenal sebagai bangsa kosmopolit sejak masa Kesultanan Aceh.

“Disini umat Islam dan nonmuslin dapat hidup berdampingan dengan damai. Jadi tidak ada hambatan apapun bagi kaum minoritas untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing,” ujar Kadisbudpar Almuniza Kamal.

Kadisbudpar Aceh Almuniza Kamal. Dok Humas Disbudpar Aceh

Almuniza menjelaskan, kondisi kerukunan antar umat bergama di Aceh umumnya berjalan cukup baik, aman dan stabil. Hal ini metepis kabar bahwa indeks Aceh berada di level terendah tentang toleransi antar umat bergama. Menurutnya, penerapan Syariat Islam di Aceh saling menyatu dan melengkapi. Penerapan Syariat Islam telah menyatu dengan adat istiadat yang dicontohkan sejak masa Kerajaan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam.

Perempuan Aceh ikut berswafoto ria bersama perempuan Tamil Hindu pada ritual Ritual Sithirai Maha Puja di Gampong Keudah, Kota Banda Aceh. Foto Taufik Ar Rifai

Ia berharap agar sikap harmonis dan toleransi tinggi antar umat beragama di Aceh dapat memantik semangat untuk saling bersinergi membangun Aceh. Sehingga mampu membuka peluang bagi pengusaha untuk berinvestasi dan wisatawan bisa menikmati suasana alam di Aceh.

“Tidak ada indikator yang merendahkan indeks kerukunan umat beragama di Aceh, karena kondisi di lapangan bersinergi dan sikap toleransi tinggi ditunjukan oleh Pemerintah dan masyarakat Aceh, semoga ini menjadi refresensi konkrit siapapun ingin meliat dan menilai Aceh,” ujar Almuniza Kamal.

“Masyarakat Aceh sangat terbuka bagi suku, adat, agama apapun asal saling menghargai dalam kerukunan yg menjadi kekuatan Aceh negeri yg Darussalam,” pungkasnya. []

Stay Connected

16,985FansLike
2,458FollowersFollow
61,453SubscribersSubscribe

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News