KOMPENHAGEN | ACEHJURNAL.COM – Umat Muslim di beberapa negara Eropa umumnya menjalani cobaan berat dalam melaksanakan ibadah puasa. Selain perbedaan budaya, durasi berpuasa lebih lama juga dirasakan umat muslim disana. Ini dikarenakan bulan suci ramadhan jatuh pada musim panas dimana matahari akan terlihat lebih lama di siang hari. Sebaliknya,durasi malam terasa sangat singkat sekali.
Pengalaman ini dirasakan Muzakki Usman yang kini bermukim di kota Aalborg, Denmark. Pria asal Tangse Kabupaten Pidie ini menceritakan bagaimana suka-dukanya menjalani ibadah puasa di Negeri Skandinavia tersebut.
“Puasa kali nyoe agak kureueng bacut. Saho poh 05.00 dan buka puasa poh 20.06. Sigoe peukan teuk ka di ek 20 jeum (Kali ini, sahur pukul 05.00, buka puasa pukul 20.00. Sepekan lagi akan menjadi 20 jam),” kata Muzakki Usman kepada AcehJurnal.com via pesan Whatapps, Minggu (3/4) malam.
Sapaan akrab Muh Tangse ini menjelaskan, durasi berpuasa tahun ini agak sedikit ringan bila dibandingkan dengan ramadhan sebelumnya. Ini dikarenakan ramadhan tahun ini tidak berada pada puncak musim panas. Saat musim panas, matahari mulai terbit pada pukul 02.36 dan terbenam sekitar pukul 22.15.
“Puasa thon nyoe mantong mangat karna na ditren salju bacut-bacut. Bak teungoh puasa nyan baro trep lom (puasa tahun ini masih nyaman karena masih turun sedikit salju. Pada pertengahan puasa nanti waktunya akan lama),” ujar Muzakki.
Kendati durasi berpuasa lebih lama, tak menyurut langkah warga Muslim disana untuk melaksanakan ibadah di Bulan Suci Ramadhan. Ia mengaku sangat beruntung memiliki rekan-rekan dan masyarakat setempat yang menghargai umat Muslim berpuasa. Selain itu, tidak adanya tekanan dari otoritas setempat terkait aktifitas keagamaan. Ini dikarenakan Pemerintah Denmark memberikan kebebasan bagi warganya untuk menjalani ritual keagamaan menurut keyakinannya masing-masing.
“Kalau di Aceh, mulai dari berbuka, shalat tarawih, sampai sahur kita merasakan bagaimana indahnya. Yang jelas di Denmark gak seindah di Aceh,” kenangnya.
Untuk mengobati kerinduan suasana Ramadan di Aceh, warga Aceh yang ada di Denmark juga mengadakan buka puasa bersama. Namun, katanya, tidak semua warga Aceh bisa mengikuti acara tersebut karena terbatasnya waktu selama Ramadan.
Sementara pada bulan-bulan biasa lainnya, katanya, warga Aceh di Denmark sering melakukan kegiatan bersama, seperti mengadakan pengajian dan juga perayaan maulid Nabi Muhammad SAW.
Kendati demikian, Muzakki juga mengaku tetap merindukan suasana Ramadan di Aceh, khususnya momen berkumpul dengan keluarga. Dia juga merindukan suasana Ramadan yang meriah di Aceh, dimana banyak masyarakat yang menjajakan jajanan berbuka di pinggir jalan. Ia merindukan makanan Aceh yang sering dijual pada bulan Ramadan, seperti Leumang, Mie Caluk, dan sambai Oen Peugaga.
“Salat tarawih ,sahur bersama keluarga dan yang tidak terlupakan suasana sore saat sebelum berbuka, di Acehkan ramai orang jualan di pinggir jalan,” tambahnya.
Muzakki Usman adalah salah satu dari ratusan warga Aceh yang kini bermukim di Denmark sejak 2003 lalu. Ia tiba disana sebagai pencari suaka politik saat konflik Aceh berkecamuk. Usai perjanjian damai MoU Helsinki diteken, sebagian warga Aceh memilih kembali ke kampung halamannya masing-masing. []