Toet Apam – Filosofi Berbagi Rakyat Aceh Menyambut Bulan Rajab

Sigli | AcehJurnal.com – Nurlina hanya mengganguk saat seorang pria menyapanya dari belakang. Di teras belakang sekolah, perempuan berusia 45 tahun yang berprofesi sebagai guru SMP YPPU kota Sigli ini tengah sibuk membuat kue apam. Ia tak sendirian, sejumlah siswa terlihat bersamanya. Mereka mendengar instruksi gurunya untuk ikut memasak kue apam.

“Ini hampir matang. Tolong apinya dijaga dengan baik agar tidak hangus,” kata Nurlina kepada siswanya.

Hari ini, Selasa (23/2), Pemkab Pidie menginstruksikan kepada seluruh Kepala TK, SD dan SMP untuk memasak apam bersama-sama di lingkungan sekolahnya. Instruksi ini tertuang dalam surat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie bernomor 421/674/2021.

Advertisement


Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud dan Kadisbudpar Aceh, Jamaluddin ikut hadir pada peringatan toet apam di SMP YPPU Sigli. Selasa (23/2). Foto Humas Pemkab Pidie
Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud dan Kadisbudpar Aceh, Jamaluddin ikut hadir pada peringatan toet apam di SMP YPPU Sigli. Selasa (23/2). Foto Humas Pemkab Pidie

Apam adalah masakan tradisional Aceh yang terbuat dari adonan tepung. Setiap memasuki bulan Rajab atau peringatan Isra Mi’raj, masyarakat Aceh ramai-ramai memasak dan untuk disantap bersama. Dalam almanak, masyarakat Aceh saat memasuki bulan Rajab pada kalender Hijriah menyebutnya Buleuen Apam. Apam terbuat dari campuran tepung beras, santan, air kepala, air putih, garam dan gula pasir. Cara pembuatannya pun relatif sederhana. Tepung gandum atau beras dicampur dengan garam kemudian diaduk dalam keadaan kering. Kemudian dituangkan santan dan sedikit air putih serta diaduk merata hingga menjadi adonan cair. Adapun alat untuk memasak apam adalah ceureulop. Ceureulop merupakan pinggan yang terbuat dari tanah. Ceureulop disiapkan di atas tungku dengan api yang sudah siap menyala. Lebih bagusnya lagi, apam dimasak dengan menggunakan kayu bakar. Ketika ceureulop sudah panas, lalu dimasukkan sedikit garam yang diratakan menggunakan sabut kulit kelapa.

“Garam yang kita tuangkan ini gunanya supaya adonan apam tidak lengket di belanga tanah. Lalu dituangkan adonan ke belanga. Aduk sekitar lima menit, apam pun sudah siap disajikan,” kata Nurlina.

Advertisement

Siswa dan guru salah satu SD di kota Sigli ikut memasak apam. Foto : Tgk Zian Mustahil
Siswa dan guru salah satu SD di kota Sigli ikut memasak apam. Foto : Tgk Zian Mustahil

Setelah matang, kue apam lebih nikmat jika dikonsumsi dengan kuah tuha, yakni kuah santan kental yang dibubuhi nangka, pisang dan gula.  Sekilas dilihat, apam terlihat mirip kue serabi. Hanya aja, bentuknya lebih besar. Dari segi tekstur, kuah serta asap tipis yang menari-nari di atas tungku saat dimasak kian menggugah selera.

Sementara itu, Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud ketika dikonfirmasi AcehJurnal.com mengatakan, setiap bulan Rajab sudah menjadi kebiasaan masyarakat Aceh untuk merayakan kenduri apam. Tradisi yang dilaksanakan setahun sekali ini berlangsung sejak zaman Kesultanan Aceh Darussalam.

“Tradisi ini sudah berlangsung sejak era Kesultanan Aceh. Tradisi memasaknya juga dilakukan secara bergantian dari satu rumah ke rumah lain. Secara filosofisnya mengajarkan kita untuk saling berbagi,” kata Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud kepada AcehJurnal.com.

Pada festival ini, setiap panitia akan membatasi setiap pengunjung lantaran masih di tengah pandemi Covid-19. Saat prosesi toet apam, panitia tetap menerapkan prokotol kesehatan. Turut hadir Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin.

Suasana acara memasak apam. Foto Humas Pemkab Pidie
Suasana acara memasak apam. Foto Humas Pemkab Pidie

Bang Fadhlu-sapaan akrabnya menjelaskan, kenduri apam konon bermula dari seorang sufi bernama Abdullah Rajab. Semasa hidupnya, ulama asal Mekkah ini hidupnya sangat miskin dan sederhana. Saat ia meninggal dunia, sanak familinya tak mampu menggelar acara kenduri seperti lazimnya warga lainnya.

“Jadi warga desanya lantas berinisiatif untuk membantu keluarganya dengan memasak sedikit makanan untuk dibagi. Inilah yang menjadi inspirasi masyarakat Aceh sejak masa Kesultanan Aceh saban tahun ketika memasuki Bulan Rajab,” kata Fadhlullah TM Daud. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT