Sungai Tercemar Limbah, Warga Meureubo Mengadu Kepada Tarmizi SP

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Bertindak Asusila, Pekerja Terapis Dibekuk Polresta Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - MZ (22) terpaksa meringkuk sel tahanan Mapolsek Kuta Alam, Banda Aceh. Pria asal Bireuen ini dilaporkan atas kasus pelecehan...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Oleh: Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000'an dengan hadirnya...

MEULABOH | ACEHJURNAL.COM –  Warga Kecamatan Meureubo, Aceh Barat nengadu kepada Tarmizi SP, anggota DPRA terkait limbah batu bara yang mencemari desa mereka. Selama ini, warga desa setempat mengeluh tentang limbah batu bara PT Mifa Bersaudara mengalir ke sungai. Akibatnya, warga yang mendiami sepanjang sungai umumnya bermatapencaharian sebagai pencari ikan menjadi hilang. Belum lagi, sungai tersebut seringkali digunakan warga untuk kebutuhan mandi dan sumber irigasi pertanian.

“Bahkan sebelumnya, warga sempat mengalami gagal panen akibat limbah tersebut. Alhamdulillah saat itu, PT Mifa memberikan kompensasi untuk membayar ganti rugi kepada warga,” kata Tarmizi SP via telepon seluler, Minggu (23/8).

Selama reses itu, politisi Partai Aceh ini menjelaskan, selama ini warga setempat mengeluh jika ikan yang hidup di sungai semakin langka. Menurut pengakuan warga setempat bernama Husen, dirinya terpaksa berhenti mencari ikan lantaran sungainya tercemar limbah. Padahal, pekerjaannya sebagai pencari ikan di sungai telah digeluti dirinya puluhan tahun.

“Kalau pun ada satu atau dua lagi ikannya dan tidak mau makan umpan lagi. Makanya pak Husen ini terpaksa berhenti mencari ikan. Belum lagi kondisi kesehatannya sudah menurun,” tambah Tarmizi SP.

Tarmizi SP menjelaskan, sebelum tokoh masyarakat setempat sempat terkait pencemaran limbah di sungai mereka. Namun ketika dijelaskan tentang Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 113 Tahun 2003, Pergub dan Perbup. Masyarakat terpaksa diam karena tidak mampu adu argumen.

“Contohnya yang diuji adalah Residu Tersuspensi hanya 200mg/l, sedangkan yang menjadi tanggung perusahaan sesuai permen di atas kadar maksimum 400mg/l,” kata Tarmizi SP.

Sementara itu, warga juga berharap agar limbah pabrik PT Mifa Bersaudara tidak mencemarkan sungai mereka lagi. Karena tak lama lagi warga setempat akan bercocok tanam kembali. Sebelumnya, masyarakat juga memprotes tentang dana CSR yang selama ini diperuntukkan untuk kepentingan di luar Kabupaten Aceh Barat. Seharusnya, kata dia, fokus dulu terhadap nasib masyarakat di Aceh Barat, khususnya di Kecamatan Meureubo. Bahkan hingga saat ini, pembangunan masjid di gampong Reudeup kecamatan setempat juga belum selesai. Belum lagi soal lowongan pekerjaan bagi warga masyarakat setempat masih kurang dengan alasan tak memiliki keahlian. Bahkan untuk posisi sebagai supir saja, terpaksa didatangkan dari pulau Kalimantan.

“Dulu pernah gagal panen dan ada ganti rugi walaupun tidak sesuai. Harapannya ke depan tidak terjadi gagal panen lagi akibat air limbah dari PT Mifa. Bahkan dana CSR jika diperuntukkan untuk pembangunan masjid ini sudah selesai dari dulu,” kata Tarmizi SP lagi.

Tarmizi, SP mengaku, dirinya telah beberapa kali mengingatkan agar prusahaan tersebut untuk tidak memperkerjakan tenaga kerja dari luar daerah. Terkait syarat skill, katanya, sudah meminta Dinas Tenaga Kerja provinsi maupun kabupaten Aceh Barat untuk melatih mereka.

“Jika nanti ada peluang saya akan anggarkan anggaran untuk pelatihan operator excavator, sopir truck 30 ton, dan tenaga kerja lainnya yang dibutuhkan oleh perusahaan perusahaan yang ada di dapil 10,” kata Tarmizi SP.

Terkait limbah harus dipastikan dulu dengan uji laboratorium apakah benar dari limbah batu bara atau bukan. Untuk memastikan hal tersebut, ia akan mengajak dinas terkait, aktivis pemerhati lingkungan seperti WALHI, Unsyiah dan lembaga lainnya yang berkompenten.

“Termasuk kita pelajari lagi amdal. Harapannya ke depan kalaupun tidak ada lapangan kerja baru untuk masyarakat, jangan sampai pekerjaan yang sudah dicari sendiri selama puluhan tahun hilang gara-gara pencemaran lingkungan,” pungkasnya.[parlementaria]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Hot Topics

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Related Articles

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...