Sosok Perempuan Penggerak Literasi di Abdya  

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Bertindak Asusila, Pekerja Terapis Dibekuk Polresta Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - MZ (22) terpaksa meringkuk sel tahanan Mapolsek Kuta Alam, Banda Aceh. Pria asal Bireuen ini dilaporkan atas kasus pelecehan...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Oleh: Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000'an dengan hadirnya...

Oleh : Muhajir Al-Fairusy

Pagi-pagi sekali, seorang gadis  berusia 27 tahun, tampak sibuk mengepak lusinan buku dalam kardus. Lalu, dinaikkan dalam sebuah becak berwarna biru yang telah disulap sebagai kendaraan perpustakaan keliling. Di dinding becak yang hampir menyerupai penjaja cendol tersebut tertulis “Sigupai Membaco.” Nita Juniarti, putri kelahiran Aceh Barat Daya, lulusan Sejarah dan Kebudayaan Islam di Fakultas Adab UIN Ar-Raniry, sudah dua tahun lebih mendedikasikan pengabdiannya pada dunia literasi. Setiap Minggu ia rajin dan disiplin menggelar buku dan bacaan lainnya di beberapa ruang terbuka Kabupaten Aceh Barat Daya, mengajak para pelintas dan pengunjung sekedar singgah sejenak membaca buku.

Sigupai Membaco adalah sebuah gerakan kecil yang diinisiasi oleh NJ untuk menyadarkan masyarakat kampungnya, betapa membaca adalah keniscayaan di masa lalu, era sekarang dan masa yang akan datang. Ia terinspirasi betul kata-kata Hatta, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku Bebas.” Wajar, warisan Hatta ikut tertinggal di kawasan Aceh Selatan yang masih kawasan kampung NJ, di mana sebuah saung gagah berdiri di atas tebing yang membentang jalan lintas dan dikenang sebagai Jambo Hatta, tempat wakil Presiden RI pertama ini sempat singgah.

Gerakan mengajak masyarakat membaca di ruang terbuka, memang sudah dimulai sejak lama. Apalagi, tatkala Perpustakaan Keliling yang dipopulerkan oleh Badan Arsip dan Perpustakaan sering berkeliling antar-sekolah dulunya. Di mana, keberadaan mobil van yang dicat warna putih, begitu pintunya dibuka tampak rak pustaka terpampang dengan ratusan buku. Gerakan ini, berhasil menarik minat baca para siswa, termasuk mereka yang amat jarang berkunjung ke pustaka. Walau sekedar datang menghampiri ke badan Van, lalu memilih beberapa buku cerita bergambar, gerakan mengajak publik membaca ini tergolong berhasil menarik minat baca. Demikian pula yang dilakukan NJ, ia hanya ingin masyarakat singgah sebentar, meskipun sekedar melihat sampul buku, lalu hanya membuka halaman utama, dan menutupnya lagi. Tampaknya, ada kepuasan tersendiri bagi penggerak literasi seperti NJ, saat melihat ada masyarakat yang mau singgah dan meluangkan waktunya untuk membaca.

Dari cerita Nita, Sigupai Membaco berdiri pada tanggal 7 Januari 2018. Awalnya ia hanya menggunakan sepeda motor sendiri seperti seorang tukang pos mengantar surat, ia membonceng buku di belakangnya. Aktivitas ini pertama sekali lapaknya digelar di Bukit Hijau depan kantor bupati Aceh Barat Daya. Kemudian ia bergerak ke Dermaga Susoh. Baru pada akhir tahun 2018, saat sekolah libur, ia mulai membuka di rumah. Saban Ramadhan, Nj juga mulai menggalakkan beberapa kegiatan, seperti menggelar lomba bercerita, menggambar. Selanjutnya, kegiatan berlanjut pada istilah “Minggu inspirasi” sekaligus mengajak relawan untuk membantu. Adakalanya, NJ tak segan berkeliling kampung, seperti masuk ke pemukiman di kawasan Babahlueng, Pasie Manggeng, dan beberapa kawasan lainnya, termasuk pada tempat private yang ditengarai banyak peminat membaca buku.

NJ sendiri memiliki segudang pengalaman, ia pernah terpilih sebagai Pengajar Muda Indonesia, dan ditempatkan di Desa Baya dan Banggai Sulawesi Tengah. Di sana ia melihat langsung seorang guru yang disebutnya menjadi inspirator bagi kerja literasi yang kini digelutinya.  Seorang guru SMP yang mewakafkan rumahnya menjadi rumah belajar sekaligus pustaka yang bisa diakses oleh siapa saja, terutama bagi anak-anak di Desa Baya. Di Banggai, NJ juga melihat sekelompok pemuda yang menggerakkan Minggu membaca. Tak hanya itu, NJ juga pernah terlibat pada kegiatan Pustaka Ransel yang menggotong ratusan buku dengan tas ransel untuk dibawa menyeberangi ke Pulau Aceh. Melihat antusiasme anak-anak mengakses buku, hati NJ terbuka, ia membatin mengapa tak mencoba gerakan ini di kampung halamannya, Aceh Barat Daya.

Bagi NJ, para sarjana harus bergerak, membantu siapapun dan di mana saja. NJ juga seperti ingin menghapus stigma selama ini, jika sarjana mentok dan melulu harus menjadi PNS baru dianggap bekerja dan bergerak. Kini, NJ disela kesibukannya sebagai seorang Penggerak Literasi di kampung halamannya, ia juga sedang bekerja di sebuah perusahaan di Jawa Timur. Selama NJ tidak di kampungnya, Sigupai Membaco tak lantas ikut bersamanya ke Pulau Jawa, ada keluarganya dan beberapa relawan yang meneruskan kerja kebudayaan ini. Bagi NJ, dunia terus berputar, usia semakin melaju, maka harus ada kearifan yang diwarisi ke generasi berikutnya. Dalam wawancara terbatas via Whatsapp pada saya, NJ mengirim puisi WS. Rendra yang kerap dibaca dan dihayatinya dalam-dalam, dan itu selalu dijadikan langkah membangun tidur para sarjana untuk bergerak

“…Apa gunanya panutan tinggi. Bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang ibukota, dan kikuk pulah ke daerahnya. Apa guna belajar filsafat, sastra, teknologi, atau apa saja. Bila pulang ke daerahnya lalu berkata “Aku di sini, merasa asing dan sepi.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Hot Topics

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Related Articles

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...