Saat Pendapatan Nelayan Berkurang Karena Angin Kencang

Banda Aceh | AcehJurnal.com – Bagi nelayan, mencari ikan di laut sangat bergantung pada cuaca. Jika cuacanya mendukung, saban hari para nelayan berangkat melaut. Kecuali hari Jum’at atau hari-hari pantangan melaut.

Jika cuaca buruk seperti musim angin timur saat ini, sebagian dari mereka tidak berani melaut. Kalaupun ada, hanya hitungan jari saja. Hasil tangkapannya juga relatif sedikit. Salah satu yang dirasakan Muhtar (45), nelayan asal Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala kota Banda Aceh.

Saat cuaca buruk, perahu nelayan dibiarkan bersandar di pinggiran pantai. Foto Taufik Ar Rifai
Saat cuaca buruk, perahu nelayan dibiarkan bersandar di pinggiran pantai. Foto Taufik Ar Rifai

Bahkan, sebagian nelayan juga masih memilih nekat melaut. itupun terpaksa dilakukan demi menghidupi keluarga. Hanya saja, jangkauan melaut tidak jauh.

Pagi itu, angin bertiup pelan. Suara deburan ombak keras menghantam batu karang. Batu yang ditata rapi ini terpasang di bibir pantai untuk mencegah abrasi. Kendati demikian, tak jarang ombak berwarna putih kecoklatan itu memuntahkan buihnya hingga tumpah ke jalanan.

“Kalau cuaca seperti ini, mana berani kita melaut. Paling kalau kita pergi, hanya sebentar aja waktu Subuh hingga jam 09.00 WIB. Ikan yang kita dapat juga sangat sedikit sehingga harga ikan di pasar agak mahal,” kata Muhtar kepada AcehJurnal.com, Minggu (21/2).

Nelayan sedang merapatkan perahunya usai melaut di pantai Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala. Foto Taufik Ar Rifai
Nelayan sedang merapatkan perahunya usai melaut di pantai Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala. Foto Taufik Ar Rifai

Saat cuaca buruk seperti saat ini, ayah tiga anak ini lebih memilih untuk memperbaiki alat tangkap ikan. Bersama dua rekannya, lelaki berkulit sawo matang ini mengaku sudah sepekan tidak melaut.

Nelayan sedang memperbaiki jaring ikan di pantai Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh. Foto Taufik Ar Rifai

Advertisement

Nelayan sedang memperbaiki jaring ikan di pantai Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh. Foto Taufik Ar Rifai

Tak hanya di pantai Alue Naga, ratusan perahu nelayan bersandar di pinggir laut di TPI Lampulo. Perahu-perahu nelayan itu sengaja dibiarkan mengikuti alunan ombak yang datang silih berganti.

Nelayan sedang menjual ikan di pinggiran pantai Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh. Foto Taufik Ar Rifai
Nelayan sedang menjual ikan di pinggiran pantai Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh. Foto Taufik Ar Rifai

“Ya mesti sabar dulu tunggu cuacanya normal seperti biasa. Kalaupun melaut, waktunya diperpendek dan tidak boleh melaut lebih jauh sebab cuacanya sangat tidak bersahabat,” ujarnya lagi.

Hal senada juga disampaikan Bukhari (52), nelayan asal Gampong Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Menurutnya, kondisi seperti ini membuat tingkat ketergantungan mereka kepada alam sangat tinggi. Pasalnya, ada masa dimana mereka harus berhenti melaut disebabkan angin kencang dan gelombang tinggi. Padahal, para nelayan harus berusaha agar asap dapur mereka tetap mengepul.

“Yang jadi persoalannya apabila kondisi ini terjadi terus menerus dalam tempo lama,” kata Bukhari sembari memperbaiki jaring ikan. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT