Refleksi 15 Tahun Aceh Damai, Safaruddin Minta Pemerintah Pusat Permanenkan Otsus

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Bertindak Asusila, Pekerja Terapis Dibekuk Polresta Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - MZ (22) terpaksa meringkuk sel tahanan Mapolsek Kuta Alam, Banda Aceh. Pria asal Bireuen ini dilaporkan atas kasus pelecehan...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Oleh: Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000'an dengan hadirnya...

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM –  “Sebagai rakyat Aceh, perjuangan kita ke depan adalah bagaimana mengadvokasi agar dana otsus di Aceh dapat dipermanenkan”, kata Wakil Ketua DPR Aceh, Safaruddin pada Jumat (15/8).

Penggalan itu disampaikan Safaruddin mengawali obrolan awal terkait momentum perdamaian Aceh ke-15. Menurutnya, momentum Aceh damai seharusnya menjadi sebuah refleksi semua masyarakat Aceh untuk membangun perabadannya menjadi lebih baik. Salah satunya adalah kembali berbenah demi mengejar ketertigalan dari fase konflik dan tsunami.

Untuk mewujudkannya itu, politisi muda Gerindra ini meminta Pemerintah Pusat agar mengucurkan Dana Otonomi Khusus (DOKA) menjadi permanen. Sehingga dapat memberi kesejahteraan secara merata bagi seluruh rakyat Aceh. Menurutnya, dana otsus akan berakhir pada tahun 2027 mendatang.

“Maka dari itu, seluruh pihak, mulai stakeholder maupun Pemerintah Aceh untuk kembali mengadvokasi agar DOKA bisa diperpanjang, bahkan dipermanenkan. Ini adalah bagian dari estafet perjuangan kita secara politik,” kata Safaruddin.

Safaruddin menjelaskan, usai ditekennya nota kesepahaman antara Pemerintah RI dan GAM yang termaktub dalam MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 lalu, Aceh telah menerima kucuran DOKA setiap tahunnya. Tujuannya untuk dapat mengejar ketertinggalan pembangunan.  Sebagai provinsi yang mendapat dana otsus sejak 2006 lalu, Bumi Serambi Mekkah akan mendapat dana selama 20 tahun. Selanjutnya Pemerintah pusat mengesahkan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA).

“Aceh pertama kali menerima dana otsus tahun 2008 lalu. Totalnya diperkirakan sebesar Rp 170 Triliun yang berakhir pada 2027 nanti. Hingga saat ini, Aceh telah menerima DOKA sekitar Rp 73 Triliun. Harapan kita ke depan, alokasi dana itu tidak akan berakhir jangka waktu tujuh tahun lagi,” tambah Safaruddin.

Selama ini, katanya lagi, anggaran yang dipergunakan selama ini masih belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Aceh secara menyeluruh. Ini ditandainya masih minimnya capaian pembangunan yang sesuai harapan rakyat Aceh, sehingga perlu ditinjau ulang.  Ia berharap agar Pemerintah Aceh selaku eksekutif seharusnya dapat mengevaluasi sejauh mana Aceh sudah dibangun dengan konsep kemajuan. Salah satunya mencari solusi alternatif demi mengejar segala ketertinggalan, baik soal pemerataan pembangunan dan lain-lain sebagainya.

“Begitu juga selama ini perlu dievaluasi sejauh mana DOKA itu bisa dirasakan manfaatnya oleh korban konflik, kombatan GAM dan anak syuhada. Ini yang harus diprioritaskan karena mereka adalah pelaku sejarah. Jangan lagi muncul embrio-ombrio konflik baru ke depan. Mari kita bicarakan soal kedaulatan Aceh dalam bingkai NKRI, kewenangan konsitusional yang dimiliki rakyat Aceh melalui UUPA agar dirasakan manfaatnya secara utuh,” pungkasnya. [Parlementaria]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Hot Topics

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Related Articles

Belajar dari Fenomena Karoshi; Apa yang Kita Cari dari Kehidupan?

Oleh: Ihsan Sulis* Di negara Jepang ada sebuah fenomena yang dikenal dengan nama Karoshi, yaitu fenomena kematian karena over-work (kelelahan bekerja), beberapa orang di negara...

UMKM Terdampak Pandemi, Erick Thohir Carikan Jalan Keluar

JAKARTA | ACEHJURNAL.COM Sebagian besar UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) terdampak pandemi Covid-19 terutama UMKM yang bergerak di sektor pariwisata yang mengandalkan kedatangan turis...

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...