Ramadhan dan Tradisi Menghitung Usia

Oleh : Muhajir Al-Fairusy

Jika diamati dalam setiap dialog masyarakat Aceh, mereka akan menempatkan garis waktu pada peristiwa-peristiwa tertentu sebagai pengingat, misalnya peristiwa politik perang; masa (Aceh ; jameun) Belanda, Jepang, DI/TII dan konflik GAM. Selanjutnya, peristiwa bencana tsunami yang lebih luas dan umum digunakan untuk memberi batasan waktu dengan pertanyaan batas sebelum atau setelah tsunami. Peristiwa-peristiwa tersebut telah menjadi patokan waktu bagi masyarakat Aceh. Misalnya, untuk menyebut masa agak usang, mereka jarang menggunakan periode masa Kerajaan, melainkan era kolonial (Aceh ; jameun Belanda atau jameun Jepang) hampir-hampir tak pernah terdengar “jameun Kerajaan,” karena memang ingatan masyarakat Aceh terputus dan dihadang untuk melihat peristiwa lebih jelas sebelum Belanda datang, kecuali narasi sejarah dalam teks.

Selain tolak ukur periode tersebut, masyarakat Aceh juga menggunakan momentum peristiwa lain sebagai batasan hidup untuk mengukur kesempatan hidup. Diantaranya kehadiran ramadhan sebagai peristiwa agama yang datang saban tahun. Ramadhan dimaknai sakral dalam masyarakat Aceh yang hadir setahun sekali. Selain warung makan yang ditutup pada siang hari, hampir tidak ada manusia yang berani makan di tempat umum selama puasa berlangsung di Aceh. Jikapun ada yang tidak berpuasa, biasanya akan memilih mengumpet di tempat tersembunyi agar tidak ketahuan oleh pihak lain. Demikian, kesakralan ramadhan di Aceh, bandingkan dengan di Pulau Jawa misalnya, di mana ramadhan berlangsung dalam kondisi biasa sebagaimana bulan-bulan lainnya.

Tidak hanya itu, ramadhan mendorong banyak Muslim untuk berbagi dan muncul sikap peduli secara antrhoposentris, kesalehan (baca: kebaikan) berbasis kemanusiaan secara spontan terbentuk. Orang dengan mudahnya berbagi. Jika di luar ramadhan, shalat wajib sulit dilakukan di Mesjid, di bulan ramadhan, ritual shalat sunat menjadi “wajib” dan dilakukan dengan mudah setiap malam. Ada harapan-harapan yang dipicu seiring ramadhan menjelang.

Di sisi lain, p

Advertisement

enting menyimak bagaimana puasa dimaknai sebagai waktu perjalanan hidup oleh masyarakat Aceh. Bagaimanapun, ramadhan telah lama dijadikan ukuran pergantian tahun untuk kehidupan seorang manusia. Di beberapa mesjid yang dihadiri oleh puluhan hingga ratusan jamaah, penceramah kerap mengurai orang-orang yang masih hidup dan telah pergi (wafat) setiap ramadhan berganti dan datang. Tak lupa, penceramah mengingatkan jamaah kemungkinan-kemungkinan absen di ramahdan tahun depan karena usia yang amat misteri. Orang Aceh kerap memprediksi dengan penuh kekhawatiran apakah akan bertemu dengan puasa tahun berikutnya. Ramadhan dijadikan momentum pertemuan dan perpisahan atas usia dan kehidupan. Apalagi, beberapa doa yang dibalut dengan syair lokal kerap meminta diri wafat di bulan ramadhan. Masyarakat Aceh memandang, jika mereka dapat wafat di bulan ramadhan, mereka akan mengakhiri hidup dalam keadaan lebih baik dari sisi agama.

Maka, dalam beberapa syair lokal Aceh, kerap disenandungkan lewat bait dengan penuh harap agar mereka dapat wafat di malam Jumat bulan ramadhan. Siapa saja wafat tepat pada malam Jumat bulan ramadhan dipandang sebagai manusia yang bernasib paling baik menghadap Tuhan. Paling penting, wafat di bulan Ramadhan dapat dikatakan sebagai mati terhormat dalam pandangan tradisi keagamaan di Aceh. Demikianlah pemaknaan konsep kematian dalam masyarakat Aceh dalam rangka mengejar “kematian yang berkualitas dan baik” secara agama.

Ramadhan akan segera berakhir, banyak Muslim termasuk di Aceh harap cemas menanti kesempatan dapat menikmati lagi suasana ramadhan di tahun akan datang. Pun demikian, usia manusia merupakan misteri. Tak ada teknologi yang mampu memprediksi usia hidup, hanya ada kiat sehat yang diharap mampu memperpanjang usia, tapi kematian tak dapat diprediksi kapan menjelang. Ramadhan adalah garis ukur kehidupan, teka-teki mengenai kesempatan bertemu dan tidaknya lagi dengan bulan paling sakral dalam Islam ini. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT