Meluruskan Sesat Pikir Penentang Qanun LKS di Aceh (Bag. 1)

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Bertindak Asusila, Pekerja Terapis Dibekuk Polresta Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - MZ (22) terpaksa meringkuk sel tahanan Mapolsek Kuta Alam, Banda Aceh. Pria asal Bireuen ini dilaporkan atas kasus pelecehan...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Oleh: Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000'an dengan hadirnya...

Selundupkan Sabu Dalam Sandal, 2 Mahasiswi Aceh Ditangkap

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - Dua mahasiswi asal Kabupaten Bireuen dibekuk Tim Satresnarkoba Polresta Banda Aceh. Kedua mahasiswi tersebut, yakni berinisial NH (23) dan...

Kepala BI Aceh: Tidak Ada Pemindahan Dana Perbankan ke Luar Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM Kepala Bank Indonesia cabang Aceh Zainal Arifin Lubis menyatakan paska disahkannya Qanun LKS hingga kini tidak ada pemindahan dana yang...

Oleh: Teguh Murtazam*

Sebulan terakhir ini, atmosfir Aceh kembali terguncang dengan munculnya statement dari beberapa pihak yang hendak menggugat sebuah produk hukum yang telah disahkan oleh Pemerintahan Aceh yaitu Qanun No. 11 Tahun 2018 tentang lembaga keuangan syariah.

Sejauh observasi penulis ada tiga pihak yang secara verbal, vulgar, yakin, dan sadar mengutarakan keberatannya terhadap Qanun Aceh ini. Pertama adalah YARA melalui ketuanya Safaruruddin yang mendesak Pemerintah Aceh dan DPRA untuk mengevaluasi pasal 65 dan 66 Qanun LKS tersebut.

Selain itu keluhan juga muncul dari ketua KADIN Aceh, Makmur Budiman yang meminta kepada pihak terkait agar di Aceh diterapkan dua model perbankan yakni Sistem Perbankan Syariah dan Konvensional dengan alasan sebagai upaya untuk kebankitan ekonomi lebih cepat, ekspansif, ada potensi high cost dan keterbatasan Bank Syariah.

Terakhir adalah keberatan yang disampaikan oleh Rustam Efendi, Ekonom Universitas Syiah Kuala yang menyebut bahwa waktu 3 tahun terlalu singkat untuk proses transisi semua bank di Aceh mengganti sistemnya menjadi sistem perbankan Syariah. Selain dari tiga pihak ini sebenarnya ada beberapa pihak lain yang turut menggugat isu ini namun penulis menilai implikasi kerusakan yang ditumbulkan lebih kecil dibandingkan dengan ketiga pihak yang penulis sebut di atas.

Oleh sebab itu dengan segala hormat penulis harus mengatakan bahwa yang diungkapkan oleh mereka adalah salah, sesat, dan menyesatkan. Serta perlu diluruskan sehingga masyarakat awan tidak ragu, apalagi sampai terpengaruh dengan argumentasi semacam itu.

Tulisan ini dibuat dalam beberapa bagian dengan tujuan untuk meluruskan sesat pikir pihak-pihak tersebut diatas, sekaligus sebagai materi sosialisasi bagi masyarakat yang penulis susun dari beberapa sudut pandang agar masyarakat semakin yakin pada Bank Syariah, bahkan semua Lembaga Keuangan Syariah yang diatur secara implisit dalam Qanun No. 11 Tahun 2018. Sebab jika tidak diluruskan akan menimbulkan rusaknya nama Aceh, sesatnya masyarakat, hancurnya ekonomi, bahkan kehidupan akhirat masyarakat Aceh dipertaruhkan dengan argumen-argumen sumbang pihak-pihak tersebut.

Bank Konvensional Haram dalam Islam dan Ancaman Hukumannya Sangat Berat

Salah satu argumen penting yang harus dipahami semua masyarakat Muslim untuk memulai ulasan ini adalah sudah maklum dalam masyarakat Muslim dunia (terpelajar maupun awam) bahwa bank konvensional mengandung riba. Disamping diduga kuat mengandung unsur-unsur keharaman lain seperti gharar, maisir, serta meletakkan uangnya pada objek investasi yang core business-nya memproduksi barang atau menyediakan jasa yang diharamkan dalam syariat.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam perang para pelaku riba, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 279 yang artinya:
“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

Jika diperangi negara adidaya semacam Amerika dan sekutunya saja kita khawatir dan takut konon lagi diperangi Allah Rabbul ‘Alamin (Pemilik alam semesta). Maka tidak ada yang tersisa kecuali kehancuran kehidupan dunia apalagi akhirat.

Bahkan Ibnu Abbas, yang dikenal dengan turjuman al-Qur’an (penafsir al-Qur’an) dan raisul mufassirin (pemimpin para ahli tafsir), serta orang yang pernah didoakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan doa “Allahumma faqqihhu fiddin wa ‘alimhu ta’wil, ya Allah! pahamkan Ia Agama Islam dan tafsir”, mengecam dengan sangat keras pelaku riba ketika menafsirkan ayat tersebut dengan kalimat jika ada yang tidak mau berhenti memakan riba, maka pemimpin diantara kaum Muslimin di daerah tersebut wajib memintanya untuk bertaubat, jika tidak mau meninggalkan, maka dipenggal lehernya (baca: diberikan hukuman yang berat oleh pemerintah setempat).

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengancam akan membumihanguskan usaha yang dibangun diatas riba di dunia. Dalam surat al-Baqarah ayat 276 disebutkan:
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”

Semua usaha yang dibangun dengan riba cepat atau lambat pasti akan Allah hancurkan. Sebab esensi dari riba adalah menzalimi dan merebut hak orang lain. Dengan ayat ini Allah juga mengguncang logika para agen kapitalis yang menganggap dengan riba bisa menumbuhkan ekonomi. Dalam ayat ini disebut sebaliknya, usaha dengan riba pasti akan hancur cepat atau lambat adapun orang-orang yang bershadaqah akan Allah kembangkan hartanya baik yang disedekahkan (yang diberikan ke orang lain) maupun harta yang tinggal padanya. Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam tafsirnya, Tafsir As-Sa’di etika menafsirkan ayat ini.

Allah juga mengancam para pelaku riba ini dengan penyakit gila, sebagaimana Allah jelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 275:
“Orang-orang yang memakan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila. Hal itu karena mereka mengatakan, bahwasanya jual beli itu adalah seperti riba. Dan Allah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba. Maka barangsiapa yang telah datang padanya peringatan dari Allah SWT kemudian ia berhenti dari memakan riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu dan urusannya terserah kepada Allah. Namun barang siapa yang kembali memakan riba, maka bagi mereka adalah azab neraka dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

Mayoritas uama tafsir menyebut yang dimaksud dengan pemakan riba tidak bisa berdiri sebaagaimana berdirinya orang yang kerasukan syaithan adalah bangkitnya para pemakan riba dari kuburnya nanti pada hari kebangkitan dalam keadaan kebingungan sebagaimana orang yang kerasukan syaithan disebabkan mereka mengatakan bahwa jual beli dan riba adalah sama. Sehingga kemudian mereka memperbolehkan riba. Padahal Allah sudah menggariskan bahwa jual beli dan riba adalah berbeda. Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Selain itu fakta yang kita lihat selama ini juga menunjukkan sepertinya “gila” yang dimaksud dalam ayat tersebut tidak hanya berlaku di akhirat namun juga terlihat didunia. Sebab riba telah lama menjadi punca ketidak stabilan ekonomi sehingga untuk mempertahankan hidup manusia berusaha dengan berbagai macam cara untuk bisa mendapatkan uang agar dapat melanjutkan hidupnya. Penjelasan mendetail implikasi riba dari sudut pandang ekonomi akan dibahas tersendiri dalam bagian selanjutnya dari tulisan ini.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga mengambarkan betapa beratnya siksa para pelaku riba nanti di akhirat, sebagaimana sabda beliau dalam riwayat Ibnu Majah:
“Aku telah didatangkan pada saat malam isro kepada suatu kaum yang perut mereka seperti rumah, di dalamnya ada ular-ular yang terlihat keluar dari perut-perut mereka. Maka aku bertanya, siapa gerangan mereka itu wahai Jibril ?, maka dia menjawab “mereka itu adalah pemakan riba”

Dalam hadist lain, Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Riba itu ada 73 pintu” tambahan dalam riwayat al-Hakim “yang paling ringan adalah seperti menikahi ibunya sendiri dan sejahat-jahatnya adalah mengganggu kehormatan seorang Muslim”

Dalam riwayat Ahmad, Daruquthni, dan Thabrani. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
“Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang dan ia mengetahuinya, maka hal itu lebih berat dari pada tiga puluh enam perzinaan.”

Lebih jauh lagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa memakan riba sama dengan mengundang azab Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam riwayat Ibnu Majah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Tidaklah suatu kaum menampakkan riba dan zina, melainkan mereka menghalalkan terhadap diri mereka sendiri azab dari Allah”

Melihat begitu besar dosa dan ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap pelaku riba, wajarkah kemudian jika ada seseorang atau sekelompok orang menghalang-halangi atau minimal meminta menunda agar perbankan konvensional yang didalamnya berisi riba tidak diganti dengan perbankan Syariah? Sudah siapkah kita menanggung dosa-dosa tersebut? ditambah dengan dosa-dosa orang yang kita sesatkan dengan argumentasi-argumentasi seolah-olah persoalan bank konvensional dan syariah ini hanya persoalan ekonomi sehingga bisa saja ditunda atau menyediakan ruang bank konvensional beroperasi di Aceh? Sementara Allah sudah memberi kesempatan pada kita untuk mengubahnya menjadi sistem perbankan syariah secara penuh (full fladged Islamic Banking System). Padahal sungguh mati bisa datang kapan saja, tanpa bisa ditunda.

Sebelum menutup bagian satu tulisan ini, saya ingin mengingatkan kita semua dengan beberapa ayat al-Qur’an yang saya yakin sudah sering diulang-ulang, namun saya tulis kembali sebagai pengingat kita semua bahwa sebagai seorang Muslim, pilihan Allah pasti yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat kita semua.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab : 36)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.“ (Al Hasyr :7)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya“ (An Nisaa’:65)

Semoga Allah memberkahi kita semua, dan mengizinkan kita bertaubat sebelum maut menjemput kita.

* Alumni Hukum Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Saat ini sedang menyelesaikan Magister Ekonomi Syariah di Pascasarjana Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Hot Topics

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Bertindak Asusila, Pekerja Terapis Dibekuk Polresta Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - MZ (22) terpaksa meringkuk sel tahanan Mapolsek Kuta Alam, Banda Aceh. Pria asal Bireuen ini dilaporkan atas kasus pelecehan...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Oleh: Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000'an dengan hadirnya...

Related Articles

Kisah Sukses Pertanian di Thailand (I)

Selama 50 tahun terakhir, Thailand telah berkembang dari negara berpenghasilan rendah yang hanya menghasilkan komoditas kebutuhan dasar, naik ke taraf ekonomi tingkat menengah dan...

Bertindak Asusila, Pekerja Terapis Dibekuk Polresta Banda Aceh

BANDA ACEH | ACEHJURNAL.COM - MZ (22) terpaksa meringkuk sel tahanan Mapolsek Kuta Alam, Banda Aceh. Pria asal Bireuen ini dilaporkan atas kasus pelecehan...

Air Asia, Kolapsnya Industri Penerbangan dan Masa Depan Pariwisata Paska Pandemi

Oleh: Jabal Ali Husin Sab* Sektor industri yang paling berdampak dari pandemi covid-19 adalah industri penerbangan. Industri penerbangan mengalami revolusi besar sejak 2000'an dengan hadirnya...