Kisah Warga Aceh Jalani Ibadah Puasa 20 Jam di Denmark

Kompenhagen | AcehJurnal.com – Ada tantangan tersendiri bagi warga Aceh yang menjalani ibadah Ramadhan di luar negeri. Selain masalah perbedaan budaya, durasi berpuasa juga lebih lama dari biasanya juga kerap terjadi.

Mungkin sedikit lebih mudah bagi perantau Aceh saat menjalani ibadah puasa di negara-negara kawasan Timur Tengah yang mayoritas beragama Islam. Namun berbeda halnya jika menjalani ibadah puasa di Benua Eropa. Maka tak heran, aktifitas dan keseharian warga yang terbiasa dengan makan minum kerap dijumpai disana.

Pengalaman ini dirasakan Tarmizi Busu, warga Aceh yang kini bermukim di Denmark. Belum lagi di tengah pandemi Covid-19, pelaksanaan ibadah selama bulan suci Ramadhan di Negeri Skandinavia ini juga dibatasi.

“Kali nyoe, beudoh saho poh 03.49, buka puasa poh 20.25. Sigoe peukan teuk ka 20 jeum (kali ini, bangun sahur pukul 03.49, buka puasa pukul 20.25. Sepekan lagi menjadi 20 jam),” kata Tarmizi Busu kepada AcehJurnal.com via Whatsapp, Senin (19/4/2021).

Pria asal Kabupaten Pidie ini menceritakan bagaimana suka-dukanya menjalani ibadah puasa di benua Eropa. Cobaan pertama yang harus dijalani adalah berpuasa selama 19 jam hingga 20 jam setiap harinya. Ini dikarenakan Ramadhan tahun ini jatuh pada musim panas. Saat musim panas, durasi siang terasa panjang. Sebaliknya, waktu malam juga sangat singkat. Pasalnya, matahari mulai terbit pada pukul 02.36 dan terbenam sekitar pukul 22.15.

Kendati durasi berpuasa lebih lama, tak menyurut langkah warga Muslim disana untuk melaksanakan ibadah di Bulan Suci Ramadhan. Tarmizi mengaku, ia beruntuk memiliki rekan-rekan dan masyarakat setempat yang menghargai umat Muslim berpuasa. Selain itu, tidak adanya tekanan dari otoritas setempat terkait aktifitas keagamaan. Ini dikarenakan Pemerintah Denmark memberikan kebebasan bagi warganya untuk menjalani ritual keagamaan menurut keyakinannya masing-masing.

“Kalau di Aceh, mulai dari berbuka, shalat tarawih, sampai sahur kita merasakan bagaimana indahnya. Yang jelas di Denmark gak seindah di Aceh,” tambahnya.

Untuk mengatasi kerinduan suasana Ramadan di Aceh, warga Aceh yang ada di Denmark juga mengadakan buka puasa bersama. Namun, katanya, tidak semua warga Aceh bisa mengikuti acara tersebut karena terbatasnya waktu selama Ramadan.

Sementara pada bulan-bulan biasa lainnya, katanya, warga Aceh di Denmark sering melakukan kegiatan bersama, seperti mengadakan pengajian dan juga perayaan maulid Nabi Muhammad SAW.

Kendati demikian, Tarmizi juga mengaku tetap merindukan suasana Ramadan di Aceh, khususnya momen berkumpul dengan keluarga. Dia juga merindukan suasana Ramadan yang meriah di Aceh, dimana banyak masyarakat yang menjajakan jajanan berbuka di pinggir jalan. Ia merindukan makanan Aceh yang sering dijual pada bulan Ramadan, seperti Leumang, Mie Caluk, dan sambal Oen Peugaga.

“Salat tarawih ,sahur bersama keluarga dan yang tidak terlupakan suasana sore saat sebelum berbuka, di Acehkan ramai orang jualan di pinggir jalan,” tambahnya.

Tarmizi Busu adalah salah satu dari ratusan warga Aceh yang kini bermukim di Denmark sejak 2003 lalu. Ia tiba disana sebagai pencari suaka politik saat konflik Aceh berkecamuk. Usai perjanjian damai MoU Helsinki diteken, sebagian warga Aceh memilih kembali ke kampung halamannya masing-masing. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img

HEADLINES

BERITA TERKAIT