Aceh Besar | AcehJurnal.com – Hari sudah sore, Minggu (8/9/2021). Terik matahari masih menyinari ujung pesisir Aceh, menemani aktifitas warga di Gampong Klieng Cot Paya, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.
Desa kecil yang pernah hancur akibat tersapu gelombang tsunami ini, berdiri sejumlah bangunan bilik kayu tempatan salah satu bahan bangunan, yakni batu bata merah. Di dalam bilik kayu tersebut, ribuan batu bata merah tersusun rapi menyerupai bangunan candi. Di balik susunan batu bata merah, sejumlah perempuan sedang mengangkut segumpal tanah berwarna cokelat. Gumpalan tanah itu diambil di lokasi galian depan bilik.
Setelah gumpalan tanah tersebut diambil, mereka dengan cekatan lantas memisahkan tanah itu dari batu kerikil, sebelum dilakukannya pencetakan secara tradisional menggunakan cetakan berbahan logam berukuran 10 x 20 sentimeter.

Perlu diketahui, hampir sebagian besar lokasi tempat percetakan batu bata merah tersebar di Kabupaten Aceh Besar. Profesi ini sebagian besar digeluti oleh kaum ibu dan bahkan mereka telah menekuni pengrajin batu bata merah sejak masih gadis hingga berkeluarga.
Salah satunya Juraida (28). Profesi sebagai pengrajin batu bata ini terpaksa digelutinya demi menghidupi keluarganya. Sejak berpisah dengan suaminya, ia menjadi tulang punggung anak semata wayangnya yang masih berusia tiga tahun. Setiap hari saat matahari dari ufuk timur mulai meninggi kira-kira pukul 07.00 WIB, perempuan asal Aceh Timur ini sudah siap berangkat ke lokasi pembuatan batu bata merah.




